Connect with us

Locafest.co.id

[Review] J-Movie: Departures (2008)

Departures

[Review] J-Movie: Departures (2008)

Aku biasanya tidak menentukan film alasannya yaitu film itu populer dan mendapat banyak penghargaan, tapi kali ini saya benar-benar menonton alasannya yaitu alasan itu. Aku sama sekali nggak kenal pemainnya, nggak kenal director & screenwriternya, saya bahkan tidak tertarik dengan sinopsis singkatnya, tapi saya ingin tau alasannya yaitu banyak yang membicarakan film ini dan bahkan mendapat banyak penghargaan. Sebenarnya saya ingin mencoba menonton ini udah usang tapi galau terus ‘nonton ga ya’ alasannya yaitu jujur aja ini bukan genre yang saya sukai lol.


Departures / Okuribito / おくりびと merupakan sebuah movie berdurasi 130 menit yang disutradarai oleh Yojiro Takita (The Battery, Ashura, Sanpei the Fisher Boy) dan naskahnya ditulis oleh Kundo Koyama (Snow Prince, Mokomichi no Midnight Kitchen). Movie ini mendapat banyak sekali penghargaan pada tahun 2008 diantaranya Best Picture di Hochi Film Awards, Nikkan Sport’s Film Awards, Blue Ribbon Awards, Japan Academy Prize, Best Director, Best Leading Actor, Best Supporting Actor, Best Supporting Actress, Best Screenplay, Best Lighting dan masih banyak lagi. Pokoknya ini movie penghargaannya banyak banged. Bahkan dikala Japan Academy Awards tahun 2009, Departures hampir merebut semua nominasi. Dan tentu saja yang paling sepakat yaitu movie ini memenangkan Oscar tahun 2009.

Tentu saja film-nya mendapat banyak penghargaan alasannya yaitu memang bagus. Aku yang nggak yakin aja pada awalnya ternyata saya menyukai movie ini, tapi sayang saya tampaknya nggak akan mengulang menontonnya HAHAHAHHAHA. Biasanya film-film begini saya memang kurang suka, meski bagus bukan untuk ditonton ulang bagi saya pribadi.

Movie ini dibintangi oleh Masahiro Motoki (The Long Excuse, The Big Bee, The Emperor in August), Ryoko Hirosue (Hana’s Mso Soup, Little DJ, Hana and Alice), Tsutomu Yamazaki (Miracle Apples, The Woodsman and The Rain, Kirin no Tsubasa), Kimiko Yo (Shin Godzilla, Solomon Prejury, Parasyte) dan cast pendukung lainnya.

Ini movie cara penyampaiannya sangat menarik dan menciptakan kita tidak bosan menontonnya. Mengambil tema yang cukup unik dengan musik di sepanjang movie, tipe saya banged. Tapi jujur aja, pas nontonnya saya merinding banged HAHHAHAHAA dan bahkan ada disebuah adegan saya mual banged, alasannya yaitu saya memang nggak cocok nonton movie yang begituan T___T
Cara pengambilan gambarnya sangat indah, banged, pemandangan pedesaan terasa banged di movie ini. Pesan moralnya juga sangat banyak di sepanjang movie, tentu saja perihal kehidupan. Karena movie ini kita diajak melihat bagaimana sang tokoh utama memulai dari nol, sebuah pekerjaan yang sama sekali tidak pernah terbesit di pikirannya, titik balik kehidupannya, menghadapi hinaan dan rasa malu, bahkan ia sempat ingin berhenti alasannya yaitu istrinya malu akan pekerjaannya.

Jadi, movie ini perihal apa?

SINOPSIS

Diawal movie, kita diperlihatkan seorang laki-laki yang diminta oleh bos-nya untuk melaksanakan pengurusan mayit dan ia menyanggupinya. Ia melaksanakan mekanisme pengurusan mayit dimana sebelum di masukkan kedalam peti untuk dikremasi mayit harus dihias dengan cantik. Dan dikala itu saya pikir jenazahnya yaitu perempuan, ternyata laki-laki.
Lalu kita diperlihatkan kilas balik sebelum laki-laki itu menjadi pengurus jenazah.

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) yaitu seorang pemain cello di sebuah orkestra. Menjadi pemain cello yaitu impiannya semenjak kecil. Ia bahkan gres membeli sebuah cello gres yang harganya 18 juta won dan ia masih punya hutang. Tapi tiba-tiba sebuah kabar membuatnya membatu, alasannya yaitu orkestra mereka dibubarkan. Ia menjadi pengangguran dalam sekejap, ia tak mungkin masuk ke orkestra lainnya alasannya yaitu ia tak punya cukup bakat. Padahal dikala melamar istrinya, Mika Kobayashi (Ryoko Hirosue) dulu ia menyampaikan akan mengajak istrinya ke banyak sekali negara melihat penampilannya, tapi ia malah berakhir menjadi pengangguran.

Dalam kegalauannya, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Yamagata dan istrinya dengan setia mengikuti keputusan suaminya. Ia kembali ke rumah lamanya, satu-satunya peninggalan ibunya yang membesarkannya sebagai ibu tunggal. sang istri juga terlihat senang tinggal disana, sebuah rumah dimana lantai satu-nya yaitu sebuah cafe yang dulu dijalankan ayah Daigo yang meninggalkan keluarganya dikala ia masih kecil.

Suatu hari dikala makan malam, ia melihat sebuah iklan pekerjaan di koran dan ia tertarik melamar disana alasannya yaitu syaratnya sangat mudah, tidak butuh pengalaman kolaborasi sekali dan gajinya juga lumayan. Karena disana tulisannya adalah ‘departures’ ia berfikir kalau itu yaitu biro travel atau sejenisnya. Keesokan harinya ia berangkat ke alamat yang dimaksud tanpa tahu jenis pekerjaan apa yang ia lamar. Selagi menunggu bos datang, ia melihat ke sekitar kantor itu dan merasa agak abnormal kenapa ada peti mati disana. Ia bingung. Saat wawancara, bos yang dimaksud bahkan tidak butuh CV, ia hanya bertanya apakah Daigo akan bekerja keras dan alasannya yaitu jawabannya iya, maka Daigo eksklusif diterima, bahkan dibuatkan kartu nama dan digaji di hari pertamanya.

Pekerjaan Daigo yaitu pengurus jenazah. Di biro pengurus mayit itu hanya ada dua orang, Bos, Sasaki Namaei (Tsutomu Yamazaki) dan karyawan, Yuriko Uemura (Kimiko Yo). Sasaki-san punya mata yang bagus menilai seseorang dan berfikir Daigo akan cocok dengan pekerjaan ini makanya ia eksklusif menerimanya. Tapi keputusan bertahan atau tidak itu ada ditangan Daigo, Daigo bisa mencobanya dan kalau ia merasa tidak cocok ia bisa keluar. Hal pertama yang mereka lakukan sesudah Daigo diterima yaitu menciptakan video pengurusan mayit dimana Daigo menjadi mayatnya. Ini adegan ngakak banged, meski saya agak serem-serem gimana gitu.

Daigo merahasiakan hal ini dari istrinya Mika, ia berbohong kalau ia bekerja di biro travel. Pekerjaan pertama Daigo ternyata lebih berat dari yang dibayangkan, bahkan Sasaki-san mengakuinya kalau Daigo melaksanakan hal berat untuk pekerjaan pertamanya. Apa itu?
Mereka mengurus mayit seorang nenek yang tinggal sendirian, yang sudah 2 ahad meninggal. Tentu saja sangat bau dan Daigo tak berani melihat mayat itu, ia bahkan muntah-muntah dikala melaksanakan tugasnya (kalau kalian nggak berpengaruh sebaiknya scene ini di skip, suer, meski kita ga diliatin mayatnya, tapi bikin kita kebayang-bayang, saya nggak berpengaruh sama yang beginian tapi saya nggak skip dan saya mual kayak daigo juga lol).

Setelah pekerjaan pertamanya, Sasaki-san menyuruh Daigo libur beberapa waktu, alasannya yaitu ia tahu betapa sulitnya melihat itu di hari pertamanya. Dan Daigo semenjak dikala itu menjadi murung, ia terus kebayang dan bahkan mual kalau melihat daging. Ia sangat usang mengambil libur dan nggak pergi bekerja alasannya yaitu menghabiskan waktu merenung apakah ia benar-benar cocok dengan pekerjaan ini. Aku pikir sudah terbesit dipikirannya kalau ia ingin berhenti.

Malam itu ia memainkan cello lamanya dan musiknya benar-benar indah tapi tersirat kesedihan didalamnya. Selagi Daigo memainkan cello-nya, kita diperlihatkan kenangan masa lalunya bersama ayah da ibunya. Dulu mereka yaitu keluarga yang bahagia. Ayahnya pernah memberinya sebuah watu dan ia memperlihatkan juga pada ayahnya. Ia terlalu kecil dikala ayahnya meninggalkannya jadi ia tak ingat wajah ayahnya lagi.
Ada suatu malam dimana ia dan istrinya mengobrol, ia pikir ibu Daigo niscaya selalu menyukai ayah Daigo selama ini, kalau tidak maka ibunya niscaya sudah membuang semua koleski musik ayah Daigo atau merenovasi cafe mereka. Meski Daigo tidak percaya akan hal itu.

Tapi Sasaki-san terlihat sangat menyukainya, jadi dikala ada pekerjaan baru, ia sengaja menjemput Daigo dan mereka mengurus mayit di sebuah rumah. Dan disini Daigo hanya melihat Sasaki-san yang bekerja, mengganti baju mayit dan menciptakan jenazahnya anggun dengan meriasnya. Awalnya alasannya yaitu mereka terlambat, tuan rumah sangat marah. Saat mayit sang istri di hias, sang suami sama sekali tidak meneteskan air mata, ia terlihat membisu tanpa ekspresi sementara sang cucu terus menangis. Bahkan cucunya tahu lipstik kesayangan neneknya untuk dipakaikan. Tapi sesudah mayit masuk ke peti, barulah sang suami menangisi istrinya. Sebelum Daigo dan Sasaki-san pergi, ia berterima kasih pada mereka berdua. Aku rasa alasannya yaitu itu Daigo memutuskan tetap bekerja.

Sejak dikala itu, Daigo mulai bisa bekerja sendiri, kalau mereka sanggup dua job di dikala yang sama ia sudah bisa melakukannya sendirian. Ia bahkan harus berangkat tengah malam untuk pekerjaan itu. Ia sudah terbiasa dan Yuriko bahkan menggodanya, tampaknya Daigo sudah mulai menyukai pekerjaan ini.
Tapi dilema gres dimulai lagi dikala desas desus mengenai pekerjaan Daigo mulai menyebar di desa. Bahkan sahabat baiknya tidak menyukai pekerjaan Daigo dan meminta Daigo berhenti dari pekerjaan itu. Istri Daigo juga mengetahui pekerjaan Daigo, ia melihat rekaman video pengurusan mayit yang dulu direkam Sasaki-san dan Daigo, ia ternyata juga sudah mencari tahu semuanya mengenai pekerjaan Daigo. Ia malu pada pekerjaan suaminya dan ingin suaminya bekerja dengan pekerjaan yang normal. Ia bahkan tidak mau disentuh alasannya yaitu merasa jijik akan Daigo. Ia menyampaikan ia akan kembali ke rumah ibunya, Daigo bisa menemuinya kalau Daigo sudah keluar dari pekerjaannya.

Setelah kejadian itu, Daigo masih melaksanakan pekerjaannya dan bertemu dengan banyak orang dan banyak sekali reaksi keluarga akan kematian. Ada yang bersikap baik ada yang bersikap tidak baik. Disebuah keluarga bahkan menyampaikan kalau pekerjaan Daigo yaitu pekerjaan rendahan dimana tidak ada yang mau melaksanakan pekerjaan itu, kalau bekerja dengan pekerjaan itu artinya sudah tidak ada pilihan lain. Intinya bagi mereka itu pekerjaan paling rendah, padahal mereka klien lho. Daigo mendengar hal itu kembali berfikir ulang untuk melanjutkan pekerjaan atau tidak. Pada karenanya ia memutuskan untuk berhenti. Ia ingin memberitahu Sasaki-san akan hal itu, tapi keduanya malah mengobrol usang dan Sasaki-san menceritakan bagaimana ia pertama kali terjun ke pekerjaan itu, bahwa mayit pertama yang ia urus yaitu istrinya. Pembicaraan mereka sederhana tapi dalam, hal ini menciptakan Daigo melupakan niat awalnya untuk berhenti.

Waktu berlalu dan Daigo tidak jadi berhenti, ia terus melaksanakan pekerjaannya, meski orang tidak menyukainya, meski ia dipandang rendah, tapi ia melaksanakan pekerjaannya dengan tulus. Setidaknya masih ada yang berterima kasih pada mereka alasannya yaitu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Ia bertemu banyak orang, banyak mayit dengan kisah yang berbeda-beda, cara orang memandang mereka juga berbeda-beda. Ia tidak punya sahabat dan hanya menghabiskan waktu bersama Sasaki-san dan Yuriko, bahkan dikala malam natal. Kadang ia memainkan cello-nya dan kita diperlihatkan kenangan-kenangan Daigo dikala ia melaksanakan pekerjaannya, ia mengurus banyak sekali mayit dan melihat bagaimana keluarga menghadapi maut itu. Dari sana kita melihat Daigo berkembang menjadi jiwa yang lebih remaja lagi, seiring berjalannya waktu.

Suatu hari istrinya kembali ke rumah dengan kabar bahwa ia sedang hamil. Daigo sangat senang mengetahui kabar itu. Tapi istrinya masih belum menyerah, ia tetap ingin Daigo berhenti, alasannya yaitu Daigo akan kesulitan menjelaskan pada anak mereka nantinya mengenai pekerjaan Daigo. Anak mereka niscaya akan malu.
Tapi Daigo tampaknya memang tidak punya niat berhenti, alasannya yaitu ia sudah menemukan tempatnya dan dikala itulah mereka mendengar kabar kalau nenek pemilik pemandian umum meninggal dunia.
Sebelumnya bersama-sama kita diajak melihat kisah nenek pemandian umum yang masih terus bekerja mengurus pemandian meski ia sudah tua. Ia bahkan menolak dikala anaknya ingin menjual daerah itu alasannya yaitu selagi ia masih bisa bangun ia ingin tersu bekerja. Nenek pemandian itu mengenal Daigo semenjak kecil dan puteranya yaitu sahabat Daigo yang dulu menyuruh Daigo berhenti dari pekerjaan memalukan itu.

Malam itu Daigo membawa MIka bersamanya ke rumah sedih dan ia mengurus mayit nenek itu sendirian. Ia melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan terlihat terhormat. Aku rasa disanalah temannya dan Mika istrinya melihat eksklusif bagaimana Daigo bekerja dan itu bukanlah sebuah pekerjaan memalukan, alasannya yaitu itu pekerjaan yang hanya orang terpilih yang bisa mengerjakannya. Orang harus punya jiwa yang berpengaruh untuk melaksanakan pekerjaan itu.
Aku rasa istrinya mulai mendapatkan pekerjaan suaminya. Daigo mengajak Mika ke pinggir sungai dan memperlihatkan sebuah watu padanya. Daigo menyampaikan dulu orang memakai watu sebagai surat, kalau watu itu licin artinya ia baik-baik saja, kalau bernafsu artinya ia sedang gundah.

Dan menyerupai dugaanku, di simpulan film, kita melihat ayah Daigo. Sebuah surat tiba ke rumah memberikan kabar maut ayah Daigo. Tapi Daigo menolak menemuinya alasannya yaitu selama ini ayahnya tak peduli padanya, kabur dari rumah dengan pelayan dan kenapa ia harus menemuinya. Saat itulah kita mendengar kisah lain Yuriko, diawal movie Yuriko pernah menyampaikan awal ia terjun ke pekerjaan ini yaitu alasannya yaitu Sasaki-san menemukannya, dikala mengurus mayit nyonya pemilik kafetaria daerah ia bekerja. Ternyata dulu Yuriko melaksanakan hal yang sama dengan ayah DAigo, kabur dengan laki-laki lain dan meninggalkan puteranya. Ia selama ini merindukan puteranya tapi ia tak bisa menemuinya, alasannya yaitu itu ia mungkin bisa mengerti perasaan ayah Daigo dan ingin Daigo menemuinya. Meski awalnya menolak, tapi selama ini Daigo memang selalu memikirkan ayahnya yang artyinya ia merindukan ayahnya, pada karenanya ia berangkat bersama Mika.

Ayah Daigo selama ini hidup sendirian, bekerja sebagai nelayan. Tidak ada yang mengurusnya dan bahkan hanya 1 buah kotak barang peninggalan ayahnya. Daigo tak mengerti kenapa ayahnya meninggalkan mereka pada karenanya yang tersisa hanya 1 kotak saja, ayahnya harusnya bisa menghasilkan lebih banyak lagi. Hari itu Daigo sebagai anggota keluarga, bukan pengurs jenazah. Tim pengurus mayit tiba dan mereka sama sekali tidak melaksanakan menyerupai yang Daigo biasa lakukan, tidak ada ganti pakaian, tidak ada dihias, malah eksklusif dimasukkan ke peti. Tentu saja Daigo tidak mau. Pada karenanya ia melaksanakan pengurusan mayit sendirian dan ia sangat kaget dikala menemukan tangan ayahnya menggenggam sesuatu,, itu yaitu watu yang diberikan Daigo 30 tahun lalu. Batu itu pada karenanya diwariskan pada calon bayinya kelak.

Ini movie temanya memang cukup berat, tapi jangan khawatir, akan ada komedi di sela-sela ceritanya, terutama diawal. Tapi makin usang kisahnya makin serius dan siap-siap berlinang air mata deh, terutama scene terakhir. Aku nonton movie ini pas malam-malam, terisa-isak di kamar, bener-bener terasa banged feel-nya.

Dari movie ini kita bisa melihat banyak sekali reaksi terhadap maut seseorang, terutama dari pihak keluarga. Ada yang tidak sedih, ada yang justru bertengkar dikala maut itu, ada yang menangis tulus, ada yang tidak percaya anaknya meninggal, ada yang mengikhlaskan dengan tulus dan bahkan tersenyum dikala itu dan masih banyak lagi. Kita diajak melihat pertemuan Daigo dan orang-orang menciptakan ia lebih dewasa.

Kita bisa melihat bagaimana perkembangan abjad Daigo dari awal hingga akhir, bagaimana ia berubah dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang ragu-ragu menjadi tidak ragu, yang masih resah akan pekerjaannya menjadi profesional akan hal itu. Ia memulai tanpa tahu apa-apa, tidak berpengalaman. Tapi ia melakukannya dengan serius, berkali-kali berfikir untuk berhenti alasannya yaitu ia merasa tidak cocok, tapi pada karenanya ia tetap melakukannya.
Ia mengalah akan impiannya menjadi pemain cello dan menemukan titik baliknya. Meski semuanya tidak menyukai pekerjaannya, ia tetap yakin dan melakukannya dan kerja kerasnya menciptakan orang lain melihatnya dengan tatapan yang berbeda.

Pekerjaan pengurusan mayit dianggap pekerjaan rendahan, mungkin aslinya di jepang juga begitu. Aku yakin niscaya disana juga banyak yang malu punya ayah yang pekerjaannya itu. Tapi dengan movie ini kita melihat betapa kerennya pekerjaan itu. Setidaknya begitulah cara pandang Miko berubah akan pekerjaan suaminya. Ia malu pada pekerjaan suamianya dan bahkan sempat menganggapnya menjijikan, tapi sesudah ia melihat langsung, ia mulai berubah, melihat dari sisi lain, bahwa pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. JUstru itu yaitu pekerjaan dimana tidak semua orang bisa melakukannya, menyerupai kata Sasaki-san, hanya orang terpilih yang bisa melakukannya. Butuh jiwa yang berpengaruh untuk melakukannya.

Musik di movie ini indah banged. Hampir disemua adegan ada musiknya, jadi bener-bener tipe saya banged. Suara cello yaitu favorite saya di movie ini, suaranya indah dan ada kesedihan di dalamnya. Aku suka bagaimana dikala Daigo memainkan cello, kita diperlihatkan adegan lain menyerupai kenangan masa kecilnya dan bagaimana ia melaksanakan pekerjaannya, jadi movie ini benar-benar keren dengan pengambilan gambarnya juga. Lokasi syutingnya indah, dengan pemandangan perkampungan, gunung, bukit dan lain sebagainya. Menyejukkan mata. Ini cocok bagi kalian yang suka movie-movie dengan pemandangan yang indah.

Overall, ini movie worth watching banged, pemenang Academy Awards 2009 sebagai best film foreign language sih ya. Makara ini recommended banged untuk di tonton.

Skor:
Story: 5/5
Acting: 4,7/5 *aku kurang suka akting istrinya Daigo hahahahah entah kenapa, pendapat pribadi sih
Cinematography: 5/5
Music: 5/5
Opening: 5/5
Recommended!

Continue Reading

More in Departures

To Top