Connect with us

Locafest.co.id

[Sinopsis] Hiyokko Week 1

Asadora

[Sinopsis] Hiyokko Week 1

waaahhh, alhasil saya mencoba menulis sinopsis asadora/morning drama. Nggak tahu nih bertahannya hingga kapan, dinikmati aja.
Asadora/moring drama ialah drama  yang tayang di NHK pagi hari sepanjang tahun, berdurasi 15 menit per episodenya. Hiyokko sendiri ialah asadora ke-96 yang mulai tayang April dan direncanakan akan berakhir pada September 2017 mendatang.
Mungkin pada galau ya, kenapa judulnya ‘week 1’ bukan ‘episode 1’, sebab asadora tayang setiap hari senin-sabtu, 15 menit per episode, jadi biasanya para uploader raw file ataupun subtitle-nya membaginya perminggu saja, bukan per episode. Makanya di sinopsis ini saya juga membuatnya per ahad saja. Karena kalau per episode hanya 15 menit jadi nanti kayaknya bakalan kebanyakan dan capek juga kalau buat satu per satu LOL.

Aku pernah menciptakan Cast & Details Hiyokko beberapa waktu yang lalu, meski ternyata beberapa hal dari deskripsi singkat yang beredar justru berbeda jauh dari dongeng dramanya sendiri. Aku juga galau kok ga sesuai sinopsis singkat yang pertama keluar HAHAHHAH. Mungkin NHK memang menyembunyikan details drama sebelum tayang kali ya.
Misalnya, katanya di deskripsi singkat keluarga YAtabe tinggal bertujuh satu rumah, padahal kenyataannya mereka hanya berenam. Dan alasan ayah Mineko bekerja di Tokyo juga berbeda jauh dari sinopsis singkatnya. Aku kaget HAHAHHA.

Sinopsis Asadora Hiyokko Week 1 (Episode 1-6): Dad is Coming Home!

Hiyokko ahad pertama fokus dengan keluarga Yatabe dan keseharian tokoh utama kita, Yatabe Mineko.
Hiyokko mengambil tahun 1964 di Prefektur Ibaraki, tepatnya desa Ookuibaraki. Mineko berasal dari keluarga petani yang memiliki sawah dan ladang untuk bertanam sayuran. Mineko ialah siswa tahun terakhir di SMA. Pagi hari dimulai dengan menyapa kakeknya di sawah mereka yang sudah menguning. Ia menyapa padi disana dan mengambil telur ayam untuk sarapan pagi mereka. IA senang hari itu, sebab ayam mereka bertelur lebih banyak dari biasanya.
Ia membawa telur itu ke dapur dimana ibunya sedang menyiapkan sarapan dan punya undangan khusus untuk memasukkan telur di bekal makan siangnya. Biasanya ibunya tidak memperbolehkan itu, tapi kali ini sebab ayam mereka bertelur 5 butir, ibunya memperbolehkannya. Mineko sangat senang. Dua adiknya, Chiyoko dan Susumu yang gres berdiri tidur mendengar hal itu dan merasa iri pada kakaknya, mereka merasa itu tidak adil.

Sarapan keluarga Yatabe biasa saja, ada nasi gandum, mentimun yang diasinkan, terong yang digiling, sup miso, pikel dan yang istimewa hari ini ada telur gulungnya. Mereka sarapan dengan senang dan bahkan berebut telur gulung. Ibu terpaksa menyerah menyampaikan miliknya pada Mineko. Disela sarapan kita diceritakan kalau ayah Mineko bekerja di Tokyo sepanjang tahun, sebagai buruh bangunan. Di Tokyo, masa-masa sebelum olimpiade Tokyo, jadi banyak warga desa pindah ke Tokyo untuk mencari nafkah, sebab banyak pekerjaan yang dibuka, terutama buruh bangunan. Katanya sih masa itu, Tokyo menjadi pemecah rekor kota pertama di dunia dengan 10juta penduduk.

Mineko akan berangkat sekolah dan ibunya menyadari sepatu Mineko sudah rusak tapi Mineko menyampaikan ia masih sanggup memakainya, ia sangat menyukai sepatu itu sebab itu hadiah dari ayahnya. Mineko berangkat ke sekolah dengan senang pagi itu. Ia berangkat dari rumahnya dengan menggunakan sepeda. Perjalanan Mineko ke sekolah ternyata sangat panjang.
MIneko harus naik sepeda ke rumah Tokiko temannya, perjalanannya 20 menit. Ia menitipkan sepeda disana dan berjalan kaki ke daerah pemberhentian bus selama 5 menit. Mereka naik bus ke sekolah butuh waktu 40 menit. Makara totalnya, usaha Mineko ke sekolah memakan waktu 65 menit.

Di Ookuibaraki, Mineko punya 2 sahabat seumuran dan sama-sama di tahun terakhir SMA.
Tokiko Sukegawa dan Mitsuo Sumitani. Mitsuo dan Mineko ialah sahabat bertengkar, mereka sering saling ejek. Sementara Mitsuo menyukai Tokiko. Tokiko ialah gadis tercantik di desa dan punya harapan untuk menjadi aktris.
Aku suka banged melihat Mitsuo dan Mineko bertengkar HAHAHAHHAHA.

Sepulang sekolah, Mineko akan membantu kakek dan ibunya di ladang, menyerupai mencangkul untuk menyuburkan tanah.
Hari itu ia melihat Chiyoko menggendong Susumu pulang dan ia curiga terjadi sesuatu. Mineko rahasia melihat mereka. Ternyata sepatu Susumu rusak sebab bermain di dekat sungai. Awalnya Mineko memarahi adiknya sebab itu sepatu donasi ayah mereka. Tapi kemudian melihat adiknya juga merasa sangat bersalah alhasil ia menyampaikan ia akan memperbaikinya.
Mineko mengambil jarum jahit dan mulai menjahit sepatu adiknya. Tapi ternyata sangat sulit.
Ibu Mineko mencari ketiga anaknya dan rahasia melihat mereka bertiga. Ibu menangis melihat Mineko menasehati adiknya dan membantu menjahitkan sepatu Susumu dan ia berjanji tidak akan menyampaikan pada ibu sebab itu akan menciptakan ibu sedih.
Tapi Mineko malah menciptakan sepatu makin rusak sebab ia tak sengaja menariknya hingga lepas. Susumu menangis melihat hal itu. Mineko meminta maaf. Ibu tersenyum dengan air mata di pipinya.

Sementara itu ayah Mineko di Tokyo melihat ada yang menjual sepatu murah dan ia merasa ingin mmebelinya. Ia berusaha mendapatkan diskon.
Ayah Mineko akan pulang pada animo gugur ini, untuk membantu panen. Ayahnya selalu pulang ketika animo panen..

Sebagai siswa tingkat akhir, tentu saja mereka berkonsultasi dengan guru persoalan karir mereka selanjutnya. Hari ini giliran Tokiko. Tokiko sedang berdiskusi mengenai rencananya ke Tokyo pada wali kelas mereka sementara Mineko dan Mitsuo menunggu di luar. Tokiko diskusi usang sekali, sehingga mereka berdua merasa bosan.
Mineko tampak kesal sebab Tokiko akan pergi ke Tokyo dan ia pikir Mitsuo juga niscaya senang sebab Mitsuo juga akan pergi ke Tokyo. Mitsuo sendiri menyampaikan ia tak begitu tertarik ke Tokyo, tapi bagaimana pun ia harus pergi. Mitsuo ialah anak bungsu keluarganya yang punya kebun apel, sebab itu bagaimanapun suatu hari ia harus mencari pekerjaan sebab ia tak akan mewarisi kebun keluarganya. IA akan bekerja di ‘rice dealer shop’ di Tokyo.

 

Mitsuo bertanya apakah Mineko benar-benar tak pernah berfikiran untuk ke Tokyo?
Mineko menjawab dengan yakin, tidak. Ia sangat menyukai Ookuibaraki, ia suka bertani dan ingin berusaha yang terbaik demi pertanian. Ia menyayangi keluarganya, makanya ia tak ingin ke Tokyo. Meski ia tak persoalan bila hanya pergi liburan ke Tokyo suatu hari nanti, tapi ia tak pernah berfikiran untuk menetap disana.
Mineko menyampaikan ketika SMP, ia menyampaikan diri untuk mulai bekerja mencari uang sendiri tapi ayahnya malah menyuruhnya melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengan Atas meski keluarga mereka miskin. Ayah memintanya bersenang-senang di Sekolah Menengan Atas jadi ia selalu bersyukur keluarganya memberinya kesempatan untuk sekolah meski ia tak pintar. Mitsuo menyampaikan seharusnya dengan alasan itu Mineko berguru dengan ulet dan menerima nilai yang bagus. Tapi Mineko menyampaikan ayahnya menyuruhnya bersenang-senang di sekolah bukan berguru HAHAHAHAHHAHA. Mineko melarikan diri dari kenyataan.

Tak usang kemudian Tokiko selesai berdiskusi dan menyampaikan guru mereka sudah mencarikannya pekerjaan di Tokyo, disebuah pabrik menciptakan transistor radio. Para pegawai semuanya perempuan dan tinggal di asrama juga, jadi ia tak perlu khawatir. Mineko mengucapkan selamat pada Tokiko. Meski ia tersenyum. Mineko gotong royong galau sebab sahabatnya akan berpisah dengannya.
Di bus ia dengan murung memandangi Tokiko dan bertanya-tanya menyerupai apa sih Tokyo itu, kenapa semua orang ingin pergi kesana. Ia menyampaikan dalam hati kalau ia mulai membenci Tokyo, yang merebut orang-orang yang ia cintai.

 

Setelah mereka tiba di desa dan turun dari bus, Mitsuo mengucapkan selamat dengan gayanya pada Tokiko menciptakan keduanya tertawa.

Ibu Tokiko dekat dengan ibu Mineko semenjak kecil. Ibu Tokiko kadatang tiba ke rumah Mineko untuk membantu ibu Mineko di ladang, meski gotong royong mereka sambil-sambilan bergosip ala ibu-ibu.
Ibu Tokiko tampaknya tidak oke Tokiko pergi ke Tokyo, ia khawatir.
Saat Tokiko kembali ke rumah, ia menyampaikan kalau pekerjaannya sudah di menetapkan oleh guru mereka. Meski ibunya, ayah dan kakaknya tidak menjawab.

Mineko tiba di rumah malam harinya. Ia terkejut melihat keluarganya berkumpul di depan TV dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Ternyata ada tragedi di Tokyo, sebuah bangunan yang gres dibangun roboh dan tampaknya itu bangunan daerah ayah mereka bekerja.
Kakek menyampaikan pada mereka untuk tidak khawatir dan mematikan TV. Ibu mencoba tidak khawtair dan mulai memasak makan malam. Tapi Mineko tahu ibunya sangat khawatir dan alhasil mengajak ibu untuk menelpon.
Ibu dan Mineko pergi ke rumah tetangga yang punya telpon. Pada masa itu, kalau mau menelpon, kita di hubungan ke operator dan menyampaikan alamat/nomor mana kita ingin dihubungkan dan kita harus menunggu sekitar 30 menit untuk dihubungi kembali, kalau jaringan sedang sibuk, maka harus menunggu 1 jam atau lebih.
Mineko dan ibu menunggu cukup usang hingga telpon berdering dan alhasil ibu mengangkatnya. Untung ayah tidak apa-apa. Ibu benar-benar lega dan menahan diri untuk tidak menangis, hingga ia tak sanggup bicara dan alhasil menyampaikan telpon pada Mineko.
Ini adeganya sumpah murung banged. Pemeran ibu Mineko aktingnya jjang!!!

Ibu dan Mineko sedang kalau ayah baik-baik saja, mereka pulang sambil tersenyum. Ternyata meski kakek terlihat tenang, beliau juga khawatir dan membawa Chiyoko & Susumu menemui Mineko. IA lega ketika tahu puteranya baik-baik saja.
Mineko menyombongkan diri pada dua adiknya kalau ia bicara dengan ayah mereka tadi. hehehehhehe. Keluarga Mineko pulang dengan bahagia.

Keesokan harinya, paman Mineko, adik ayahnya, Muneo tiba berkunjung. Muneo orangnya sangat asik, Mineko, Chiyoko dan Susumu sangat senang pamannya tiba berkunjung dan mereka bermain dengan gembira.
Paman Mineko ternyata sudah menikah, katanya sih istrinya kalau murka sangat angker HAHAHHAHHA. Rumah jadi sangat ramai sebab Muneo sangat dekat dengan anak-anak.

Mineko melanjutkan pekerjaannya di ladang san Muneo menemaninya. Mineko menceritakan mengenai temannya yang akan ke Tokyo sehabis lulus nanti. Muneo sendiri merasa Tokyo itu kota yang bagus. Ia menyukai Ibaraki tapi ia tak membenci Tokyo. Meski ia belum pernah kesana, tapi mendengar dongeng orang yang pernah tinggal di Tokyo menyampaikan kalau itu daerah yang bagus, jadi ia percaya.
Ia menasehati Mineko kalau  Mineko harus merasa bersyukur ayahnya sanggup bekerja di Tokyo. Ia tak ingin Mineko mengasihani kakaknya sebab kakaknya niscaya kesepian tinggal disana. Ia menyampaikan tentu saja kakaknya juga niscaya menentukan ingin tinggal bersama keluarganya kalau ia sanggup memilih. Kakaknya niscaya merasa kesepian disana, bekerja demi keluarga, jadi bila Mineko mengasihaninya maka itu perasaan yang sangat kasar. Makara ia ingin Mineko jangan memperlihatkan wajah murung di hadapan ayahnya dan sebab ayahnya nanti pulang tidak akan usang dan segera kembali ke Tokyo, ia ingin Mineko mengantarnya dengan senyuman. Meskipun ia tahu Mineko niscaya murung berpisah dengan ayahnya, tapi Mineko kini sudah remaja jadi Mineko sanggup bersikap dewasa.
Mineko mengerti.

Mineko kemudian mengubah pembicaraan, bertanya kenapa pamannya selalu tersenyum bahagia. Pamannya menyampaikan kalau ia menetapkan untuk selalu hidup dengan senyuman di wajahnya.
Mineko bertanya alasannya tapi pamannya tidak memberitahukannya, ia akan mengatakannya kalau Mineko sedikit lebih remaja lagi.
Kakek menatap mereka, tampaknya sesuatu memang pernah terjadi pada Muneo.
Mineko ingat kata-kata ayahnya, kalau pamannya jadi berubah menyerupai itu sepulang dari perang. Kita sanggup luka di punggung Muneo masih membekas.

Pagi hari, hari kepulangan ayah Mineko. Kakek ada di sawah. Ibu memasak di dapur. Mineko berdiri lebih pagi dari biasanya dan terkejut melihat ibunya. Ibu bertanya ada apa, tapi Mineko menyampaikan tak ada apa-apa.
Mineko menatap ibunya, rahasia tersenyum. Ia tahu ibunya menggunakan baju corak bunga kesukaan dan kesayangan ibunya dan bahkan menggunakan make up hari itu.
Chiyoko dan Susumu juga berdiri pagi dengan cepat, sebab Susumu pipis di kasur HAHAHAHAHA.

Mineko berangkat sekolah dengan bahagia. Tokiko sudah menunggu di halaman rumahnya dan tahu kalau Mineko niscaya senang hari ini, sebab MIneko tak terlambat menyerupai biasanya.
Bahkan paman di bus juga tahu kalau ayah Mineko pulang hari ini sebab Mineko tidak terlambat tiba dan senyuman ada diwajahnya.

Ayah Mineko ada di Tokyo, sebelum berangkat ia berjalan-jalan disekitaran pasar dan ketika berdoa di sebuah daerah berdoa kecil, ia melihat halaman dapur dari sebuah restoran, dimana para chef sedang melaksanakan sesuatu. Ayah Mineko tertarik dan melihat restoran menyerupai apa itu.
Ayah Mineko menemukan restorannya, sebuah restoran barat berjulukan Suzufuritei. Saat ia melihat-lihat, pemiliknya keluar untuk memasang tanda restoran buka dan tertarik dengan ayah Mineko. Ia mengajak ayah Mineko masuk. Tapi ayah Mineko menolak awalnya, kemudian ia mencium wangi sangat lezat dan menetapkan untuk mampir disana.

Ayah Mineko tidak pernah makan kuliner barat dan ia juga tak pernah ke restoran sebelumnya, jadi ia tak tahu apa yang harus ia lakukan disana ketika mereka menyampaikan menu. Pemilik membantunya. Ayah Mineko tertarik dengan beef stew tapi harganya mahal, jadi ia memesan yang murah saja, Hash and Rice.
Para koki di dapur bersemangat menyebarkan pesanan pertama mereka hari itu.
Selagi menunggu kuliner jadi, pemilik mengobrol dengan ayah Mineko. Dialeg ayah Mineko sangat kental dan asik aja gitu dengerin ayah Mineko bercerita. Ia orangnya suka bercerita sepertinya. Ia menceritakan asalnya dari mana adan apa yang ia kerjakan di Tokyo. Ia dalam perjalanan kembali ke desa sebab animo panen. Ia juga menceritakan anggota keluarganya, istri dan 3 anaknya.
Ayah juga menceritakan kalau ia bekerja sebagai buruh bangunan membangun gedung untuk keperluan olimpiade Tokyo dan ayah sadar kalau ia terlalu bersemangat menceritakan itu jadi kesannya menyerupai membual/sombong. Ia minta maaf.

Pemilik malah menyampaikan tak apa-apa bila ayah Mineko membual wacana hal itu. Ia tinggal di Tokyo sudah cukup lama, orang sangat menantikan Olimpiade Tokyo dan begitu juga dirinya, orang membual mengenai Tokyo ini dan itu, padahal Tokyo tetaplah Tokyo, bangunan itu dibangun untuk olimpiade, untuk pengunjung, jadi menurutnya tak persoalan bila ayah Mineko membual mengenai hal itu. Jika gedungnya nanti jadi, maka ayah Mineko sanggup menyampaikan dengan gembira kalau ayahnya dulu membangun gedung itu.
Ayah senang mendengar hal itu, ia menyampaikan kalau ia tiba-tiba merasa gembira pada dirinya sendiri. Ini pertama kali ia bicara banyak dengan orang Tokyo dan ia merasa senang.

Makanan hangat disajikan. Ayah MIneko mencobanya dan sangat menyukai kuliner itu. Ia bahkan tak sanggup berhenti memujinya. Ia berfikir kalau anak-anaknya niscaya menyukai itu dan berharap ia sanggup membawa anak dan istrinya ke sana suatu hari nanti.
Pemilik dan koki senang mendengar kebanggaan itu. Pemilik kemudian kedapur dan menyampaikan sesuatu pada chef disana, menyebarkan kuliner sampel.

Ayah Mineko akan pergi sehabis makan kenyang. Ia membayar makanannya dan pemilik menyampaikan hadiah korek api Suzufuritei pada ayah Mineko.
Sebelum ayah pergi, chef tiba menyampaikan sesuatu pada ayah Mineko. Ia memasakkan khusus untuk ayah Mineko, fried pork curlet sandwiches.
Ayah Mineko awalnya menolak tapi chef dan pemilik meyakinkannya untuk membawa itu pulang, untuk keluarga mereka.
Akhirnya ayah mendapatkan dan pemilik menyampaikan pada ayah untuk tidak membenci Tokyo.

Mineko, Chiyoko dan Susumu ada di daerah pemberhentian bus, menunggu ayah mereka.
Chiyoko dan Susumu terus berdiri di jalan menunggu bus, mereka terlihat tidak bersemangat sebab bus-nya usang sekali. Akhirnya mereka menetapkan untuk duduk.
Sementara ibu dirumah, menjahit dengan senyuman di wajahnya, menunggu suaminya pulang.

Akhirnya bus datang. Mineko, Chiyoko dan Susumu sangat senang. Mereka menunggu diseberang jalan. Ayah keluar dari bus dan senang melihat anak-anaknya tiba menjemputnya. Chiyoko bahkan menyiapkan buket bunga untuk ayahnya. awwww.
Mereka berempat pulang dengan jalan kaki, mereka terlihat sangat bahagia. ayah bertanya bagaimana sekolah Mineko dan Mineko menyampaikan kalau sekolahnya sanagt menyenangkan setiap hari.
Ayah menyampaikan Mineko sudah bicara menyerupai orang remaja kini dan Mineko mengingatkan kalau beliau sudah dewasa.

Ayah, Mineko, Chiyoko dan Susumu tiba di rumah ketika hari sudah gelap. Ayah tersenyum melihat rumah mereka dan ibu menyambutnya. Tapi hal pertama yang ayah lakukan sehabis tiba dirumah bukannya masuk dan istirahat tapi malah berlari ke ladang mereka, menggenggam tanah disana dan menciumnya.
Ayah senang membaui tanah Ookuibaraki. Chiyoko dan Susumu bingung, sebab wangi tanah ya wangi tanah. Ayah tersenyum. Kakek menyuruhnya segera ke rumah dan mandi.
Akhirnya mereka kembali ke rumah. Mineko masih disana, ia melaksanakan menyerupai yang ayahnya lakukan, ia mencium wangi tanah sambil bicara dalam hati, kalau ayahnya niscaya ingin ada di ibaraki, bekerja diladang dan sawah mereka. Karena ayahnya lahir dan dibesarkan dirumah itu, ia mengerti aklau ayahnya ialah orang yang paling tidak ingin pergi dari sana.
Mineko menyampaikan ketika itu ia berfikir ia ingin menjadi perdana menteri suatu hari nanti dan mensejahterakan para petani.

Mineko kembali ke rumah, sehabis mandi, ia membuka hadiah dari ayahnya, ayahnya memberikannya sepatu baru, sangat cantik. Tapi ia tak berniat memakainya dalam waktu dekat, ia akan menyimpannya.
Sementara Susumu asik lari di rumah dengan sepatu gres yang dibelikan ayahnya.
Mineko membantu ibunya di dapur menyiapkan makan malam. Ibunya memperlihatkan sesuatu yang dibawa ayahnya, pork sandwichs yang membuatnya sangat berselera.
Ayah asik mengobrol bersama Chiyoko dan Susumu. Mereka menceritakan bagaimana Mineko ingin memperbaiki sepatu Susumu tapi malah merusaknya.
Padahal itu harusnya menjadi rahasia mereka, tentu saja Mineko menatap adiknya dengan tajam. Ayah mengejek Mineko terlihat menyerupai akuma hAHHAHAHA.

Keluarga Yatabe makan di meja makan dan mulai mencoba kuliner dari Tokyo itu. Menurut mereka kuliner itu sangat sangat lezat dan berfikir orang Tokyo makan menyerupai itu setiap hari.
Ayah tentu saja menyampaikan tidak. Itu hanya tersedia di sebuah restoran yang ia kunjungi hari itu dan menceritakan betapa bagusnya restoran itu, pemiliknya juga baik. Ia menyampaikan korek api hadiah Suzufuritei pada ibu dan ibu menyimpannya di daerah berdoa, seolah itu barang berharga.
Keluarga Yatabe makan malam dengan bahagia.

Malam harinya, ketika bawah umur sudah tidur, Kakek, Ayah dan ibu membicarakan sesuatu. Mineko belum tidur dan ternyata menguping. Ayah ketika itu sedang membicarakan persoalan uang, wacana hutang mereka dan kesulitan mereka membayarnya. Mineko akan menutup pintu tapi bunyinya besar lengan berkuasa dan alhasil tertangkap berair kalau ia menguping.
Karena Mineko sudah remaja jadi ayah menetapkan untuk mengikutsertakannya dalam rapat keluarga ini.

Makara malam itu mereka membicarakan persoalan keuangan. Intinya penghasilan utama mereka ialah dari tanaman padi. JIka mereka panen, mereka hanya mendapatkan 100.000 yen kalau nggak salah. Mereka juga menerima penghasilan dari ladang sayur dan dari upah menjahir ibu, tapi itu tak banyak. Mereka sempat gagal panen beberapa waktu yang kemudian dan ayah meminjam uang, jadi untuk melunasi itu, mereka kesulitan. Itulah alasan kenapa ayah ke Tokyo untuk mencari penghasilan tambahan, meski gajinya per bulan hanya 20.000 yen. Mereka juga masih harus membeli pestisida dan kebutuhan lainnya, jadi mereka benar-benar kekurangan uang. JAdi begitulah kondisi keuangan mereka ketika itu.
Mereka akan baik-baik saja selama ayahnya bekerja di Tokyo meski mereka tak akan sanggup membelikan sesuatu yang glamor untuk Mineko dan adik-adiknya. Mineko menyampaikan orang di desa sehabis lulus Sekolah Menengah Pertama akan berangkat ke Tokyo untuk bekerja, sementara keluarganya memintanya tetap sekolah, baginya itu saja sudah merupakan kemewahan tersendiri dan ia selalu bersyukur akan hal itu. Ia bahkan berfikir bagaimana ia harus membayarnya suatu hari nanti.
Sebagai orang tua, ayah tentu saja tidak mengharapkan sesuatu, asalkan anaknya senang di sekolah itu sudah cukup baginya. Tapi Mineko tetap merasa khawatir dan berkata mungkin sebaiknya dulu ia mulai bekerja dan sedikit banyaknya ia niscaya sanggup membantu keuangan mereka dan ayahnya tidak harus bekerja di Tokyo.

Ayah berkata, Mineko, kamu suka bekerja disini kan? Kau suka bekerja di desa ini dan di ladang kan?
Mineko membenarkan, ia menyukai pekerjaan di ladang dan ia ingin menjadi menyerupai ibunya. Ia ingin bekerja keras di ladang mereka.
Ayah berkata lagi, kau… hanya dengan pergi ke sekolah, kamu sudah membantu keluarga ini. Itu ialah pekerjaanku sebagai seorang ayah untuk meninggalkan desa dan menghasilkan uang. Kau disini membantu ibumu dan kakekmu sebab pekerjaan kakek dan ibu sangat melelahkan, dengan adanya dirimu, itu sangat membantu.
Mineko mengerti dan menyampaikan ia akan berusaha lebih keras lagi.
Pembicaraan wacana itu kemudian berakhir dengan tawa sambil minum-minum.
Dalam hati Mineko menyampaikan kalau ia tak akan pernah melupakan malam itu, untuk pertama kalinya ayanya menganggapnya orang remaja dam ikut serta dalam rapat keluarga. Ia merasa sedang dan bangga, sekaligus malu. Keluarga mereka memang miskin, tapi mereka semua berusaha keras dan sanggup tersenyum menyerupai malam ini sudah membuatnya dipenuhi kebahagiaan.

Keesokan harinya panen padi di sawah keluarga Mineko. Semua orang bekerja keras.
Keluarga Tokiko, Mitsuo dan Muneo juga tiba membantu panen. Mereka memanen sawah dengan cara manual. Kakek dan para ibu bertugas memotong tanaman padi. Para ayah menciptakan daerah menggantung padi kemudian memotong padi. Mineko dan Tokiko mengumpulkan padi dan mengikatnya. Chiyoko juga ikut bekerja, ia masih berguru mengikat padi dan menggantungnya, Mineko mengajarinya dengan baik. Mitsuo juga berusaha keras bekerja dan tampaknya Muneo suka menjahilinya.
Panen hari itu terasa menyenangkan meski mereka kelelahan. Mereka panen sambil mengobrol. Para perempuan membicarakan Tokiko yang akan ke Tokyo dan ibunya ternyata masih belum memberi izin.
Sementara para pria, ayah membicarakan gedung menyerupai apa yang ia buat, mereka membayangkan gedung bertingkat yang ayah buat, katanya sih 17 stories, itu maksudnya apa ya, 17 tingkat?

Saat istirahat makan siang di rumah keluarga Yatabe, mereka membicarakan mengenai pork sandwichs yang dibelikan ayah Mineko kemarin, betapa enaknya itu.
Sementara itu Muneo tahu kalau Mitsuo semenjak tadi memandangi Tokiko, ia tahu kalau Mitsuo menyukai Tokiko.
Muneo memintanya menggunakan kesempatan ini untuk melamar Tokiko sebab ayah Tokiko ada disana. mitsuo malah setuju, meski ia ditolak bahkan sebelum ia menyampaikan niatnya HAHHAHAHAA.
Ayah Mineko meminta Mitsuo nanti membantu menjualkan beras mereka dan Mitsuo galau kenapa ia, ia lupa kalau nanti ia akan bekerja di toko beras di Tokyo HAHAHAHHA.

Mereka melanjutkan pekerjaan sehabis istirahat makan siang.
Mereka panen dengan bahagia, para ibu bahkan asik menyanyi sambil bekerja. Saat istirahat mereka bermain kejar kejaran, ayah dan anak. Muneo bahkan membawa kamera dan memotret disana.
Waktu cepat sekali berlalu. Seiring berlalunya waktu, kesedihan tampak di wajah Mineko. Setelah hari ini berakhir, ayahnya akan kembali ke Tokyo. Ia jadi tidak ingin panen segera berakhir dan ia tak ingin menciptakan tangannya cepat bekerja.

Tapi pada alhasil panen selesai.
Para tetangga kembali pulang.
Setelah tetangga pulang, keluarga Yatabe memandangi hasil panen mereka. Ayah minta maaf sebab ia tak akan ada disana ketika mereka melanjutkan pekerjaan selanjutnya, memisahkan gabah dari tanaman padinya.
 Ibu meminta suaminya jangan khawtair, mereka sanggup melakukannya sendiri. Ayah mempercayakan itu pada mereka, pada Mineko yang sudah remaja dan Chiyoko dan Susumu yang akan membantu.
Mereka kemudian berkemas untuk kembali ke rumah.

Mineko menatap keluarganya dan memanggil mereka, Keluarga Yatabe! Terima kasih atas kerja kerasnya untuk panen tahun ini.
Mineko membungkuk. Mereka tersenyum. Chiyoko mengikuti kakaknya dan membungkuk, Susumu juga.
keluarga Yatabe tersenyum senang dan kembali ke rumah.

-The End-

Komentar:

Minggu pertama asadora Hiyokko tidak mengecawakan saia. Menurut saya justru ahad pertama Hiyokko lebih bagus dari Beppin-san. Karena saya ingat betapa bosannya saya ketika menonton ahad pertama Beppin-san makanya ketika itu saya menetapkan menonton Toto Nee Chan saja LOL.
Tapi saya merasa ada yang asing dengan pembawa narasi di asadora Hiyokko ini. Aku memang nggak sanggup bilang saya berpengalaman dalam asadora, tapi biasanya pembaca narasi itu salah satu tokoh di dramanya dan beliau yang selalu membacakan narasi, bahkan pikiran pemeran utamanya beliau yang membacakannya.
Tapi disini, kadang pembaca narasi hanya muncul di awal dan justru isi hati pemeran utama malah pemeran utama sendiri yang membacakannya. Makara seolah narasinya cuma awal aja, yang lain justru bunyi Arimura KAsumi.
Kalau di Beppin-san kemarin isi hati Sumire yang baca justru ibunya dengan menyampaikan ‘itu yang ada dipikiran Sumire’.
JAdi berdasarkan saya justru kok pembaca narasinya jadi pihak kedua disini, harusnya beliau seolah menceritakan pada kita, pihak pertamanya HAHAHHAHA.
Ngerti ga? LOL.

Aku suka asadora ini tidak dimulai dari masa kecil Mineko, sebab biasanya asadora dimulai dari masa kecil tokoh utama hingga beliau tua. Ini menyerupai dengan Amachan, dimana tokoh utamanya dimulai ketika SMA. Nggak tahu juga ya gimana nanti apakah ceritanya hingga Mineko tua? Karena akalu Amachan cuma hingga Aki lulus SMA.
Dan tahunnya juga sehabis perang dunia II jadi nggak lama-lama amat dan mereka sudah berpakaian modern, jadi terasa beda aja hehehehhe.

Aku suka Arimura Kasumi disini nggak awkward sama sekali. Biasanya saya merasa beliau awkward kalau dalam drama/movie HAHAHAHAHA. Makanya saya sempat khawatir dengan Hiyokko. Tapi memang sih, asadora biasanya menentukan aktor/aktrisnya yang cocok dengan perannya. Makara niscaya sudah dengan pedoman matang ya.
Tapi saya cukup kaget sebab ratingnya sulit sekali menyentuh 20%, rating Beppin-san justru lebih bagus. Kenapa ya? Padahal berdasarkan saya ceritanya bagus.
Aku suka banged ayah dan ibu Mineko, pas banged dah mereka dan jujur aja, saya menangis ketika menonton Week 1 ini, padahal gres memasuki dongeng dan nggak ada yang meninggal juga, tapi kok murung banged gitu.
Apalagi ketika ayah Mineko mencium wangi tanah itu aduh T__________T

Melihat adegan panen sawah jadi kangen masa kecil aku.
Dulu bukan sawah sih, tapi ladang. Aku pernah mencicipi ikut panen. Kalau nggak salah saya masih sebesar Chiyoko ketika itu. Dan kerjaan saya sih cuma duduk-duduk aja sambil melihat pemandangan LOL. Karena anak kecil nggak dibolehin panen sendiri. Paling main batang padi, du=ibuat kaya terompet kecil gitu wkwkkwkw.
Tapi seru lho, panen padi :))

Makara Mineko ini benci Tokyo sebab semua orang pergi ke Tokyo. Ayahnya dan sahabatnya akan meninggalkannya dan pergi ke Tokyo. IA akan kesepian. Ia sangat menyukai desa-nya dan  tidak ada niat meninggalkan desa. Aku ingin tau bagaimana nanti ketika beliau harus pergi ke Tokyo. Aku rasa pemilik restoran Suzufuritei yang akan membuatnya menyayangi Tokyo.
DAn kira-kira ayah Mineko nanti hilang kenapa ya? Aku harap siah ayahnya nggak kenapa-napa.

Love line belum ada nih ya HAHAHAHHA, Meski nggak akan fokus kisah cinta, tapi saya selalu menantikan love line di asadora. Biasanya sederhana sih dan ada beberapa yang manis juga tapi tidak berlebihan.
Biasanya sahabat tokoh utama jodohnya sama keluarga tokoh utama, saya berharap sih Mitsuo sama Mineko HAHAHHAHA. Mitsuo kalau dilihat-lihat manis juga ya.
Ryo Ryusei belum muncul sih, padahal saya pengen mendukung beliau dan Mineko wkwkkwkw

Continue Reading

More in Asadora

To Top