Connect with us

Locafest.co.id

[Sinopsis] A Love So Beautiful Episode 8-1

A Love So Beautiful

[Sinopsis] A Love So Beautiful Episode 8-1

Belakangan ini banyak yang mencuri artikel blog-ku dengan auto blog, jadi saya resah apa yang harus saya lakukan. Satu-satunya yang sanggup dilakukan ialah mempost postingan kosong terlebih dahulu. Kaprikornus harap dimaklumi kalau saya akan mempost postingan kosong terlebih dahulu dan saya akan mengeditnya 15-30 menit kemudian🙏🙏🙏🙏

To Our Pure Little Beauty Episode 8: Don’t Move, I’ll Come to Find You

Di tim renang, ada pengumuman Wu Bo Song dikeluarkan dari tim. Para senior mengkhawatirkan Bo Song dan memintanya untuk meminta maaf pada pelatih, mereka berfikir hal ini alasannya interview ketika Bo Song memenangkan pertandingan waktu itu. Senior yakin instruktur akan memaafkan Bo Song alasannya Bo Song ialah atlit favorite pelatih.
Tapi Bo Song tidak mau lagi membungkuk dihadapan ayahnya dan ia tetapkan untuk keluar dari tim.

Ayah dan ibu Xiao Xi sedang sibuk menentukan tanggal baik untuk membuka restoran mereka. Xiao Xi yang akan berangkat sekolah menghampiri mereka dan menyampaikan kalau sabtu depan ialah tanggal bagus. Ayah mengeceknya dan itu tanggal yang cocok untuk pemakaman HAHAHHAHAHA.
ayah dan ibu meminta Xiao Xi untuk tidak menganggu mereka alasannya mereka sibuk. Xiao Xi cemberut alasannya ibunya lebih sayang restoran dari anaknya sendiri,karena Xiao Xi bersama-sama menunjukkan hint perihal hari ulang tahunnya.

Xiao Xi dan Jing Jing sedang bermain dokter dan pasien di UKS, Xiao Xi menjadi ibu hamil dan Jing Jing dokternya. Xiao Xi hamil anaknya Jiang Chen HAHAHAAHAHAHA. Tapi Xiao Xi tidak sanggup masuk dalam karakternya alasannya beliau lapar, ia menyampaikan ia ingin makan camilan manis ulang tahun. JIng Jing menyampaikan ia tahu kalau sebentar lagi Xiao Xi ulang tahun alasannya Xiao Xi sudah menunjukkan hint ratusan kali.
Jing JIng menyampaikan ia sudah menciptakan planning semenjak jauh-jauh hari alasannya ulang tahun Xiao Xi tahun ini sama dengan hari konser Chun Chun.
Xiao Xi senyam senyum menyampaikan kalau ia ingin menghabiskan waktu bersama Jiang Chen di hari ulang tahunnya.
JIng Jing protes alasannya Xiao Xi tidak mendahulukan pertemanan mereka. Xiao Xi menyampaikan kalau ia melihat gosip Manchester United akan bertanding di Hangzhou ketika hari ulang tahunnya. JAdi ia ingin pergi menonton bersama Jiang Chen.
Jing Jing curiga dan bertanya, kau tidak berfikir untuk membelikannya tiket kan?
Tapi Xiao Xi memang niat melakukannya. JIng JIng mengungatkan kalau tiket pertandingan itu sangat mahal, untuk membelinya Xiao Xi harus menjual hatinya, kebaikannya bahkan organ tubuhnya. Ia juga mengingatkan ini ialah ulang tahun Xiao Xi bukan Jiang Chen, kenapa Xiao Xi yang susah payah.
Xiao Xi tidak peduli dan menyampaikan kalau Jiang Chen ialah fans MU yang tiba ke Hangzhou sekali dalam beberapa tahun, ia tak peduli ulang tahun siapa, ia ingin menonton bersama Jiang Chen, kebetulan tahun ini sempurna ulang tahunnya.
Xiao Xi kemudian mengingat sesuatu dan bertanya ketika mereka bermalam di Hainan waktu itu, kertas siapa yang diambil Jing Jing.
Jing Jing menyampaikan itu milik Lu Yang, alasannya tulisannya jelek.
Xiao Xi tersenyum mendengar hal itu dan meminta Jing Jing menebak kertas siapa yang ia dapatkan.
Jing Jing menatap Xiao Xi dan menjawab, Jiang Chen?
Xiao Xi senyum malu-malu HAHHAHAHAAHAHA.
*ternyata Xiao Xi yakin banged itu dari Jiang Chen.

Di kelas, Jing Jing bicara pada Lu Yang dan menyerupai biasa Jiang Chen sibuk di mejanya tapi telinganya bergerak mendengarkan HAHAHAHAHAHHA.
Jing menyampaikan sebentar lagi ulang tahun Xiao Xi, apakah Lu Yang tak akan melaksanakan sesuatu untuk Xiao Xi.
Lu Yang menyampaikan ia tahu, alasannya Xiao Xi sudah memberi hint berkali-kali.
Bo Song yang tidur kemudian terbangun dan terkejut kenapa Xiao Xi tidak memberitahukan itu padanya?
Mereka menjawab mungkin alasannya Xiao Xi tidak mau Bo Song menghabiskan banyak uang untuk Xiao Xi, alasannya Bo Song selalu membelikan Xiao Xi sesuatu. Bo Song kemudian berfikir.
Jing Jing bertanya apakah Lu Yang sudah membelikan hadiah ultah untuk Xiao Xi dan Lu Yang menjawab ketus, memangnya bawah umur butuh hadiah?
Jing Jing kesal dan memukul Lu Yang. Ia kemudian menunjukkan uang pada Lu Yang untuk disimpan, ia ingin mereka mengumpulkan uang untuk membantu Xiao Xi.
Jing Jing tampaknya sengaja membesarkan suaranya semoga Jiang Chen mendengarkan, ia menyampaikan kalau belakangan ini Xiao Xi menjadi fans MU dan ingin membeli tiket untuk pertandingan nanti. Jiang Chen terkejut mendengarnya. Bo Song juga rahasia mendengarkan.
Lu Yang menyampaikan ia punya sobat yang sanggup membantu untuk mendapat tiket itu, tapi kenapa Xiao Xi tiba-tiba menjadi fans MU?
JIng Jing menjawab itu alasannya ada banyak laki-laki tampan dalam tim MU HAHHAHAHAHAAHAHHAHHA.
Kayaknya Lu Yang dan Bo Song percaya wkkkwkwkwkkwkw.

Lu Yang kemudian mengubah pembicaraan dan bertanya bagaimana hubungan Bo song dengan ayahnya. Bo Song dengan malas menjawab ia baik-baik saja.
Lu Yang mengingatkan kalau Bo Song sudah dikeluarkan dari rumah, bagaimana mungkin itu baik-baik saja?
Bo Song protes alasannya Lu Yang tahu semua tentangnya.
Lu Yang mengajak Bo Song menginap dirumahnya, alasannya kebetulan orang tuanya liburan selama 2 hari.
Bo Song menolak dan menyampaikan ia akan pergi ke rumah neneknya. Lu Yang kecewa.
Bo Song dan Jing Jing meninggalkan kelas alasannya urusan masing-masing. Xiao Xi yang gres masuk kemudian berbisik pada Lu Yang, ia bertanya Lu Yang mendapat kertas siapa dalam permainan waktu itu.
Lu Yang senyam senyum sendiri dan menyampaikan ia mendapat milik Jing Jing.
Xiao Xi senyum senang alasannya kemungkinan kertas yang ia dapatkan ialah milik Jiang Chen semakin besar, ia bergumam kalau kertas yang ia dapatkan ialah milik Jiang Chen.
Lu Yang melihat ekspresi Xiao Xi dan bertanya kenapa Xiao Xi bicara dan senyam senyum sendiri.
Xiao Xi menyampaikan itu alasannya kebahagiaan tiba-tiba menghampirinya, ia bahkan hampir menangis sekarang.
Xiao Xi senang banged dan melirik Jiang Chen yang sibuk dengan belajarnya.
*Ini Jiang Chen kerjaannya berguru aja kalau dikelas tapi telinganya daya tangkapnya berpengaruh wkwkkwkkw

Di rumah, ibu sedang menghitung uang dan Xiao Xi tiba mendekatinya sambil membacakan puisi perihal ibu keras-keras. Ibu resah melihatnya.
Xiao Xi mendekati ibunya dan meminta uang. Ibu menunjukkan 2 lembar uang. Xiao Xi tidak puas dan ia membacakan puisi ibu lagi, Ibu jadinya memberikannya pemanis selembar uang 50 RMB (sekitar 100ribu rupiah). Ibu menyuruhnya membisu alasannya beliau sedang sibuk.
Xiao Xi meminta lebih dan ibu bertanya berapa, Xiao Xi menyampaikan ia ingin 500 RMB (sekitar 1 juta rupiah). Ibu terkejut untuk apa uang sebanyak itu?
Xiao Xi menyampaikan ia ingin menonton pertandigan sepak bola, MU akan tiba ke Hangzhou. Ini ialah kesempatan sekali seumur hidup, beliau tak pernah melihat mereka sebelumnya, alasannya itu ia ingin melihat mereka.
Ibu berkata, kau seharian dirumah dan tidak menggerakkan otot-ototmu dan kau ingin menonton pertandingan bola?
Xiao Xi menyampaikan ia ingin menontonnya dan ibu mengingatkan mereka punya TV, Xiao Xi sanggup menontonnya dari TV.
Xiao Xi cemberut dan meninggalkan ibunya.

Xiao Xi tetapkan mencari pekerjaan sambilan. Ia melihat sebuah kedai mencari pekerja paruh waktu dan singgah disana. Saat ia memanggil bos-nya, yang keluar malah Bo Song dan Xiao Xi terkejut melihat Bo Song disana. Bo Song juga kaget alasannya ia tak berfikir akan bertemu Xiao Xi disana.
Xiao Xi menatapnya curiga dan bertanya kenapa Bo song disana, padahal kemarin katanya Bo Song akan tinggal dirumah neneknya.
Bo Song menciptakan alasan menyampaikan ia tak ingin menciptakan neneknya khawatir. Xiao Xi mengerti dan bertanya apakah Bo Song akan tinggal disana selamanya?
Bo Song tidak menjawab dan bertanya kenapa Xiao Xi ada disana. Xiao Xi menyampaikan ia ingin menghasilkan uang.
Bo Song bertanya, untuk membeli tiket MU?
Xiao Xi kaget alasannya Bo song tahu, ia bertanya apakah mereka masih mencari pekerja dan Bo Song mengataka tampaknya tidak, alasannya pagi tadi bos memintanya mencabut pengumuman itu, ia hanya belum sempat melakukannya.
Xiao Xi mengerti. Xiao Xi kemudian bertanya apa yang Bo Song tulis dalam kertas waktu itu.
Bo song terkejut dan terbata-bata mengataakn Hotpot, Hotpot ialah masakan favoritenya.
Xiao Xi senang sekali mendengarnya, ia memukul gemas pada Bo song dan menyampaikan lain kali ia akan mentraktirnya. Bo Song menyampaikan seorang atlit tidak sanggup makan masakan yang mereka inginkan.
Xiao Xi mengerti dan menyampaikan ia harus pergi.

Xiao Xi makin semangat mencari pekerjaan demi Jiang Chen, alasannya beliau kini yakin kalau kertas yang bertuliskan ‘i love chen xiao xi’ ialah dari Jiang Chen.
Xiao Xi kesana kemari tapi sangat sulit mencari pekerjaan. Ia jadinya menemukan yang mau mempekerjakannya, tapi harus menciptakan surat kesehatan.
Saat Xiao Xi ke rumah sakit, ia gugup untuk periksa dan malah lari ketika dokter akan memeriksanya wkwwkkkwkw.
*mungkin ada yang namanya sama dengan Xiao Xi, pas beliau masuk si dokter mau menyidik anus Xiao Xi lol, mungkin pasien itu sakit wasir XD

Xiao Xi pulang ke kompleks apartemennya dengan tidak bersemangat, ia terus melihat kebawah sambil mengiring sepedanya.
Jiang Chen ada di parkiran sepeda dan bertanya apakah Xiao Xi sedang mencari uang? (karena terus melihat kebawah)
Xiao Xi menatap Jiang Chen dengan tatapan duka dan meminta maaf. Jiang Chen bingung.
Xiao Xi menyampaikan kalau ia tak sanggup menunjukkan apa yang Jiang Chen inginkan. Xiao Xi mendesah dan berjalan meninggalkan Jiang Chen.\
Jiang Chen terus menatapnya dan tak mengerti apa yang dibicarakan Xiao Xi.

Keesokan harinya, ketika jam pelajaran, Xiao Xi menulis sesuatu di kertas dan melemparnya ke Jiang Chen. Kertas itu bertuliskan, ayo keluar hari sabtu ini.
Jiang Chen berhati-hati membuka kertas itu semoga guru tak melihat, ia melirik ke arah Xiao Xi dan Xiao Xi menunggu balasannya. Jiang Chen melipat kembali kertas itu dan meletakkannya dimeja, ia tak membalasnya.
Xiao Xi tak mengalah dan menulis lagi, ayo pergi berpetualang!
Jiang Chen membacanya dan melirik lagi, Xiao Xi menunggu jawaban. Jiang Chen memberi tanda time out pada Xiao Xi, untuk menunggu.
Xiao Xi mengantisipasi jawaban Jiang Chen. Jiang Chen jadinya menuliskan jawabannya dan melempar ke arah Xiao Xi.

Xiao Xi membuka kertas itu dan Jiang Chen menggambar jari tanda OK.
Xiao Xi senyam senyum melihat kertas itu dan senyumannya terus di wajahnya ketika mendengarkan pelajaran sementara Jiang Chen bersikap cool. Aseeeek.
*SUER nggak nyangka Jiang Chen bilang OK, i mean, ini Jiang Chen lho, biasanya kan beliau niscaya enggak enggak dan enggak, atau menjawab dengan nada mengejek meski nanti niscaya datang, tiba-tiba beliau bilang Oke gimanaaaaaaa gitu HAHAHAHAAHHAHA. Jangan-jangan beliau sudah mulai waspada dan nggak mau kalah sama Bo Song wkwkwkkkwk.

Guru kemudian menunjukkan pengumuman di kelas, kalau Bo song memenangkan pertandingan terakhirnya dan seluruh kelas bertepuk tangan dan memberi selamat pada Bo Song.
Guru menyampaikan siaran ulang pertandingan akan tayang sebentar lagi dan mereka akan menonton bersama-sama. Seluruh siswa bersemangat. Jiang Chen tampak tidak damai alasannya ia melihat apa yang terjadi ketika itu.
Tentu saja yang disiarkan bukan hanya pertandingannya, tapi sesi wawancaranya juga. Saat reporter bertanya siapa yang memotivasi Bo Song untuk menang, ia menarik Xiao Xi kesampingnya.
melihat itu seluruh siswa menatap Xiao Xi dan Bo song, mereka mulai mengejek dan tertawa. Bo Song senyam senyum aja meski diejek oleh teman-temannya.
Jiang Chen berusaha bersikap damai dan fokus pada hal lain. Xiao Xi sendiri merasa tidak lezat dan melirik ke arah Jiang Chen.

Saat jam istirahat, Xiao Xi mendekati Jiang Chen yang sedang membaca koran. Xiao Xi mengetuk koran itu semoga Jiang Chen menyingkirkannya alasannya ia akan bicara.
Xiao Xi bertanya apakah Jiang Chen sudah mendapat tiket untuk pertandingan MU?
Jiang Chen menyampaikan belum, alasannya sudah habis terjual.
Xiao Xi kemudian bertanya siapa pemain favorite Jiang Chen.
Jiang Chen melirik Xiao Xi dan mengangkat korannya, ia malas bicara. Xiao Xi menunduk kecewa.
Tapi Jiang Chen kemudian menjawab, Rooney.
Xiao Xi eksklusif senyum senang alasannya Jiang Chen menjawabnya dan menyampaikan kalau ia juga menyukai Rooney lol.
Jiang Chen tidak menyingkirkan korannya, meski saya yakin 100% beliau nggak baca HAHAAAHHA. Xiao Xi sendiri dihadapannya senyam senyum sendiri, alasannya beliau punya planning lain.

Karena mendapat tiket MU sangat sulit + mahal, Xiao Xi mengganti rencananya. Ia mengajak Jing Jing menemaninya ke toko buku, dimana disana ia bertemu dengan seorang laki-laki yang membawakannya jersey yang sudah ditandatangani Rooney.
Jing Jing curiga ini penipuan dan mengecek barangnya, dan bertanya kenapa di jersey-nya ada goresan pena China. Orang itu menyampaikan Rooney berguru goresan pena China untuk pertandingan kali ini. Rooney ialah pemain yang tahu bagaiman cara memenangkan hati fansnya.
Xiao Xi benar-benar polos dan percaya akan hal itu. Jing Jing masih curiga dan meminta diskon alasannya menurutnya jersey itu terlalu mahal, harganya 200RMB (sekitar 400ribu rupiah).
Tapi laki-laki itu tidak mau, ia menyampaikan kalau tidak mau beli ia akan mengambil barang itu lagi, alasannya orang lain banyak yang mau beli.
Xiao Xi tentu saja tak mau dan oke membayarnya 200 RMB LOL.
Jing Jing masih tak mengerti kenapa Xiao Xi membelikan jersey untuk Jiang Chen. Xiao Xi menyampaikan awalnya ia ingin membelikan tiket tapi uangnya tidak cukup, jadi ia tetapkan membeli ini.

Saat mereka melihat-lihat di toko buku, ada bawah umur yang masuk dan mulai menggosipkan Xiao Xi. Mereka mengenali Xiao Xi ialah gadis yang bersama Bo Song di TV alias pacar Bo Song dan menyampaikan selera Bo Song rendah alasannya Xiao Xi hanya gadis biasa, berpakaian menyerupai dipemakaman, nilainya rendah, pokoknya Xiao Xi tidak cocok untuk Bo Song.
Xiao Xi dan Jing Jing kesal mendengarnya. Jing Jing bicara pada mereka, kalian bilang Xiao Xi tidak cukup baik untuk Bo Song? Bisakah kalian menyampaikan kenapa Xiao Xi tidak cukup baik untuknya?
Anak-anak itu terdiam. Xiao Xi membalas, Aku cukup baik untuknya, saya berada dilevel yang sama dengannya!
Tiba-tiba Lu Yang ada disana dan menyapa Jing Jing. JIng Jing berbalik dan shock alasannya Jiang Chen juga ada disana. Tentu saja Xiao Xi juga lebih panik dan menciptakan alasan kalau bawah umur itu menyampaikan ia tak selevel dengan Jiang Chen.
Jiang Chen menatap Xiao Xi dengan hambar dan berkata, tampaknya saya mendengar mereka membicarakan Wu Bo Song.
Xiao Xi hanya sanggup tersenyum tidak lezat dan Jiang Chen bad mood, meninggalkan daerah itu. Lu Yang protes alasannya mereka gres masuk ke sana, masa sudah mau pergi?

Jing Jing resah dengan perilaku Jiang Chen, ada apa dengannya? Apakah beliau cemburu?
Xiao Xi menyampaikan mustahil Jiang Chen cemburu. Xiao Xi kemudian berfikir, atau mungkin beliau memang cemburu.
Jing Jing bingung. Xiao Xi berbisik dan menyampaikan kalau kertas yang ia dapatkan ialah milik Jiang Chen.
Xiao Xi: Aku sepertinya….
Jing Jing: Sepertinya apa?
Xiao Xi: akan pacaran muda.
Xiao Xi senyam senyum sendiri HAHAHHAHAHAHAH.
*emang ada ya istilah pacaran muda? kalau nikah muda gue tau wkwkwkwkw

Jing Jing murka pada Lu Yang alasannya masih belum membelikan tiket untuk pertandingan MU. Lu Yang menyampaikan temannya tidak sanggup menemukan tiket, alasannya sangat sulit mengingat semuanya sudah sold out.
Jing Jing mengerti dan mengingatkan Lu Yang untuk tidak membelanjakan uangnya. Lu Yang kecewa dan bertanya apakah ia terlihat menyerupai orang yang akan makan uang orang lain?
Lu Yang menyampaikan mereka tidak posisi punya banyak uang, contohnya tiket itu memang ada, mereka harus mencari cara untuk mengumpulkan uang tambahan, mungkin mereka tak sanggup membelinya alasannya mereka tak punya cukup uang.
Jing kesal mendengarnya dan memukul Lu Yang alasannya sangat pesimis. Lu Yang mengerti, ia akan menelpon temannya lagi untuk tiket itu.
Jing Jing tersenyum mendengarnya. Lu Yang juag tersenyum. Jing menatap Lu Yang, kenapa kau masih berdiri disini? cepat cari.
HAHAAHHAHAHAHHAHA.

Demi sang pujaan hari, Lu Yang akan menemui temannya untuk mendapat tiket itu. Tapi ditengah jalan ia tidak boleh oleh beberapa preman yang memeras uangnya.
Mereka mengenal Lu Yang, tampaknya mereka mengenal Lu Yang semenjak kecil dan sering membully-nya.
Lu Yang mencoba mempertahankan diri dan kabur, tapi ia tak sanggup alasannya preman itu ada banyak dan mengambil uangnya.

Senior Bo Song makan di kedai daerah Bo song bekerja. Mereka bertanya apakah Bo Song tinggal disana dan Bo Song membenarkan, ia tak perlu membayar uang sewa, ia bahkan mendapat yang dari pekerjaannya.
Mereka resah kenapa Bo Song membutuhkan uang, padahal uang hadiah pertandingan selama ini niscaya banyak.
Yang lain berkata, kau pikir uang hadiahnya itu untuk Bo Song? Ayahnya tentu saja yang memegang semua uangnya.
Bo Song hanya tersenyum. Mereka bertanya lagi untuk apa Bo Song mencari uang belakangan ini dan Bo song menyampaikan ia ingin membeli tiket untuk pertandingan MU. Awwwwwwwwwwww.
Senior mengingatkan Bo Song, meski Bo Song punya uang, mendapat tiket itu sangat sulit. Bo Song memakai kesempatan itu untuk meminta sumbangan dari seniornya, alasannya seniornya bersahabat dengan tim sepak bola, ia yakin anak tim sepak bola gampang mendapat tiketnya.
Mengingat yang meminta sumbangan ialah Bo Song dan Bo Song juga mentraktir mereka, ia oke untuk mencarikan tiket.
Bo Song sangat senang mendengarnya.HUWAAAAAAAAAAA saya takut kau terluka, WuBong

Xiao Xi sedang menggambar di papan tulis belakang dibantu oleh Bo Song dan Lu Yang yang memegang kursi untuknya.
Lu Yang tak sabaran dengan Xiao Xi dan menyampaikan ia akan menggantikan Xiao Xi tapi Bo Song menyampaikan padanya untuk tidak menganggu bos-nya yang sedang menggambar.
Lu Yang tak peduli dan mulai mewarnai gambar itu seorang gadis yang sedang membaca buku, ia mewarnai bukunya dengan warna kuning dan menyampaikan kini terlihat sebagai seorang gadis yang membaca buku kuning (yellow book = buku po**o)
Bo Song kesal dan menyuruh Lu Yang menghapusnya.

Anak-anak yang lain melihat mereka dan bergosip mengenai Xiao Xi dan Bo Song. Mereka bertanya-tanya apakah benar kalau Bo Song pacaran dengan Xiao Xi dan mereka berfikir itu benar, melihat betapa dekatnya mereka, bahkan sudah masuk ke media.
Xiao Xi yang mendengarkan itu memasang wajah duka alasannya kesalah pahaman teman-temannya. Ia tak sengaja melihat ke luar jendela dan Jiang Chen berdiri disana menyerupai hantu, menatap mereka dengan tajam HAHAHHAHAHHAA. Xiao Xi hingga kaget.
Jiang Chen masuk ke kelas dengan kesal, mengambil tasnya dan akan pulang. Xiao Xi panik melihatnya dan meminta Jiang Chen menunggunya.
Xiao Xi hingga lupa ia berdiri diatas kursi dan berusaha mengejar Jiang Chen untuk pulang bersama, tentu saja ia terjatuh.
Bo Song kaget dan menangkap Xiao Xi. Xiao Xi jatuh ke pelukannya.
Jiang Chen melihat hal itu dan menyipitkan matanya seolah menyampaikan ‘apa yang kalian lakukan’. Xiao Xi panik banged HAHHAHAAHA.

Jiang Chen tak peduli dan keluar. Xiao Xi berlari mengambil tasnya dengan tergesa-gesa, ia mengucapkan bye pada Lu Yang dan Bo Song, kemudian mengejar Jiang Chen.
Setelah Xiao Xi keluar, Lu Yang dan Bo Song saling pandang. Lu Yang berkomentar, kenapa suasananya jadi tegang begini?

Xiao Xi dan Jiang Chen pulang bersama. Xiao Xi terus menarik tas Jiang Chen dan bertanya apakah Jiang Chen murka padanya?
Jiang Chen memintanya melepaskan tasnya dan Xiao Xi memohon semoga Jiang Chen jangan murka padanya.
Xiao Xi kemudian melepaskan pegangannya dan membuka tasnya, ia menyampaikan bersama-sama ia ingin menunjukkan ini pada Jiang Chen sabtu nanti…
Xiao Xi mengeluarkan jersey MU yang ia beli dan menunjukkan pada Jiang Chen, ia menyampaikan kalau ada ttd Rooney disana.
Jiang Chen menatapnya dan menyampaikan ia tak menginginkan itu. Ia juga menyampaikan ia tak akan pergi sabtu ini.
Xiao Xi terkejut dan protes alasannya mereka sudah kesepakatan akan pergi. Xiao Xi menyampaikan sangat sulit mendapat Jersey ini, awalnya ia ingin kerja sambilan untuk membeli tiket, tapi kemudian ia bertemu Bo Song, jadi ia ingin pergi…
Xiao Xi belum selesai bicara dan bertanya berapa harga jersey itu. Xiao Xi menyampaikan 200 RMB.
Jiang Chen mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan uang 200RMB pada Xiao Xi. Xiao Xi terkejut dan menatap Jiang Chen.
Jiang Chen dengan hambar berkata, Bisakah kau tidak mengikutiku sepanjang waktu? Apakah saya perlu bertindak sejauh ini?
Xiao Xi marah, hanya alasannya saya menyampaikan saya menyukaimu kau pikir kau sanggup memperlakukanku sesukamu?!
Jiang Chen membalas, Apakah saya pernah memintamu menyukaiku?
Xiao Xi terkejut, matanya berkaca-kaca, Ya, kau benar! Kau tidak memperbolehkanku menyukaimu! Ini hanya cinta sepihakku, kau puas?!
Jiang Chen membalas, baguslah kalau kau tahu.
Xiao Xi menangis dan melempar uang pemberian Jiang Chen. Jiang Chen meninggalkannya.
Xiao Xi berteriak, Hidup ini sangat-lah panjang, mustahil saya hanya mengasihi dirimu seorang selamanya! (tidak mungkin kau menjadi satu-satunya orang yang saya cintai selamanya).
Xiao Xi kesal dan berjalan ke lain arah.

*Aigooooo, Jiang Chen ini sesuatu banged. I mean, just because a girl said she likes you, doesnt mean she cant get close with another man, because you never said that you like her! Kecuali kalau udah pacaran, terus marah, ini mereka berdua nggak ada hubungan juga. Seolah-olah, kau nggak boleh deket sama pemuda lain, tapi saya nggak akan pernah bilang kalau saya suka sama kamu. Makanya berikan kepastian

Jiang Chen kembali ke rumah dengan kesal. Adiknya kemudian masuk dan meminta izin untuk mengerjakan PR disana. Jiang Chen memperbolehkannya.
Adik Jiang Chen ingin curhat mengenai insiden belakangan ini, ada seorang gadis yang menyampaikan menyukainya, tapi besoknya malah bersahabat dengan anak laki-laki lain. (AHHAHAHAHHAHAHHAAHHAHAHA, Kakak adik nasibnya sama XD).
Adiknya ingin meminta pendapat Jiang Chen, bukankah si gadis sudah sangat keterlaluan padanya.
Jiang Chen yang mengalami persoalan yang sama dan nggak menemukan jawabannya jadi kesal, ia ketus pada adiknya, bukannya kau kesini mau mengerjakan PR? Kenapa kau terus bicara?
Adiknya terdiam. Jiang Chen masih terlihat murka dan adiknya memperhatikan Jiang Chen dan bertanya, apa kau sedang bad mood?
Jiang Chen berjalan keluar dari kamarnya sambil menyampaikan kalau ia digigit seekor anjing.
Adiknya resah menatap kakaknya dan bertanya-tanya kenapa ia tak pernah bertemu dengan anjing itu HAHAAAHHAHAHHA.

Xiao Xi curhat pada Jing Jing kalau ia benar-benar murka kali ini. Kalau ia bicara lagi pada Jiang Chen maka ia ialah seekor anjing.
Xiao Xi mendesah dan menyampaikan tapi ia juga takut kalau Jiang Chen murka padanya. Bagaimana jikalau Jiang Chen tidak mau bicara lagi padanya? Ah, tidak. Aku tidak ingin orang lain murka padaku. Benar. Jiang Chen kan bukan orang lain. Aku lebih takut kalau beliau murka padaku.
Jing Jing prihatin pada Xiao Xi yang mulai bicara sendiri dan bertanya apa yang bersama-sama Xiao Xi bicarakan?
Xiao Xi menjelaskan, yang ingin saya katakan adalah, ketika orang lain murka padaku, saya tidak merasa terganggu alasannya hal itu, tapi Jiang Chen berbeda, saya merasa sangat terganggu. Masalahnya ialah saya tidak tahu apakah beliau murka atau tidak padaku, jadi saya tidak tahu apakah saya harus takut atau tidak. (HAHAHHAHAHAHAAHHA ribet banged sih neng? XD )
Jing Jing tak mau berkomentar lagi mengenai persoalan ini, keduanya terus minum susu dan menatap langit lol.

Saat jam pelajaran olahraga, Jing Jing menemui Lu Yang dan bertanya apakah Lu Yang sudah mendapat tiket itu.
Lu Yang takut-takut dan mengaku kalau itu hilang. JIng tak mengerti apanya yang hilang.
Lu Yang menatap Jing Jing takut-takut dan mengaku kalau uangnya hilang.
JIng Jing kesal dan menuduh Lu Yang melaksanakan ini dengan sengaja. Lu Yang tentu saja membantah.
Jing kesal, kau kan tahu kalau itu ialah uang makan siangku untuk beberapa bulan kedepan?!
Lu Yang menyampaikan ia akan membelikan makan siang untuk Jing Jing.
JIng Jing menolak, ia kesal sekali dan meninggalkan lU Yang.

Di kelas, Xiao Xi dan Jiang Chen masih bertengkar, mereka tidak saling sapa.
Jing Jing memperhatikan mereka dan berbisik pada Xiao Xi, kau sebaiknya melaksanakan apa yang kau katakan kemarin (tidak bicara pada Jiang Chen).
Xiao Xi meyakinkan diri kalau ia akan melakukannya.
Li Wei mendekati Jiang Chen untuk meminjam penghapus dan tiba-tiba Xiao Xi nimbrung dan menyampaikan kalau ia punya.
Jiang Chen terkejut dan menatap Xiao Xi, ia pikir Xiao Xi masih murka padanya. Xiao Xi sendiri memalingkan wajah. Jing Jing menahan tawanya. Xiao Xi kemudian menyampaikan pada Jiang Chen kalau ia tak akan meminjamkan pada mereka.
Jiang Chen membisu saja. Jing Jing menahan tawanya dan Xiao Xi menatapnya, Xiao Xi mulai mengonggong HHAHAHHAHAHHAHA.
Jing Jing tertawa dan membelai dagu Xiao Xi seolah Xiao Xi ialah anak anjing. Xiao Xi terus menggonggong (moong moong, woof woof HAHHAHAHAHAAAHHAHAHAHHA)
*Ngakak deh! Xiao Xi kan bilang kalau beliau bicara lagi dengan Jiang Chen artinya beliau anak anjing LOL. Pada jadinya semarah apapun Xiao Xi, beliau nggak sanggup mengabaikan Jiang Chen XD

Mantan sobat sebangku Jing Jing menemui Xiao Xi alasannya wali kelas memanggil Xiao Xi. Xiao Xi meninggalkan kelas.
Jing Jing kemudian berfikir, ia menatap Jiang Chen yang menyerupai biasa sibuk dengan bukunya dan ia punya ide.
Lu Yang yang ada dibelakang Jing Jing ingin baikan dengannya dan mencoba mencoleknya dengan pensil, tapi Jing Jing keburu bicara pada Jiang Chen.
Jing Jing bertanya, Jiang Chen, kira-kira kenapa wali kelas ingin bertemu dengan Xiao Xi? Apakah menurutmu alasannya persoalan dengan Wu Bo Song?
Jiang Chen tidak melihat kearah Jing Jing dan menyampaikan kalau ia tak peduli.
JIng Jing membalas, yeah, kau seharusnya memang tidak peduli, alasannya kau tidak ada ditempat dimana kau akan peduli pada Xiao Xi.
Lu Yang ikutan nimbrung dibelakang, Aku peduli! Aku peduli!
Jiang Chen membalas, kemudian kenapa kau bertanya padaku?
Jing Jing menjawab, well, ini hanya percakapan normal antara sobat sekelas. Kau tahu, jikalau Xiao Xi dan Bo Song benar-benar pacaran, dalam kelompok kita akan ada pasangan kekasih.
Lu Yang ikutan nimbrung, Aku pikir akan ada pasangan kedua juga (aku dan kau).
Jing Jing kesal alasannya Lu Yang terus mengganggunya dan menyuruh Lu Yang diam.

Tak disangka, ternyata Jiang Chen terganggu dengan kata-kata Jing Jing itu, ia sudah menahan dari tadi, tapi ternyata kali ini nggak bisa. Mendengar Xiao Xi dan Bo Song pacaran, Jiang Chen kehilangan pengendalian dirinya, ia bahkan hingga merobek kertasnya.
Jing Jing menyadari hal itu dan puas alasannya sanggup menciptakan Jiang Chen merasa terganggu.
Jing Jing melanjutkan, beliau bersama-sama bicara pada dirinya sendiri, tapi berusaha semoga Jiang Chen mendengarkannya HAHAHHAAHHAH. Ia mengatakan, Sabtu ini ialah ulang tahun Xiao Xi. Kalau saya lihat sih, jikalau mereka berkencan (bersama) hari itu, saya sudah sanggup menebak apa yang akan terjadi (Bo Song akan menyatakan perasaan pada Xiao Xi). Tapi belakangan ini Xiao Xi benar-benar sangat menginginkan tiket pertandingan MU, saya pikir beliau tidak akan mendapatkannya. Tepat dihari yang sama, Chun Chun mengadakan konser. Hmmm, saya pikir saya harus memberi petunjuk pada Wu Bo Song mengenai hal ini.
Jiang Chen benar-benar mendengarkan Jing Jing dengan seksama menyerupai keinginan Jing Jing.
Jing Jing melanjutkan lagi, Wu Bo Song itu sangat baik pada Xiao Xi kita (dia niscaya akan melakukannya).
Jiang Chen kemudian meninggalkan kelas dan Jing Jing puas alasannya ia sanggup menghipnotis Jiang Chen.
*jingjing baik banged, saya suka HAHHAHAHAHAH Jiang Chen memang harus digituin biar sadar, kalau nggak mau Xiao Xi deket sama pemuda lain, ya mulai lah bertindak!

Continue Reading

More in A Love So Beautiful

To Top