Connect with us

Locafest.co.id

[Sinopsis] A Love So Beautiful Episode 16-1

A Love So Beautiful

[Sinopsis] A Love So Beautiful Episode 16-1

Ini yakni episode yang menyedihkan bagi Wu Bo Song. Selama ini ia tahu kalau Xiao Xi menyukai Jiang Chen, tapi ia belum sepenuhnya menyerah. Tapi disini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sejauh apa relasi Xiao Xi dan Jiang Chen, ia benar-benar menangis karenanya. Sedih banged huhuhuhuhu *peluk Bo Song T___T
Tapi alasannya yakni alasan itu juga ia balasannya menemukan apa yang harus ia lakukan, apa yang dilarang ia lepaskan.

To Our Pure Little Beauty Episode 16: What kind of adult do you want to become?

Xiao Xi dan Bo Song berguru perpustakaan. Xiao Xi berusaha mengajari Bo Song biar dapat lulus ujian masuk universitas. Tapi Xiao Xi sangat lemah akan matematika, jadi ia tak dapat menjelaskannya dengan baik. Bo SOng mengkhawatirkan Xiao Xi yang terlalu memaksakan diri.
Xiao Xi memperlihatkan memanggil Jing JIng untuk mengajari mereka tapi Bo SOng menyampaikan tidak perlu, ia pikir mereka harus mencicipi soalnya siapa tahu ada wangsit yang tiba dikepala mereka tapi tentu saja pada balasannya mereka tetap tak dapat mengerjakannya.
Xiao Xi menyampaikan kalau matematikanya tidak manis dan memperlihatkan berganti ke pelajaran bahasa Inggris. Tapi Bo Song tak mau merepotkan Xiao Xi dan menyampaikan kalau mereka sebaiknya berguru seni saja (karena Xiao Xi lebih menguasai itu).

Demi ujian masuk universitasnya dan juga untuk mengajari Bo Song, Xiao Xi berguru kelas di rumah, bahkan ketika makan ia terus membawa catatannya dan menghafal.
Ayah protes alasannya yakni Xiao Xi berguru sambil makan, tapi ibu membelanya alasannya yakni belakangan ini Xiao Xi sangat bekerja keras untuk ujiannya.
Ayah tidak percaya anaknya pekerja keras dan malah memuji Jiang Chen yang tes di Tsing Hua.
Xiao Xi yang sedang tak mau mendengarkan nama ‘JIang Chen’ balasannya berhenti makan dan kembali ke kamarnya.

Xiao Xi membuka jendela kamarnya dan menatap ke arah kamar Jiang Chen yang gelap. Ia menghempaskan badannya ke kawasan tidur dan bergumam kenapa Jiang Chen belum kembali juga.
Xiao Xi sangat merindukan Jiang Chen. Awwwww.

100 hari menjelang ujian masuk universitas (kalau di indo SBMPTN) para siswa berguru keras, para guru juga berusaha mengejar ketertinggalan dan menyampaikan latihan-latihan soal tahun sebelumnya, kalau tidak mengerti, guru menyuruh mereka eksklusif tiba ke kantor.
Direktur sekolah juga sangat waspada pada para siswanya dan bahkan mulai melarang mereka tidur siang alasannya yakni ujian masuk sudah dekat.
Saat jam istirahat, Xiao Xi dan Jing Jing naik ke atap sekolah. Jing JIng merasa lega ia tak lagi mencium bau kertas ujian, alasannya yakni semenjak pagi mereka terus mengerjakan soal dan mengerjakan soal.
JIng Jing dan Xiao Xi bahkan mulai menciptakan lagu menurut situasi mereka sekarang. Jing Jing menyampaikan kalau Xiao Xi niscaya merindukan Jiang Chen dan Xiao Xi menyampaikan Jing Jing juga niscaya merindukan Lu Yang.
Tapi Xiao Xi tahu JIng JIng niscaya berdebar ketika Lu yang menyampaikan perasaannya waktu itu. Jing Jing mengangguk. Xiao Xi menyampaikan kalau Jiang Chen menyampaikan hal ibarat itu padanya, ia niscaya akan sangat senang.
Jing Jing menyampaikan kalau tindakan Lu Yang waktu itu cukup untuk menciptakan hatinya tergerak, dan alasannya yakni Lu Yang tak ada disekolah ia juga merasa sedikit kehilangan.
Xiao Xi tersenyum menyampaikan tampaknya cinta sudah mulai mekar diantara mereka. JIng Jing memukul Xiao Xi alasannya yakni candaannya.
Jing Jing kemudian mendesah menyampaikan kalau ia masih belum dapat menemui Lu Yang. Xiao Xi menyampaikan Lu Yang masih di rumah sakit, Jing Jing dapat tiba tiba-tiba tanpa pemberitahuan supaya Lu Yang tak dapat sembunyi.

Jiang Chen balasannya kembali dari tes di universitas Tsing Hua, ketika ia kembali ke sekolah, seluruh sekolah penuh dengan spanduk penyemangat untuk ujian masuk universitas.
Saat ia kembali ke kelas, para siswa bertepuk tangan alasannya yakni ia sudah kembali dari ujiannya. Xiao Xi bahagia Jiang Chen kembali.
Wali kelas meminta para siswa mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan tujuan universitas mereka dan planning masa depan mereka. Jika mereka masih tak tahu apa yang akan mereka lakukan, maka pikirkan baik-baik dari sekarang. Para siswa mengerti.
Jing Jing bertanya apa yang akan ditulis Xiao Xi dan Xiao Xi menyampaikan ia tak tahu apa yang ingin ia lakukan dimasa depan. Xiao Xi mengintip milik Jiang Chen dan juga milik Jing Jing, mereka sudah menulis dengan yakin apa yang mereka inginkan.
Xiao Xi jadi sedih alasannya yakni ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia tulis.
Sementara itu Bo Song menatap kertas kosong yang ada dihadapannya, ia tak tahu akan menulis apa.

Xiao Xi dan Bo Song berguru di perpustakaan, ia bertanya pada Bo Song apakah ia sudah menulis yang diminta wali kelas. Bo Song menyampaikan ia belum menulisnya.
Xiao Xi bertanya apakah Bo Song tidak berencana untuk berenang lagi? Sangat disayangkan bila Bo Song tidak lanjut. Ia bahkan masih mempunyai medali yang diberikan Bo Song waktu itu dan Bo Song pernah berjanji akan menggantinya dengan emas suatu hari nanti. Xiao Xi malah ingin tau apakah itu emas orisinil dan dapat dijual. Bo Song tertawa dan menyampaikan ia akan membawakan satu nanti dan Xiao Xi dapat mencoba menggigitnya lol.
Bo Song kemudian berfikir sejenak dan bertanya, bila saya menyerah, apa kamu akan marah?
Xiao Xi menyampaikan kalau itu akan sangat disayangkan, tapi yang seharusnya murka bukan dirinya, tapi Bo Song sendiri dan keluarganya.

Bo Song meminta Xiao Xi jangan terlalu mengkhawatirkannya. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan, bagaimana denganmu? kamu tidak punya sesuatu yang ingin dilakukan di masa depan?
Xiao Xi berfikir dan mengatakan, ada banyak sekali, menjadi polisi, peneliti, guru, selebritis, saya sudah memikirkan banyak hal tapi entah kenapa saya merasa itu tidak cocok untukku.
Bo Song kemudian bertanya lagi, Aku tidak punya sesuatu yang sangat ingin kamu sukai?
Xiao Xi berfikir lagi dan menyampaikan ia suka menggambar dan….
Xiao Xi tidak melanjutkannya. Bo Song ingin tau tapi Xiao Xi tidka mau mengatakannya. LOL. (Jiang Chen HAHAAAHHA).

Xiao Xi dan Bo Song kembali berguru ketika Jiang Chen masuk ke perpustakaan dan melihat mereka berdua. Bo Song sedang  meminta Xiao Xi menjelaskan trigonometri padanya.
Xiao Xi melihat Jiang Chen dan memanggilnya, ia meminta Jiang Chen menjelaskan trigonometri pada mereka. Bo SOng menolak diajarkan Jiang Chen. JIang Chen juga malas mengajarkan mereka dan menyuruh mereka lanjut.
Jiang Chen mengomentrai mereka berdua yang kelihatan cocok, yang satu suka bicara dan yang satu pendengar yang baik.
Xiao Xi memandangi Jiang Chen sementara Bo Song kesal melihatnya.

Lu Yang sedang membaca buku ketika Jing Jing tiba-tiba masuk ke kamar, ia panik dan segera menyembunyikan dirinya dibalik selimut.
Jing Jing kali ini nggak mau lagi bersikap baik dan menyingkirkan selimut itu. Lu Yang masih saja berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menutupnya memakai buku lol.
Jing Jing menyampaikan kalau guru ingin mereka menuliskan universitas tujuan dan planning masa depan, ia akan mengambilkan milik Lu Yang. Ia juga membawakan soal dan jawaban ujian masuk universitas tahun lalu, ia sengaja meringkasnya untuk Lu Yang, tapi Lu Yang menolak.
Jing Jing memaksa Lu Yang melihatnya tapi Lu Yang tetap menolak dan menyuruh Jing Jing membawa itu pulang. IA menyampaikan ujian masuk sebentar lagi dan meminta Jing Jing berhenti menyia-nyiakan waktunya.
Jing Jing kesal sekali dan akan pergi, ketika Lu yang menyampaikan jangan tiba lagi,  Jing Jing berbalik dan kembali padanya.
Ia protes alasannya yakni Lu Yang bersikap ibarat itu padanya. Ia memaksa Lu Yang mengambil kertas yang ia bawa tapi Lu yang tetap menolak dan Jing Jing merobeknya. Ia kemudian meninggalkan Lu Yang dengan marah.
Setelah Jing Jing pergi Lu yang turun dari kawasan tidurnya dan mengambil sobekan demi sobekan kertas itu sambil bergumam, lihat betapa pemarahnya dirimu, selain aku, siapa yang akan tahan dengan sikapmu itu?

Xiao Xi masih belum menulis tujuan universitas dan planning masa depannya, ia gundah sendiri. Pada balasannya ia menulis beberapa profesi yang ia pikirkan di sebuah penghapus berbentuk dadu dan mulai melemparnya.
Tapi sehabis hasilnya keluar ia malah ragu dan melempar lagi dan lagi. Sampai balasannya sis ‘manhuwa artist’ keluar dan ia tetapkan menulis manhua artist sebagai pekerjaan masa depannya (manga-ka).
Untuk planning masa depannya, ia menulis ‘Chen Xiao Xi, Jiang’s family grandma’ HAHAHHAHAHAHAHAH. Nenek keluarga Jiang alias ia nikah sama Jiang Chen, terus punya anak dan cucu wkwkkwwkwkw.
Xiao Xi kemudian melihat sebuah buku dan menyampaikan hanya Jiang Chen yang belum mengisi itu.
*Itu semacam buku tahunan, atau binder, biasanya kan sebelum lulus teman-teman disuruh mengisi itu heheeheh. Dulu pas Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengan Atas saya juga melakukannya. Masih ada hingga sekarang.

JIang Chen tiba ke rumah sakit untuk menjenguk Lu Yang. Ia melihat seorang anak kecil sedang menangis disana dan duduk disampingnya. Anak itu menangis alasannya yakni ibunya menyampaikan kalau ayahnya mungkin tak akan kembali lagi.
Jiang Chen jadi teringat ketika ayahnya meninggal dulu, ia juga menangis dan dokter meminta maaf padanya alasannya yakni tak dapat menyelamatkan ayah Jiang Chen. Ayah Jiang Chen yakni orang baik yang mendonorkan organnya bagi yang membutuhkan.

Jiang Chen masuk ke kamar Lu yang ketika Lu Yang sibuk menggabungkan kembali kertas yang disobek Jing Jing tadi dengan selotip.
JIang Chen bertanya apa itu dan lu Yang menyampaikan kalau Jing merobeknya, alasannya yakni ia menciptakan Jing marah.
Jiang Chehn bertanya apakah Lu Yang serius akan mengakhiri semuanya ibarat ini?
Lu Yang menatap Jiang Chen dan menyampaikan kalau ia pikir tubuhnya tidak mempunyai kualifikasi untuk menyukai seseorang. Ia hanya akan menciptakan Jing Jing sedih pada akhirnya.
Jiang Chen menatap Lu Yang dan menyampaikan susu padanya. Ia bertanya apa yang dokter katakan dan Lu Yang tidak tahu alasannya yakni orang tuanya tidak mau menyampaikan padanya. Mungkin orang tuanya takut ia akan khawatir.
Lu Yang meminta Jiang Chen berhenti membicarakannya, ia bertanya bagaimana dengan ujian Jiang Chen dan Jiang Chen menyampaikan tidak ada masalah. Lu Yang merasa salah bertanya begitu alasannya yakni tentu saja bagi seseorang ibarat Jiang Chen tidak akan ada masalah.
Ia mengubah pertanyaannya, apakah Jiang Chen benar-benar akan ke Tsing Hua dan berguru matematika? Ia menyampaikan Xiao Xi tiba beberapa waktu yang kemudian dan meratap/menangis sepanjang hari alasannya yakni Jiang Chen akan ke Beijing sementara ia tak dapat tes di Beijing alasannya yakni nilainya tidak bagus.
Jiang Chen tersenyum mendengarnya dan menyampaikan kalau ia tak akan kuliah di Beijing. Lu Yang terkejut, kamu tidak akan pergi? hanya untuk Xiao Xi?
Jiang Chen menyampaikan kalau ia ingin berguru obat-obatan dan ia juga ingin berada disisi Xiao Xi.
Lu Yang cukup kaget mendengar itu keluar dari verbal Jiang Chen, Oh My God, saya tidak salah dengar kan?
Jiang Chen membalas, mungkin saja kamu salah dengar. Keduanya tertawa.
HAHAAHAAHAHAHHAHA.
Lu Yang menyampaikan kalau sehabis lulus Xiao Xi dan Jiang Chen akan tetap bahu-membahu dan itu manis untuk mereka.
Jiang Chen berkomentar, bila kamu merasa iri, berhentilah menghindari Jing Jing. Belakangan ini Jing Jing memprihatinkan, selalu terlihat murung.
Lu Yang tersenyum pahit, Bukankah kamu pikir saya sedikit jahat? Sebelumnya saya selalu mengejar-ngejarnya dan kini saya menghindarinya. Aku sangat takut akan masa depanku. Jika saya bersamanya, ia akan lebih sedih lagi dimasa depan.
Jiang Chen melamun dan menyampaikan kalau berfikir terlalu banyak begitu ibarat bukan Lu Yang saja.
Lu Yang hanya mencoba tersenyum, tapi ia serius ia melaksanakan ini demi Jing Jing.

JIang Chen pulang ketika ibunya melihat ranking jurusan di seluruh China, jurusan matematika Universitas Tsing Hua yakni jurusan no 1 se-China.
Jiang Chen menyampaikan kalau ia tidak akan kuliah di Tsing Hua dan ibunya bertanya apakah Jiang Chen tidak lancar menjawab pertanyaan ketika ujian?
JIang Chen menyampaikan kalau ia ingin berguru obat-obatan/dokter. Ibu tentu saja tidak setuju. Ia tak ingin membahas itu dan menyampaikan mereka harus menunggu hasil ujian Jiang Chen dulu gres bicara lebih lanjut.
Jiang Chen hanya dapat mendesah dan kembali ke kamarnya.

Lu Yang sendiri di kamarnya sedang belajar. Saat ada yang membuka pintu ia eksklusif melihat ke arah pintu, berharap itu yakni Jing Jing.
Tapi semenjak hari itu, Jing Jing tidak pernah tiba lagi ke rumah sakit.

Waktu berlalu.
Xiao Xi menarik Jiang Chen untuk duduk bersamanya, ia ingin Jiang Chen mengajarkan fungsi trigonometri untuknya.
Jiang Chen tidak menolak hari itu dan mulai mengajari Xiao Xi. Ia menjelaskan mengenai apa itu fungsi trigonometri dan menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya. Kemudian meminta Xiao Xi menuntaskan soalnya.
Xiao Xi mendengarkan dengan baik dan mulai mengerjakan soal dengan serius, sementara Jiang Chen rahasia menatap wajahnya.
Karena Xiao Xi usang banged mengerjakan soalnya, Jiang Chen jadi mengantuk dan tidur di meja.
Xiao Xi sendiri fokus pada soal yang ada dihadapannya.

Saat Xiao Xi sudah menyelesaikannya, ia melihat ke arah Jiang Chen yang sedang tidur. Xiao Xi menatap wajah tidur Jiang Chen dan tiba-tiba ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Jiang Chen untuk menciumnya aawwwwwwwwwwww.
Tapi teryata Jiang Chen tidak tidur, ia merasakannya dan membuka matanya. Xiao Xi terkejut.
Jiang Chen bertanya apa yang Xiao Xi lakukan. Xiao Xi menjawab, Jika saya menyampaikan kalau saya akan menghapus keringatmu, apa kamu percaya?
Jiang Chen membisu saja, ia kemudian berbalik ke arah lain dengan perlahan. Xiao Xi kemudian kembali duduk dan menatap bab belakang kepala Jiang Chen. Ia tersenyum diam-diam.

Keduanya tidak tahu kalau Bo Song lewat disana dan melihat hal itu dari jendela.
Dari sisi Bo Song, hal itu terlihat ibarat Xiao Xi yang mencium Jiang Chen, padahal nggak kena.
Bo Song jadi terpukul melihatnya, ia sangat sedih dan bahkan jalan nggak lihat-lihat ketika melewati lapangan dimana banyak siswa bermain bola.
Mereka menabrak Bo Song dan hidung Bo Song berdarah.
Bo Song dibawa ke UKS. Dokter perempuan yang menggantikan dokter Li mengobatinya.
Saat dokter mengobati luka Bo Song, Bo Song menangis alasannya yakni hatinya terluka.
Dokter itu berfikir kalau air mata Bo Song keluar alasannya yakni lukanya merangsang indera lainnya sehingga air matanya keluar.
Tapi saya pikir Bo Song menangis alasannya yakni Xiao Xi T__________T.
Aku sulit menjelaskan adegan ini, tapi benar deh, ini adegan sedih banged, ketika Bo Song mengeluarkan air matanya, akting Gao Zhi TIng keren bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeed!!!!!!!!!!!!!
You deserve better person, jiayo! Wu Bo Song!

Continue Reading

More in A Love So Beautiful

To Top