Connect with us

Locafest.co.id

[Review] Drama Special: Boukyaku No Sachiko (2018)

Boukyaku no Sachiko

[Review] Drama Special: Boukyaku No Sachiko (2018)

Boukyaku no Sachiko atau A Meal Makes Her Forget ialah sebuah drama special yang tayang sebanyak 1 episode pada 2 Januari 2018 kemudian di stasiun TV Tokyo. Ini ialah sebuah drama tahun gres yang dibintangi oleh Takahata Mitsuki (Kahogo no Kahoko, Toto Nee-chan, Evergreen Love). Drama ini diangkat dari sebuah manga berjudul sama yang disutradarai oleh Yamagishi Santa (Zenin Kataomoi, Shimokitazawa Die Hard) dan naskahnya ditulis oleh Oshima Satomi (1 Litre of Tears, Hanamoyu, The 100th Love with You).

Seperti judulnya, drama ini ialah mengenai makanan, atau lebih tepatnya bagaimana kuliner yang yummy dapat menciptakan kita melupakan duduk kasus dalam sejenak. Dan tentu saja disini kita akan melihat banyak kuliner yang enak, terutama sajian makan siang yang pastinya menciptakan kita sangat berselera.
Aku sarankan sih nonton drama ini sambil makan, sebab meski durasinya kurang dari 1 jam, melihat Mitsuki makan dan makan bikin kita lapeeeer HAHAHHAHA.

Alasan saya menentukan drama ini sebagai drama pertama yang saya tonton ditahun 2018 (lebih tepatnya drama 2018 pertama yang saya tonton) ialah sebab yang main Takahatan Mitsuki. Aku suka banged sama Mitsuki, image Kahoko masih sangat kental dalam diri Mitsuki, jadi dalam drama ini saya ibarat melihat ‘another Kahoko’ tentu saja dengan sifat yang berbeda LOL. MItsuki cute banged, meski di drama ini beliau jarang tersenyum, atau mungkin hanya 1 kali tersenyum? HAHHAAHHHA.
Cinematography drama ini sangat baguuuuuuuus, keren banged, cara pengambilan gambarnya, coloringnya bikin mata nyaman dan betah menontonnya, makanya saya sangat berharap ini drama bakalan ada seriesnya. Mungkin ga ya? Karena rasanya nggak puas banged cuma 55 menit, apalagi wajah cowoknya ga kelihatan terperinci dan bikin ingin tau + adegan terakhir juga agak menggantung.
Semoga TV Tokyo testing water ya, dan menciptakan series untuk drama ini XD

Oke, berkut ini saya akan menceritakan secara singkat mengenai drama ini. Dan awas spoiler, sebab goresan pena dibawah ini akan berisi spoiler 100% XD

Fokus utama drama ini ialah Sasaki Sachiko (Takahata Mitsuki) yang bekerja sebagai editor sebuah majalah sastra. Dia ialah seorang karyawan yang perfeksionis, mejanya selalu rapi, peralatannya disusun dengan sangat sangat sangat rapi, ia bekerja dengan perfect, selalu hanya memperlihatkan 1 ekspresi, sangat kaku, selalu bicara formal dan tidak terlalu erat dengan rekan kerjanya. Ia tidak pernah makan siang dengan rekan kerjanya, sebab makan siangnya ialah pemanis energi yang akan ia habiskan dalam waktu kurang dari 5 menit. Kaprikornus selama bekerja Sachiko istirahat makan siang itu paling usang cuma 10 menit.

Rekan kerjanya berfikir kalau Sachiko bukan tipe yang disukai laki-laki, mereka yakin Sachiko ialah single, tapi ternyata Sachiko mengundang mereka ke pesta pernikahannya. Manager dan rekan kerjanya tentu saja terkejut gadis yang ibarat Sachiko ternyata sudah punya planning masa depan, bahkan ketika pernikahannya, Sachiko memperlihatkan wajah yang biasa, nggak senyum senang sama sekali. Bagi Sachiko hal yang ia lakukan ialah hal biasa, bertemu seorang pria, pacaran 2 tahun dan menikah, itu hanya kehidupan biasa yang ia jalani.

Tapi, sesuatu terjadi dihari pernikahannya. Acara ijab kabul dibagi menjadi 2, dimana ketika Sachiko mengenakan wedding dress gaya barat dan pakaian ijab kabul tradisional. Saat akan ganti pakaian ke pakaian tradisional, Sachiko dan mempelai laki-laki berpisah ruang ganti. Saat Sachiko kembali, sang mempelai belum juga kembali. Para permintaan juga cukup kaget sebab waktu ganti baju mempelai laki-laki lebih usang dari mempelai wanita.
Tiba-tiba seorang anak masuk ke dalam ruangan dan menawarkan secarik kertas pada Sachiko. Semuanya berfikir itu surprise dari mempelai pria, tapi ternyata itu ialah pesan perpisahan dari mempelai laki-laki yang dibacakan oleh Sachiko sendiri, isinya, ‘Sachiko, Maaf.’
Mempelai laki-laki alias tunangan Sachiko, meninggalkannya di hari pernikahannya.

Sachiko menanggapi hal itu dengan kalem, seakan-akan itu bukan duduk kasus besar. Ia bahkan menawarkan pidatonya dengan tenang,mengatakan mereka belum mendaftarkan ijab kabul dan lain-lain. Keesokan harinya ia juga masuk dan bekerja ibarat biasa.
Manager dan rekan kerjanya cukup kagum sebab Sachiko benar-benar kelihatan hening dan baik-baik saja.
TApi tentu saja Sachiko tidak baik-baik saja. Saat mengantarkan laporan pada managernya, ia mengklip seluruh potongan laporan, nama manager yang harus ia tulis malah ia tulis dengan nama ‘Shungo’, nama tunangannya dan bahkan mengenakan sepatu berlainan ke kantor. Kaprikornus manager dan rekan kerjanya tentu saja khawatir, Sachiko bantu-membantu shock sebab bencana di hari pernikahannya tapi nggak sadar kalau ia shock. JAdi manager menyuruh Sachiko untuk libur 3 hari.

Dalam perjalanan pulang, Sachiko berjalan sambil teringat kenangannya bersama Shungo, itu ialah sebab kartu namanya. Saat itu hujan dan ia berlindung di bawah jembatan. Kartu namanya ada di punggungnya ketika itu dan Shungo yang berlindung dari hujan melihatnya dan memanggil nama Sachiko untuk pertama kalinya. Disana ialah pertemuan pertama mereka dan keduanya menjadi erat kemudian berpacaran.
Sachiko menyadari ia shock berat ketika ia membantu seorang nenek yang menyeberang dan nenek itu membicarakan buah kesemek kering, ia teringat kenangannya bersama Shungo, sebab Shungo pernah mengeringkan kesemek untuknya. Suara Shungo memanggil namanya, ketika bertanya apakah ia lapar, mengajaknya menonton movie, memujinya ketika makan, mengajaknya kissu, bunyi Shungo terbayang-bayang dibenaknya.
Saat itulah Sachiko jadi lemas dan terjatuh kemudian menyadari kalau ia shock ditinggalkan oleh Shungo.

Sachiko kelaparan sebab ternyata ia belum makan semenjak program ijab kabul kemarin. Ia singgah disebuah kedai dan memesan sajian makan siang. Saat menunggu, Sachiko mulai salah dengar mendengar pelanggan yang berbicara kata-kata yang pengucapannya ibarat ‘Shungo’. Sachiko benar-benar merasa shock sebab ia terus mengingat nama Shungo, sebab kalau terus kepikiran, Sachiko merasa ia tak akan dapat melaksanakan sesuatu ibarat biasa, ia harus segera melupakan Shungo. Dan hal itu terjadi ketika kuliner yang dipesan Sachiko datang. Saat Sachiko mulai makan, makan siang biasa tapi sangat enak, ia melupakan Shungo. YAng ada dipikirannya ketika makan ialah kuliner enak yang ada dihadapannya, makerel dengan miso, sup miso dengan nasi putih dan lain-lain, pokoknya dipikirannya hanya ada makanan.
Setelah makanannya habis, Sachiko benar-benar merasa ibarat disurga, ia bahkan keluar dari restoran dengan wajah puas hingga lupa membayar HAHAHAHHAHAHA. Yang ia ingat ketika tiba diluar bukannya ia belum bayar, tapi bagaimana kuliner dapat membuatnya melupakan Shungo sejenak.

Berkat rekan kerjanya, Sachiko jadi mengerti kalau kuliner enak-lah yang membuatnya dapat melupakan Shungo, bahwa dengan makan kuliner enak, Sachiko akan baik-baik saja dan dapat melupakan luka hatinya.
Sehari sehabis pernikahan, Sachiko berdiri ibarat biasa hari itu, tapi ia mulai berdoa di depan foto Shungo, seakan-akan ia mmebuatkan altar untuk Shungo. Itu ialah bukti kekesalan Sachiko sebab ditinggalkan, tapi Sachiko membuatnya dengan gayanya sendiri dan beliau nggak sadar kalau beliau itu terluka, beliau selalu merasa kalau beliau baik-baik saja.
Sachiko sendiri nggak jadi mengambil hari libur dan masuk kerja keesokan harinya, ia mengenakan sepatu berbeda disebelah kiri dan kanan, bukti kalau ia masih shock. JAdi ia berencana makan kuliner kemarin untuk melupakan Shungo, tapi anehnya, ketika ia makan, kali ini ia tidak dapat melupakan Shungo, ketika makan ia masih teringat Shungo. Sachiko juga merasa asing dengan hal itu.
Sachiko bahkan mulai menulis surat untuk Shungo dalam pikirannya ketika ia akan melaksanakan sesuatu untuk penulis majalah mereka. Saat melihat foto Shungo di ponselnya, ia kembali teringat Shungo, bagaimana mereka berdua mulai pacaran dan tinggal serumah, kenangan-kenangan bersama Shungo muncul dan terus muncul, Sachiko panik sendiri dan berfikir untuk makan demi melupakan Shungo.

Saat Sachiko melihat sebuah kuliner yang tampaknya enak, ia siap memesan, tapi gres ingat kalau ia habis makan, jadi ia berusaha menciptakan dirinya lapar. IA berlari bolak balik naik turun bukit semoga perutnya KOsong HAHAHAHAHAHHA. Tapi tentu saja tidak semudah itu, justru ia makin teringat Shungo. Jadinya ketika melihat sekelompok anak sedang latihan lari, Sachiko ikutan lari dengan mereka.
Dan itu berhasil menciptakan Sachiko kelelahan dan ia kembali ke restoran dan makan dengan lahap. DAn kuliner kali ini, sukses menciptakan beliau melupakan Shungo sejenak ketika ia menikmati kuliner itu.
TApi melupakan ternyata memang hal yang sulit. Sachiko kembali teringat Shungo ketika ia pulang ke rumah dan ia bertanya-tanya apakah dirinya akan dapat melupakan Shungo atau tidak. Sachiko bahkan mulai merasa Shungo lewat disampingnya dan mengejar orang yang ia pikir Shungo itu, tapi tentu saja tidak ada Shungo disana.

Acara pesta final tahun majalah mereka, dimana para penulis diundang, Sachiko melaksanakan pekerjaannya dengan baik. TApi Sachiko orangnya sangat tegas, kalau pidato 3 menit, selesai nggak selesai niscaya beliau eksklusif potong dan masuk ke program selanjutnya, pokoknya beliau sempurna waktu banged. Sachiko bahkan dimarahi oleh salah satu penulis sebab perilaku Sachiko itu.
Penulis itu tahu kalau Sachiko sedang resah sebab pernikahannya yang gagal dan bertanya pada Sachiko kenapa Sachiko tidak menangis dan murka sebab hal itu. Sachiko menyampaikan sebab itu ialah pilihan pacarnya dan penulis itu menebak kalau Sachiko menganggap menangis dan murka itu ialah hal yang nggak mempunyai kegunaan dan Sachiko sangat membenci hal yang nggak berguna.
Penulis itu membawa Sachiko ke suatu daerah dimana disana ia menjelaskan kalau orang itu tidak ibarat apa yang kelihatan dan tidak sesederhana yang kita pikirkan. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak akan mengikuti sinopsisnya. BAnyak hal di dunia ini yang tidak dapat kita mengerti tanpa mengalaminya dan merasakannya sendiri.

Kata-kata itu terus terngiang di pendengaran Sachiko ketika Sachiko akan pulang ke rumah pagi harinya, bersamaan dengan bunyi Shungo yang memanggil namanya. Sebuah kenangan muncul dibenak Sachiko, ketika Shungo menunggu Sachiko dan Sachiko bertanya kenapa Shungo menunggunya, mereka kini bertemu itu sebab ia kiprah diluar, bagaimana jikalau ia tidak keluar kantor hari ini , mereka mungkin tak akan bertemu. Shungo menyampaikan kalau ia mungkin akan tetap menunggu Sachiko disana.  Sachiko bertanya apa tidak duduk kasus Shungo menyia-nyiakan waktunya ibarat itu dan Shungo menyampaikan menghabiskan waktu menunggu ketika ia ingin bertemu Sachiko bukanlah membuang-buang waktu baginya. Saat itu Sachiko terdiam, begitu juga dengan Sachiko yang sekarang.
Saat Sachiko terdiam, nenek yang dulu ia bantu memanggil Sachiko dan mengajak Sachiko sarapan bersama-sama. Keduanya menunggu kuliner dimeja dan perut Sachiko berbunyi sebab lapar, nenek kemudian mengeluarkan kesemek kering dan menawarkan pada Sachiko.
Saat makan kesemek itu, Sachiko teringat Shungo lagi, Shungo yang mengajaknya makan kesemek kering yang ia keringkan di kamar Sachiko. Sachiko mulai menangis dan menyadari kalau semua itu tidak sia-sia, menyukai dan mengasihi Shungo selama ini, bukan-lah hal yang sia-sia meski berakhir ibarat ini. Sachiko menangis untuk pertama kalinya sehabis pernikahannya dan menyadari betapa ia mengasihi Shungo.

Saat kuliner mereka datang, nenek menyampaikan kalau Sachiko sudah bekerja keras tahun ini. Apapun yang terjadi, insan akan selalu lapar, sesedih apapun perasaan itu, insan akan lapar. Nenek menyuruh Sachiko untuk makan dan melupakan semuanya.
Sachiko mengerti dan mulai makan dengan lahap.
Sachiko mulai membaik sehabis ketika itu, meski ia belum dapat melupakan Shungo 100%, ia sudah melangkah kedepan dan semenjak ketika itu, Sachiko selalu tidak lupa untuk menikmati setiap kuliner yang ia makan.

Drama ini manis banged, temanya juga bagus, jadi saya sangat menyukainya dan berharap ada seriesnya LOL.
Ending yang saya bilang menggantung itu ialah sehabis lagu ending, ada adegan Shungo disebuah pulau gitu, memandang ke arah laut.
Alasan kenapa Shungo meninggalkan Sachiko, saya masih tidak paham sama sekali, tapi ketika adegan ending, Shungo kelihatan mengenakan pakaian kerjanya, kayaknya sih beliau kerja di onsen gitu. DAn ia memanggil nama Sachiko-san.
Aku rasa beliau juga tidak dapat melupakan Sachiko dan terus teringat padanya. Tapi kenapa beliau meninggalkan Sachiko ya? Karena ketika Sachiko akan pergi ganti baju di hari perniakhan itu, Shungo masih tersenyum melihatnya.
Apakah beliau nggak yakin dapat menikah dengan sachiko makanya beliau pergi? Tapi kenapa pas pernikahan? Kejam bangeeeeeed huhuhuhu..

Mitsuki cocok banged memerankan aksara ibarat ini. Wajah Mitsuki itu imut banged, padahal beliau udah 26 tapi wajahnya masih kayak anak-anak, tapi saya suka Mitsuki tidak mengambil peran-peran remaja. hehehehhee.
Karakter ini bantu-membantu agak ibarat sama Kahoko, entah kenapa terasa banged image Kahoko-nya, mungkin dalam versi kaku LOL.

 
Skor:
 Story: 4/5
Acting: 5/5
Cinematography: 5/5
Music: 3/5
Opening: 4/5
Ending: 3,5/5

FAQ.
Dimana Aku mendownload drama ini?
– download raw-nya piratefiles.org
– download subtitlenya di d-addict (engsub)

Continue Reading

More in Boukyaku no Sachiko

To Top