Connect with us

Locafest.co.id

[Review] J-Movie: Tokyo Family (2013)

J-Movie

[Review] J-Movie: Tokyo Family (2013)

Sebuah movie yang sudah usang ingin saya tonton dan jadinya saya menyelesaikannya beberapa waktu yang kemudian dengan berlinang air mata.
Sebenarnya, saya pikir ini movie yang sama dan prequel dari What A Wonderful Family alasannya cast-nya sama, tapi ternyata berbeda movie.
Dan lagi, sebelum menonton movie ini, saya sudah menonton What A Wonderful Family terlebih dahulu, jadi bekerjsama saya agak gila dikala masuk ke movie ini.
Karena cast-nya sama, jalan kisah berbeda dan abjad mereka juga berbeda dari WAWF. Selain itu, WAWF genrenya ada komedinya sementara Tokyo Family ini sanggup saya bilang drama keluarga jadi terasa banged sedihnya.

Tokyo Family / Tokyo Kazoku ialah sebuah movie yang tayang pada tahun 2013 yang diremake dari sebuah film tahun 1953 berjudul Tokyo Story oleh Yasujiro Ozu.
Movie bergenre Family Drama ini disutradarai oleh Yoji Yamada (What A Wonderful Family, The Twilight Samurai, Memories of My Son, The Little House) dan naskahnya ditulis bersama Emiko Hiramatsu (The Little House, Tokyo Family Love and Horor).
Movie berdurasi 146 menit ini dibintangi oleh Isao Hashizume (After The Storm, The Little House, What A Wonderful Family), Kazuko Yoshiyuki (What A Wonderful Family, The Little House, Departures), Masahiko Nishimura (Tokyo Family, Clover, Crossroads), Yui Natsukawa (64, The Little House, What A Wonderful Family), Shozo Hayashiya (Tokyo Family, Ume-chan, The Little House), Tomoko Nakajima (What A Wonderful Family, The Taste of Tea, The Little House), Satoshi Tsumabuki (The Little House, What A Wonderful Family, Wakamonotachi), Aoi Yu (What A Wonderful Family, One Million Yen Girl, Wakamonotachi) dan para cast lainnya.
Tokohnya memang tidak mengecewakan banyak dan kiprahnya penting-penting disini.

Aku belum pernah menonton Tokyo Story, tapi katanya itu movie dulu terkenal banged dan remake 2013 ini banyak yang puas alasannya mereka menggambarkan sangat baik original story-nya.
Aku sendiri menonton movie ini agak cemas, alasannya menyerupai yang saya katakan diatas, saya nonton What A Wonderful Family duluan yang bikin ngakak, nonton movie ini jadi deg degan banged, ditambah disini bawah umur sang tokoh utama nyebelin semuanya, seolah nggak sayang pada orang bau tanah mereka, beda dengan WAWF LOL
Tapi overall movienya manis bangeeeeeed. Suka endingnya, terasa realistis.

SINOPSIS

Tokyo Family menceritakan wacana pasangan suami istri Shukichi Hirayama (Isao Hashizume) dan Tomiko Hirayama (Kazuko Yoshiyuki) yang tiba ke Tokyo dari pulau kawasan mereka tinggal, untuk berkunjung ke rumah anak mereka sekalian jalan-jalan di Tokyo dan sang ayah juga ada keperluan disana.
Mereka punya 3 orang anak yang semuanya bekerja di Tokyo. Anak pertama ialah Koichi Hirayama (Masahiko Nishimura), seorang dokter yang menikah dengan Fumiko Hirayama (Yui Natsukawa) yang menjadi ibu rumah tangga sibuk dengan 2 anak pria mereka yang duduk di dingklik Sekolah Menengah Pertama dan SD, Makoto dan Isamu.
Anak kedua mereka ialah Shigeko Kanai (Tomoko Nakajima) yang membuka salon di rumahnya, suaminya bekerja kantoran berjulukan Kurazo Kanai (Shozo Hayashiya), mereka berdua belum punya anak.
Sementara itu anak ketiga mereka ialah Shoji Hirayama (Satoshi TSumabuki) yang menjadi kekhawatiran keluarga alasannya ia belum punya pekerjaan tetap dan hobinya sangat aneh, ia bahkan gres membeli sebuah kendaraan beroda empat antik italia.

Dihari kedatangan Ayah dan ibu, Fumiko sebagai menantu anak tertua sangat sibuk di rumahnya untuk beres-beres dikala Shigeko tiba di rumah. Shigeko meminta Shoji menjemput ayah dan ibu mereka tapi belum ada kabar, harusnya mereka sudah tiba di stasiun. Ternyata terjadi problem alasannya Shoji menjemput di stasiun yang salah dan butuh waktu usang untuk ke stasiun dimana ayah dan ibu turun, jadi ayah tidak sabar dan memutuskan untuk naik taksi saja ke rumah anaknya. Meski Shigeko khawatir alasannya takut orang tuanya tidak tahu jalan.
Pada jadinya ayah dan ibu tiba di rumah dengan selamat, meski harus membayar mahal ongkos taksi dan malam itu keluarga pesta makan daging 1 keluarga. Mereka sudah usang tidak berkumpul bahu-membahu menyerupai ini. Para cucu masih awkward dengan kakek nenek mereka, tampaknya ini pertama kalinya mereka bertemu *disini saya udah meneteskan air mata aja*
Malam itu, ayah dan ibu menginap di rumah Koichi sebagai anak tertua. Hari berlalu dengan cepat sehabis mereka berbincang-bincang menceritakan banyak hal. Ayah dan ibu sangat senang alasannya semua anak mereka berkumpul malam ini, bahkan Shoji yang biasanya tidak mau kumpul kalau ada ayahnya.
Koichi sangat ingin membawa ayah dan ibunya jalan-jalan di Tokyo, jadi ia memanfaatkan hari libur besok untuk membawa mereka jalan-jalan. Semuanya sudah bersiap-siap, tapi tiba-tiba ada telpon pasien darurat dan Koichi terpaksa membatalkan akad mengajak mereka jalan-jalan. Isamu yang akan ikut dan sudah bersemangat jadi kesal dan ngambek, alasannya tampaknya ini bukan pertama kalinya ayahnya membatalkan janji. Melihat cucunya begitu, ibu jadinya mengajaknya untuk jalan-jalan di sekitaran kompleks perumahan.

Malam kedua, rencananya ayah dan ibu akan menginap di rumah Shigeko. Tapi Shigeko dan suaminya kelihatan tidak bersemangat dan keberatan orang tuanya menginap disana, alasannya mereka sangat sibuk bekerja, sementara sang suami menyampaikan ia sangat sulit berkomunikasi dengan ayah Shigeko alasannya ayah pada dasarnya sikapnya cuek dan tanpa ekspresi.
Shigeko sangat ingin ayah dan ibu jalan-jalan melihat Tokyo tapi ia tidak sempat mengajak mereka jalan-jalan dan ia menelpon Shoji adiknya untuk mengajak orang bau tanah jalan-jalan. Shoji awalnya berat hati, tapi jadinya ia setuju, mengajak ayah dan ibu jalan-jalan melihat Tokyo dan makan di restoran yang enak.
Ayah dan ibu tampak kagum dengan gedung-gedung pencakar langit yang tidak ada di desa mereka, sementara Shoji malah ngantuk selama perjalanan alasannya ia bosan.
Ibu sendiri ingin mengajak Shoji bicara mengenai masa depannya, alasannya ayah khawatir pada putera bungsunya itu. Ayah bertanya apa pekerjaan Shoji, apakah pekerjaan itu ada masa depannya dan lain sebagainya. shoji tidak suka ditanyai begitu, makanya selama ini hubungannya dan ayahnya sangat buruk.

Sementara itu Shigeko dan Koichi yang merasa kerepotan orang bau tanah mereka menginap di rumah mereka memutuskan untuk menyewa kamar hotel bagi keduanya. Menurut mereka kapan lagi orang bau tanah mereka mencicipi tinggal di hotel. Meski sangat mahal mereka sanggup bagi 2 uangnya. Koichi jadinya oke dan begitulah kedua orang bau tanah itu berkhir tidur di kamar hotel.
Disini saya kesal banged sumpah, orang bau tanah tiba jauh-jauh ke Tokyo, meski mereka menyampaikan pengen jalan-jalan dan ada urusan, tentu bekerjsama mereka ingin kesana itu ya melihat bawah umur mereka kan, tapi malah disuruh menginap di hotel.
Hotelnya memang bagus, tapi dua orang bau tanah disana tentu membosankan, tapi mereka mencoba menikmati pemandangan dari lantai atas. Malamnya mereka makan malam dengan makanan yang mereka tak tahu namanya, menikmati pemandangan malam dari kamar, alasannya jendela kamar mereka berhadapan dengan taman bermain jadi ada kincir yang gemerlapan. Kalau bagi orang muda itu memang romantis, tapi bagi orang bau tanah ya biasa aja. Meski jadinya ayah melarang ibu menutup gorden alasannya mereka tidak akan sanggup melihat itu lain kali, jadi pada dasarnya puas puasin melihatnya.
Saat tidur, ada tamu yang berisik dan mengganggu tidur ayah dan ibu (aku rasa untuk ukuran hotel mahal, itu dindingnya kok tipis banged).
Pada jadinya ayah dan ibu tidak sanggup tidur, mereka menciptakan alasan alasannya kasur dan bantalnya terlalu empuk *sumpah disini saya pengen nangis lagi*

Keesokan harinya, ayah dan ibu tak ada kegiatan, jadi mereka hanya melihat pemandangan di sekitar hotel dan mengobrol. Ayah badannya pegal alasannya nggak sanggup tidur semalaman sementara ibu mengaku tak sanggup tidur tapi ayah malah menyampaikan ia mendengar ibu mendengkur heheheheheh.
Ayah bekerjsama ada keperluan di Tokyo, untuk pergi ke rumah temannya Hatori yang meninggal dunia, jadi ayah memutuskan sehabis ia kesana mereka berdua sanggup pulang ke desa.
Ayah dan ibu tidak betah di hotel dan memutuskan kembali ke rumah Shigeko yang tentu saja menciptakan Shigeko panik. Ia sangat sibuk dan lagi ia sudah menyewa kamar hotel untuk dua hari bagaimana ayah dan ibu sanggup check out begitu saja. Ia juga menyampaikan malam ini ia ada keperluan dan ia sangat sibuk, ia menolak ayah dan ibunya menginap di rumahnya malam ini *pengen rasanya saya masuk ke layar marahin ini anak, sumpah kasihan banged lho, tahu sih ia sibuk tapi hingga mengusir ayah dan ibunya aduhhh).

Ayah dan ibu jadi galau apa yang harus mereka lakukan dan dimana mereka akan tinggal. Mereka merasa tak lezat ke rumah Koichi jadi ayah menyampaikan ia akan menginap di rumah Numata temannya, alasannya janjinya ia dan NUmata akan ke rumah Hatori bersama-sama.
Ibu menyampaikan ia akan menginap di rumah Shoji, lagipula ia belum pernah kesana, ia akan menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah Shoji, mencuci, memasak dan lain-lainnya. Dan begitulah ayah dan ibu meninggalkan rumah anak mereka.
Mereka berdua duduk bersama dekat stasiun dan ayah menghela nafas menyampaikan ketika anak gadis menikah rasanya anak itu bukan anak mereka lagi, padahal dulu Shigeko anak yang manis. Ibu menyampaikan itu alasannya ayah terlalu memanjakan Shigeko dan ayah terlalu keras pada anak laki-lakinya, terutama Shoji. Ibu menyampaikan ia akan bicara pada Shoji mengenai perasaan ayah yang mengkhawatirkannya. Ayah hanya sanggup menghela nafas dan menyampaikan bawah umur tidak pernah menjadi menyerupai apa yang orang bau tanah harapkan.

Ayah pergi ke rumah Hatori untuk berdoa di altar Hatori. Mereka bertiga ialah sama-sama sahabat mengajar dulunya. Mereka mengenang masa kemudian disana dan mampir ke kedai Kayo-san untuk minum-minum.
Ayah bekerjsama sudah berhenti minum alasannya kesehatannya, tapi Numata terus memaksanya minum. Numata pernah menceritakan mengenai anaknya pada Ayah, yang sudah sukses, tapi ternyata semuanya bohong. Ia kini tinggal di rumah anak satu-satunya yang sudah menikah dan menantunya sangat tidak suka kalau ia membawa orang lain ke rumah. Ia merasa tak lezat pada Ayah jadi mengajaknya minum-minum hingga pagi.
Mereka menghabiskan waktu mabuk sambil menceritakan mengenai keluarga mereka dan kampung halaman mereka, juga mengenai Ayah yang berdasarkan NUmata sangat beruntung alasannya anak-anaknya sukses.

Sementara itu ibu berhasil tiba di rumah Shoji dengan alamat yang dituliskan Shoji dan ia cukup kaget alasannya rumah Shoji cukup rapi.
Shoji sendiri ternyata sudah punya pacar dan ingin pacarnya tiba nanti malam, sekalian ia akan memperkenalkan pada ibu. TApi pacarnya jadi khawatir takut ibu tak akan menyukainya.
Saat Shoji kembali, ibu sudah memasak untuknya dan mereka ngobrol sambil makan. Shoji mencari kesempatan menyampaikan kalau ia punya pacar dikala ibunya menyinggung mengenai apartemennya yang cukup higienis dan rapi, padahal ia kira niscaya akan berantakan. Shoji menyampaikan ada sesekali yang membersihkannya dan ibu pikir Shoji menyewa orang, dikala Shoji bilang ia tidak bayar, ibu malah berfikir orang itu suka rela membersihkan kamar Shoji.
Sampai jadinya pacarnya datang, Shoji masih belum sanggup mengatakannya. Akhirnya ia terpaksa sekalian memperkenalkan pacarnya Noriko Mamiya (Aoi Yu) yang eksklusif menciptakan ibu terkejut. Tapi saking gugupnya, Shoji menyampaikan semua wacana Noriko, pekerjaannya, orang mana, keluarganya, golongan darah, bintang dan lain sebagainya HAHAHAHAHAHA.

Ibu mengajak Noriko duduk dan mulai menanyainya, ibu sangat lega anaknya ternyata punya seseorang dan eksklusif berterimakasih alasannya Noriko sudah menjaga anaknya. Ibu menyukai Noriko alasannya sekali lihat, ia tahu Noriko anak yang baik. Shoji senang alasannya ibu menyukainya, NOriko juga lega. Shoji meminta ibu menyampaikan pada ayah tapi ibu menolak, ia ingin Shoji sendiri yang memperkenalkan Noriko pada ayah kalau berdasarkan Shoji Noriko penting baginya.
Setelah Noriko pulang, mereka menghabiskan waktu mengobrol hal-hal kecil sebelum tidur, Shoji menceritakan pertemuannya bersama Noriko pada dikala program amal dan ia eksklusif jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanya kencan 3 kali dengan Noriko sebelum melamarnya.
Ibu juga menceritakan bagaimana ia mendapatkan ayah dikala perjodohan dulu, alasannya ternyata hanya alasannya ayah sangat tampan dikala itu.
Aku merasa diantara bawah umur mereka, Shoji ialah yang paling baik, setidaknya ia menjaga ibunya dan ngobrol bersama ibunya wacana ini dan itu.

Keesokan harinya, Noriko bahkan tiba ke rumah menemui ibu untuk membawakan sarapan dikala Shoji sudah berangkat kerja. Ibu sudah mempercayakan anaknya pada Noriko dan memperlihatkan Noriko sejumlah uang untuk disimpan, sanggup dipakai dikala darurat. Awalnya Noriko menolak, tapi ibu memaksanya.
Ia cukup kaget alasannya Noriko mendapatkan anak bungsunya apa adanya meski pekerjaannya masih belum tetap. Ibu sangat menyukai Noriko.
Noriko dikala itu ternyata sudah terlambat bekerja, tapi ia benar-benar baik alasannya menyematkan diri mampir disana.

Ayah sendiri menciptakan problem semalam. Karena kedai sudah tutup mereka harus pulang dengan mabuk dan ayah kembali ke rumah Shigeko dengan taksi, sopir taksi marah-marah alasannya mereka keliling kesana kemari.
Ayah pagi harinya eksklusif ke rumah Koichi alasannya ia dan ibu janjian ketemu disana untuk pulang. ayah menjelaskan kalau ia tak sanggup tinggal dirumah Numata dan ia berakhir homeless makanya ia kembali ke rumah Shigeko.
Ibu kemudian kembali dengan wajah berseri-seri menyampaikan ia punya kabar manis pada ayah, mereka tak perlu mengkhawtairkan Shoji lagi alasannya Shoji ternyata melangkah lebih dari yang mereka kira. Saat ayah bertanya ada apa, ibu menyampaikan ia tidak akan memberitahu ayah, alasannya SHoji harus memberitahu sendiri.
Ibu akan mengganti pakaian ke lantai 2 dan tiba-tiba pingsan. Semuanya panik, terutama ayah. Koichi eksklusif menyelidiki ibu dan menyuruh istrinya menghubungi rumah sakit.

Keadaan ibu benar-benar buruk, semuanya khawatir. Shigeko malah menyampaikan ia pikir ayah yang akan pergi duluan alasannya ibu masih terlihat sehat-sehat saja. Koichi yang tahu kondisi ibunya dan menyampaikan kalau mereka harus bersiap-siap, ibu tidak akan bertahan hingga besok pagi. Tentu saja hal ini menciptakan Shigeko eksklusif menangis. Diantara anggota keluarga hanya ayah yang bersikap paling tenang.
Shoji tiba terlambat alasannya pekerjaannya, Noriko juga tiba alasannya khawatir. Shoji belum memperkenalkan Noriko pada siapapun jadi mereka kaget melihat Shoji membawa seorang gadis sementara Shoji berusaha membangunkan ibunya dan mengingatkan ibunya mengenai pembicaraan mereka semalam.
Ibu menghembuskan nafas terakhirnya dikala fajar dan semuanya bersedih. Setelah kepergian ibu, ayah ke atap rumah sakit dan menatap matahari terbit, seolah fajar ialah ibu dan dikala fajar menghilang, ibu mengucapkan selamat tinggalnya.
Shoji tiba ke sana menjemput ayahnya, ayah benar-benar tenang, sementara Shoji berusaha damai tapi gagal.

Aku nangis banged dikala adegan itu, tentu saja, tapi yang menciptakan saya terisak hingga mengeluarkan bunyi ialah dikala bubuk kremasi ibu dibawa kembali ke pulau dan keluarga menyambutnya disana.
Saat Yuri-chan menangis, saya ikutan menangis, awalnya menutup lisan pake selimut semoga ga kedengaran ke luar, tapi ternyata saya beneran mengeluarkan suara. Karena Yuri menangis sangat-sangat sedih.
Yuri-chan ialah anak tetangga mereka, rumahnya bersebelahan dengan rumah mereka. Ibu selalu bicara di telpon dengan Yuri selama di Tokyo dan ia menitipkan anjing mereka pada Yuri.

Acara pemakaman akan dilakukan besok, yang pulang bersama ayah ialah Shoji dan Noriko. Sementara anak yang lain akan menyusul besok.
Noriko merasa kalau ia tidak disukai oleh ayah Shoji alasannya semenjak kemarin ayah Shoji tidak pernah bicara padanya, kalau ia bicara, ayah bahkan tidak menjawab. Shoji menyampaikan kalau begitulah perilaku ayahnya.
Keesokan harinya program pemakaman dilaksanakan. Seluruh keluarga berkumpul. Dan lagi-lagi Shigeko benar-benar nggak tau diri atau bagaimana, ibunya gres meninggal kemarin malah udah bicara mengenai kimono yang gres ia beli, ia akan mengambilnya, ia juga akan melihat pakaian usang ibu dan memperlihatkan beberapa pada Fumiko.
Shoji kesal sekali mendengar kakaknya begitu, ia memarahi kakaknya. Koichi menyampaikan peringatan 49 hari mereka akan kembali ke sana dan gres mereka membicarakan mengenai hal itu lagi.
Ia lebih mengkahwatirkan ayahnya yang akan tinggal sendirian mulai kini dan berniat mengajak ayahnya ke Tokyo untuk tinggal bersama mereka. Tapi ayah menolak, ia tidak akan pernah kembali ke Tokyo lagi. Ia menyampaikan ia akan baik-baik saja, ia sanggup mengurus dirinya sendiri.
Mereka khawatir mengenai makan ayah dan membersihakn rumah serta mencuci pakaian, ayah menyampaikan ia sanggup melakukannya, problem memasak ibu Yuri akan memasak untuknya. Shigeko menyampaikan pada ayah dilarang merepotkan orang lain lagi. TApi ayah menegaskan kalau ia tidak akan kembali ke Tokyo.
(Aku rasa ayah merasa sedikit membeci Tokyo alasannya anak-anaknya semuanya meninggalkan desa ke Tokyo dan istrinya meninggal di Tokyo).

Pada jadinya keluarga Shigeko dan Koichi kembali ke Tokyo dihari yang sama.
Yang tinggal di desa beberapa hari ialah Shoji dan Noriko. Mereka masih ingin menemani ayah. Ayah melaksanakan acara sehari-harinya, bertani. Shoji memperbaiki genteng dan Noriko mengurus pekerjaan rumah.
Tapi tentu saja mereka tak akan sanggup selamanya disana alasannya mereka juga punya kerjaan di Tokyo. Kaprikornus mereka memutuskan kembali hari itu, tapi Shoji belum memberi tahu ayah dan ingin Noriko yang menyampaikan pada ayah. Noriko kesal alasannya kiprah Shoji malah dilimpahkan padanya.

Noriko menyiapkan makan siang untuk ayah dan menyampaikan kalau mereka akan pulang siang ini. Noriko tahu ayah tak akan bicara padanya jadi ia permisi, tapi kemudian untuk pertama kalinya ayah meresponnya. Ia meminta Noriko duduk. Ia menyampaikan sepulang dari rumah Shoji ibu terlihat senang dan menyampaikan kalau mereka tak perlu khawatir lagi, ibu pergi tanpa sempat memberi tahunya, tapi kini ia mengerti maksud ini. Menurutnya Noriko gadis yang baik. Anak-anaknya segera kembali sehabis pemakaman tapi Noriko tinggal disini selama beberapa hari dan menjaganya tanpa mengeluh.
Noriko menyampaikan kalau itu tidak benar, meski ia tidak mengatakannya, tentu saja ia khawtair dengan pekerjaannya di Tokyo, ia juga bertanya-tanya apakah ia tidak seharusnya tiba alasannya ia belum resmi menjadi anggota keluarga. Ayah menyampaikan kalau Noriko sangat jujur. Ayah memperlihatkan jam tangan ibu padanya, jam tangan yang sudah ibu pakai selama 30 tahun, ia ingin Noriko menyimpannya, ibu niscaya senang.
Ayah juga membicarakan Shoji, ia selalu merasa Shoji lemah dan tidak punya masa depan, tapi melihat Noriko dan Shoji terlihat bersahabat ia jadi berfikir kalau Shoji lebih gentle dari siapapun di keluarganya dan sifat istrinya menurun pada Shoji.
Ia menyampaikan bila Noriko menjadi istri Shoji, ia sanggup meninggalkan dunia ini dengan damai dan ia meminta Noriko menjaga anaknya dengan baik. Noriko terharu mendengarnya, ia bahkan menangis alasannya ia tak menyangka ayah menyampaikan hal menyerupai itu.

Noriko dan Shoji kembali ke Tokyo. Noriko menceritakan apa yang terjadi pada Shoji tapi Shoji tak percaya, ia ragu ayahnya benar-benar melaksanakan itu.

Sementara itu, adegan terakhir benar-benar menciptakan saya menangis terisak lagi.
Pada akhirnya, ayah tinggal sendirian di rumahnya. Yuri-chan tiba membawa keranjang dan meminta ayah meletakkan pakaian kotor disana. Ia akan tiba bermain setiap hari ke rumah dan mengajak Goro (anjing keluarga Hirayama) jalan-jalan.
Ayah tersenyum padanya dan menyampaikan kalau ia gadis yang baik.
Yuri beneran gadis yang baik, saya terharu bangeeeeeed!!!!!!!!!!!!

Ini movie benar-benar menghangatkan hati, saya meneteskan banyak air mata selama menonton ini. Endingnya memang terasa menyedihkan tapi menyerupai banged dengan realita, jadi kita merasa dekat dengan kisahnya.
Ini ialah kisah perjalanan terakhir pasangan suami istri yang sudah menjalani pahit manis kehidupan. Mereka ke Tokyo untuk mengunjungi  anak-anak mereka, mereka lega alasannya bawah umur mereka hidup dengan baik, mereka kesana hanya untuk memastikan hal itu.
Mereka juga tentu saja ingin tinggal bersama anak-anaknya meski mereka tidak mengatakannya, tapi bawah umur mereka terlalu sibuk dengan ini dan itu bahkan hingga mengusir ayah dan ibunya secara halus. Ayah dan ibu mungkin terlihat baik-baik saja, tapi tentu saja di hati kecil mereka merasa kecewa.

Aku kaget lho alasannya kelihatan ini pertama kalinya mereka bertemu dengan cucu mereka, mungkin pernah waktu kecil kali ya. Tapi kalau tinggal berjauhan memang gitu sih, agak terasa awkward.
Aku sendiri menghabiskan masa kecil bersama kakek dan nenek, jadi udah dekat banged.

Ayah ialah tipe yang tidak sanggup memberikan perasaannya secara langsung, ia tipe yang cuek diluar tapi bekerjsama baik di dalam. Karena itu ia cocok dengan ibu yang penuh kasih sayang dan tahu bagaimana perasaan ayah sebenarnya.
Aku sanggup memahami sih, alasannya orang bau tanah saya tipenya persis menyerupai ayah dan ibu. Mereka khawatir pada anak bungsu mereka dan berfikir selama ini Shoji hanya main-main tanpa memikirkan masa depan, tapi ternyata Shoji sudah melangkah lebih jauh dari yang mereka kira.
Dari luar, orang berfikir mereka orang bau tanah sukses dengan bawah umur yang semuanya tinggal di Tokyo dan punya pekerjaan, apalagi anak pertama ialah seorang dokter. Tapi mereka semakin terasa jauh karenanya.

Makanya saya yang menonton What A Wonderful Family duluan jadi agak terasa gila dengan movie ini, alasannya castnya sama tapi kisah beda, semuanya beda termasuk sifat-sifat para castnya.
Di WAWF terasa kehangatan keluarga tapi disini terasa rasa kesepian ayah dan ibu. Bagaimana ayah dan ibu yang sudah bau tanah ingin menghabiskan waktu bersama keluarga gres bawah umur mereka, meski hanya semalam, mereka ingin tinggal bersama mereka. Aku nggak tahu sih apakah bawah umur kurang peka atau bagaimana, tapi itu benar-benar menciptakan saya menangis. Ibu dan ayah sangat pengertian mengenai bagaimana mereka membebani bawah umur mereka. Anak pertama dan kedua berusaha bersikap baik pada orang bau tanah mereka, meski jadinya saya merasa mereka melukai hati orang bau tanah mereka, sementara anak ketiga yang semenjak awal memiliki kekerabatan jelek dengan ayahnya, justru kelihatan ia yang paling nrimo mencintai orang tuanya.
Aku sanggup melihat dikala ibu menginap di rumahnya, ia satu-satunya yang excited dan bahkan banyak mengobrol dengan ibunya, berbeda dengan anak pertama dan bahkan anak kedua yang berdasarkan saya parah banged.

Ending movie ini terasa agak kejam tapi pada kenyataannya itu sering terjadi di dunia konkret dan itu memang hal terbaik yang sanggup mereka lakukan. Padahal saya mengharapkan ayah dan ibu pulang ke desa kembali sehabis mengunjungi bawah umur mereka, tapi kenyataan memang pahit ya.
Meski begitu, ini movie benar-benar memberi banyak pelajaran bagi kita dan mungkin akan muncul pertanyaan apakah kita pernah menyerupai itu? Apa kita suatu hari akan menyerupai itu?

Sebenarnya, bagi saya tema-tema movie menyerupai ini berat lho, hati harus dipersiapkan untuk menontonnya^^

Skor:
Story: 5/5
Acting: 5/5
Cinematography: 4/5
Music: 3/5
Opening: 4/5
Ending: 4/5
RECOMMENDED!

Continue Reading

More in J-Movie

To Top