Connect with us

Locafest.co.id

[Sinopsis] Kahogo No Kahoko Episode 10-1 Final

Dorama

[Sinopsis] Kahogo No Kahoko Episode 10-1 Final

Waaaaaaa jadinya kita hingga pada episode terakhir. Nggak nyangka saya sanggup menuntaskan sinopsis drama ini, meski sedikit terlambat.
Mungkin lantaran saya memang menyukai dramanya dan jujur saja, saya selalu menantikannya, bahkan hingga hunting spoiler pas tayang. Tapi sesudah episode 10 selesai, saya malah jadi murung banged, lantaran nggak akan ada yang menemani rabu malam lagi (drama ini tayang tiap rabu).
Mugino dan Hajime jadinya mengikat janji mereka, meski awalnya ibu Kahoko tetap tidak menyetujui janji nikah mereka.
Mereka berdua hidup sederhana dan bahagia.

Sinopsis Overprotected Kahoko Episode 10 FINAL

Kahoko yang biasanya tidak sanggup bangun kalau tidak dibangunkan ibunya, malam itu ia tidak sanggup tidur dan terbangun ketika tengah malam.
Nenek yang Kahoko cintai gres saja meninggal dunia, itu sebabnya ia tak sanggup tidur dengan nyenyak.
Ia melihat cincin santunan neneknya, cincin yang diberikan mertua neneknya ketika mertuanya mendapatkan nenek secara resmi menjadi menantu keluarga mereka.
Sebelum meninggal, nenek berpesan pada Kahoko untuk hidup dengan baik, makan dengan baik, jangan melepaskan tangan orang yang mencintainya.
Kahoko terlihat pergi ke rumah neneknya dan disambut senang oleh kakeknya. Semua orang berkumpul di rumah nenek untuk merayakan ulang tahun Kahoko, bahkan Hajime ada disana.
Nenek ibarat biasa memasakkan banyak masakan untuk mereka dan meminta Kahoko duduk.
Tapi Kahoko tahu itu hanya mimpi. Ia memohon pada neneknya untuk tidak pergi, tapi nenek perlahan menghilang.

Kahoko terbangun dari mimpinya dan ia mengecek cincin santunan neneknya, cincin itu sudah tidak ada di tempatnya.
Kahoko terkejut dan panik, ia segera mencari kemana cincin itu, mengibas selimutnya dan mencoba mencari dibawah kawasan tidur.
Tapi kemudian ia menyadari kalau cincin itu terpasang di jarinya.
Kahoko kemudian teringat insiden semalam, ketika Hajime melamarnya di ruang seni.

Kahoko bersiap pagi itu, ia keluar dari kamarnya dan melihat ayahnya memberikan obat pada ibu. Kahoko terkejut lantaran ibunya sakit.
Ayah menyampaikan mama kelelahan lantaran merawat nenek, jadinya mama sakit. Ibu Kahoko kehilangan suaranya, jadi ia tak sanggup bicara dan ayah menggantikannya sebagai penerjemah lol.
Ayah protes lantaran ibu tidak mau istirahat. Kahoko kemudian menyampaikan ia akan ke rumah kakek lantaran ia mengkhawatirkan kakek.
Ibu ingin ikut, tapi tentu saja ia tak sanggup lantaran ia sakit, mereka melarangnya keluar rumah dan memintanya beristirahat.

Kahoko akan pergi, tapi ia mengingat sesuatu, ia harus menyampaikan pada orang tuanya.
Kahoko membahas mengenai pernikahannya dan Hajime, ibu yang tak sanggup bicara berbisik pada ayah dan ayah memberikan kata-kata ibu dengan gaya ibu, ‘Kau masih ingin membicarakan hal itu disaat ibarat ini?!’ Itu yang mama katakan.
Kahoko menyampaikan ia mengerti akan hal itu,tapi ia pikir disaat ibarat inilah ia harus menikah dengan Hajime, bersama Hajime tak peduli seberapa sulit keadaan, tetap senang dan besar lengan berkuasa menghadapinya.
Ibu membisikkan sesuatu pada ayah dan ayah berfikir ibu tak seharusnya menyampaikan itu. Kahoko bertanya apa yang mama katakan dan ayah menjawab kalau mama tidak akan merestui hubungan mereka hingga kapanpun. Ia akan tetapkan hubungan ibu dan anak jikalau Kahoko dan Hajime mendaftarkan janji nikah mereka.
Ibu benar-benar yakin dengan hal ini.

Kahoko mengerutkan keningnya , ia menyampaikan meskipun ibu tetapkan hubungan ibu dan anak, ia akan tetap menikah dengan Hajime. Ia ingin sekali melaksanakan itu, tapi nenek tidak memperbolehkannya, jadi ia tak akan melakukannya.
Ibu lega mendengarnya. Kahoko menyampaikan hingga ayah dan ibu merestui hubungan mereka, ia akan berusaha keras. Ia memperlihatkan wajah menantang pada ibu dan ayahnya, ia tidak akan mengalah hingga mereka merestui.

Kahoko tiba ke rumah kakeknya. Tapi rumah sepi. Kahoko memanggil kakeknya dan mencarinya kesana kemari, tapi ia tak melihat Kakek.
Kahoko mulai khawatir dan mencoba menelpon kakek. Kakek terdengar sangat terpukul dibalik telpon menyampaikan kalau ia akan pergi menemui nenek ke kawasan dimana ia dan nenek punya banyak kenangan bersama.
Mendengar itu Kahoko panik dan meminta kakek jangan terburu-buru melaksanakan sesuatu, ia khawatir kakek akan melaksanakan sesuatu yang menakutkan.
Tapi kakek meminta Kahoko jangan mencarinya lagi dan Kahoko makin panik.

Kahoko segera menelpon Hajime untuk melaporkan mengenai hal itu, Kahoko juga tak sanggup menghubungi kakek sesudah itu dan khawatir kalau kakek akan bunuh diri. Kahoko panik banged.
Hajime memintanya damai dan menyampaikan padanya untuk memberitahu keluarga yang lain, siapa tahu mereka tahu kawasan yang dimaksud kakek. Ia juga meminta Kahoko menelpon paman Mamoru, siapa tahu ada laporan mengenai seseorang yang melaksanakan percobaan bunuh diri, jadi mereka sanggup segera tahu.
Kahoko mengerti. Awww, Hajime damai banged ya. Memang orang ibarat ini yang diharapkan Kahoko lantaran KAhoko orangnya gampang panik.

Kahoko pergi ke kantor polisi dan pamannya membantunya untuk mencari tahu kalau ada laporan kecelakaan atau sebagainya.
Saat itu Ibu Ito dan Tamaki-chan juga tiba dengan khawatir, mereka bertanya-tanya kemana perginya kakek. Ibu Ito juga menghubungi suaminya, kalau-kalau kakek terluka dan dibawa ke rumah sakit.
Tamaki dan Mamoru yang gres bercerai dalam posisi awkward, mereka tak sanggup menatap mata masing-masing, Tamaki meminta maaf lantaran keluarganya memberi banyak problem pada Mamoru.
Mamoru menyampaikan Tamaki tidak perlu minta maaf mengenai hal itu dan bertanya apakah asma Tamaki kambuh selama ia tak ada, untuk jaga-jaga ia menambahkan, boleh kan saya bertanya.
Tamaki menanyakan hal yang sama apakah Mamoru belakangan minum-minum lagi.
Kahoko yang ada diantara mereka tak suka dengan suasana ini dan bertanya apakah mereka berdua yakin baik-baik saja dengan keadaan kini ini? IA menyampaikan pesan nenek untuk tidak melepaskan tangan orang yang mereka cintai.
Tamaki memotong dan menyampaikan pada Kahoko jangan memikirkan wacana mereka, lantaran prioritas utama kini yaitu menemukan kakek.

Tamaki kemudian meninggalkan mereka menuju ibu Ito dan bertanya apakah ibu Ito tau dimana kira-kira kawasan yang punya banyak kenangan bagi ayah dan ibu mereka.
Mereka berfikir mungkin itu kawasan honeymoon atau kawasan dimana mereka pertama kali bertemu. Tapi mereka berdua sama sekali tidak sanggup menebak dimana kawasan itu. Ujung-ujungnya mereka meminta Kahoko menghubungi ibunya, lantaran ibu Kahoko yaitu anak tertua, mereka yakin ibu Kahoko tahu lebih banyak mengenai kakek dan nenek.
Kahoko sebetulnya ingin melaksanakan itu, tapi ibunya sedang sakit dan ia tak ingin menciptakan ibu khawatir, lantaran kalau ibu tahu, ibunya niscaya akan pribadi mencari kakek sendirian.
Ibu Ito terkejut lantaran ia tak tahu ibu Kahoko sakit, ia sudah terlanjur mengirim pesan pada kakaknya itu.
Kahoko terkejut mendengarnya. Dan beberapa detik kemudian, ponselnya berdering HAHAHAHHAHA.

Terdengar bunyi ayah yang marah, Kahoko! Kenapa kamu tidak menghubungiku?!
Ayah melanjutkan, itu kata-kata mama yang sangat murka pada Kahoko. Kahoko meminta maaf, ia tak sanggup memberitahu ibu lantaran ibu sedang tidak sehat, ia tak ingin ibu khawatir.
Ibu melalui ayah bertanya apakah Kahoko sudah menemukan kakek?
Kahoko menyampaikan mereka belum menemukannya dan bertanya apakah ibu kira-kira tahu dimana kakek?
Ibu Kahoko yakin dan menyampaikan hanya ada satu kawasan dimana kakek dan nenek punya banyak kenangan.
Kahoko terkejut. Ibu membisikkan pada ayah dan ayah juga kaget. Ayah menyampaikan kawasan itu yaitu rumah kakek. Tapi Kahoko yakin ia tak menemukan kakek disana.
Ibu memintanya mencari lebih teliti. Kahoko mengerti dan segera berlari meninggalkan bibi dan pamannya.
Meerka bertanya kemana Kahoko akan pergi dan Kahoko berteriak ke rumah kakek dan nenek.

Kahoko kembali mencari kakek di rumahnya, HAjime juga tiba untuk membantu. Hajime lucu banged, beliau mencari kakek dan menyampaikan kalau beliau yaitu Hajime, tapi kalau kakek mau, kakek sanggup memanggilnya Tamotsu (Lol. Kakek memanggil Hajime dengan Tamotsu di pertemuan pertama mereka).
Kahoko dan Hajime terus mencari kakek di semua sudut rumah, bahkan Hajime ke lantai 2 tapi ia tak berhasil menemukannya. Paman dan bibi tiba kemudian dan membantu mencari juga.
Kahoko pergi ke halaman belakang mencari kakek dan tiba-tiba ia mendengarkan bunyi sesuatu, Kahoko curiga.
Ia mulai mengintip ke semak-semak dan terkejut melihat kakek ada disana. Kahoko lega dan agak murka juga, bertanya kenapa kakek ada disana.
Kakek sendiri balik bertanya, Kahoko… kenapa saya masih merasa kelaparan disaat ibarat ini? (HAHAHAHAHAHA Kahoko banged, jadi bunyi tadi itu bunyi perut kakek XD).
Kahoko menghela nafas dan meminta kakek keluar, tapi kakek menolak, ia menyampaikan ia akan disana selamanya.
Kahoko tidak mengerti.

Beberapa ketika kemudian ayah dan ibu Kahoko datang, paman dan bibi juga mendekati kawasan ibu. Kahoko menyampaikan kakek ingin tinggal disana selamanya.
Ayah tiba-tiba berteriak, kenapa kamu menyampaikan hal ibarat itu, papa!
semuanya terkejut dan menatap ayah Kahoko. Ayah Kahoko kemudian menyampaikan kalau itu yang ingin dikatakan istrinya HAHHAHHAHAHA.
Ibu Kahoko mengangguk. Kahoko menjelaskan ibu kehilangan suaranya, jadi ayah menggantikannya bicara.
Mereka kemudian fokus kembali pada kakek yang menolak keluar, kenapa kakek disana.
Kakek menyampaikan kalau ia dan nenek sering bermain petak umpet di rumah itu. Saat nenek dibully mertua dan abang ipar, ia tidak sanggup melaksanakan apapun untuknya, jadi ia bertanya apakah nenek menginginkan sesuatu darinya. Nenek menyampaikan ia ingin bermain petak umpet bersama kakek.
Kahoko bertanya apakah lantaran disini kakek biasanya sembunyi?
Kakek menyampaikan tak peduli berapa kali ia memanggil nenek, nenek tidak keluar. Nenek tetap disana, ditempatnya kini dan menangis. Nenek menyampaikan ia tak akan keluar dari sana selamanya. Dan kakek ketika itu akan menyampaikan kalau mereka berdua akan bersama selamanya, menatap langit dan meninggal bersama-sama.
Kahoko terkejut mendengarnya.
Kakek kemudian menatap langit dan mulai menangis, Tapi kamu malah meninggalkan saya sendirian, Hatsuyooooo! Jika beliau tidak bersama denganku, ini mungkin tidak akan pernah terjadi padanya.
Kakek terus menangis dan menangis. Yang lain ikut bersedih.

Kahoko kelihatan tidak menyukai hal itu dan mulai murka pada kakek, kalau itu sama sekali tidak benar.
Ia masuk ke dalam semak itu  dan berjongkok disamping kakek. Ia menyampaikan ia bicara pada nenek hingga nafas terakhir nenek dan nenek membicarakan banyak hal padanya. Nenek menyampaikan padanya kenapa nenek menyukai kakek.
Nenek menyampaikan kalau kakek tidak akan mengerti bagaimana perasaannya pada kakek, ia berfikir mengenai perpisahan berkali-kali, tapi nenek punya lebih banyak kenangan membahagiakan bersama kakek. Berkali-kali lipat dari pada pikiran mengenai perpisahan itu.
Kahoko menceritakan salah satu contohnya, ketika nenek sedang menyiram tanaman, ia ragu apakah ia sanggup membesarkan anak dengan baik, kakek tiba dan menyiramnya dengan air, kemudian mereka berdua bermain air bersama-sama. Saat demam isu gugur, mereka membersihkan taman, kakek juga akan menyiramkan daun kering dan mereka bermain lempar daun.
Nenek menyampaikan setiap kali ia bersama kakek, ia senang dan tidak memikirkan mengenai masalahnya, masalahnya itu pribadi lenyap lantaran kebahagian, jikalau ia bersama kakek.
Kaprikornus Kahoko ingin kakek kembali ibarat dahulu, selalu bersemangat mengambil foto atau membaca puisi jikalau keluarga berkumpul.

Kakek masih murung dan Kahoko mengelus punggung kakek. Ibu Kahoko melalui ayah juga setuju. Tamaki menyampaikan kalau ia yakin nenek juga berharap kakek tidak murung. Ibu Ito juga menyampaikan hal yang sama, ia ingin kakek kembali ibarat yang dulu.
Kakek berfikir sejenak dan ia berdiri. Ia mengerti dan mengajak semuanya untuk mengambil foto bersama. Kahoko dan yang lain senang mendengarnya.

Dan begitulah mereka semuanya berkumpul untuk mengambil foto bersama. Hajime menyampaikan ia sanggup mengambil foto untuk mereka semoga kakek sanggup berfoto bersama. Tapi kakek menolak, menurutnya Tamotsu harus masuk dalam foto itu.
Ayah Kahoko berdiri dan memberikan mengambil foto, tapi Hajime menyampaikan ia akan mengambilnya, ayah duduk saja, ia memanggil ayah Kahoko dengan panggilan ‘ayah’ dan ayah Kahoko mengingatkan Hajime untuk tidak memanggilnya ayah, lantaran ia belum merestui mereka HAHHAAHAHAHHA.
Tiba-tiba paman Mamoru tiba dan memberikan diri untuk mengambil foto mereka. Kahoko senang sekali melihat paman Mamoru datang. Paman juga bersyukur lantaran kakek sudah ditemukan.
Kakek meminta maaf pada Mamoru lantaran sudah membuatnya kahwatir. Kakek kemudian meminta Mamoru untuk ikut berfoto bersama mereka, tapi Mamoru menolak menyampaikan kalau beliau bukan pecahan dari keluarga lagi.
Kahoko tidak menyukai itu dan meminta pamannya jangan menyampaikan hal ibarat itu. Kahoko juga bertanya pada Tamaki-chan, ia yakin bibinya juga tidak baik-baik saja dengan perpisahan ini.
Tapi Tamaki memalingkan wajahnya.

Kahoko menyampaikan kalau mereka berdua mencurigai apakah mereka orang baik atau tidak, tapi fokus pada hal negatif hanya merupakan pecahan dari insan normal.  Dan lagi, ia pikir perjuangan keduanya untuk menjadi orang baik yaitu hal yang terpuji. Karena itu… uhmm…. uhm…
Kahoko ingin melanjutkan kata-katanya, tapi ia gundah apa yang akan ia katakan selanjutnya dan malah menyampaikan Hajime akan melanjutkan sesudah ini.
Hajime tentu saja terkejut lantaran tiba-tiba. Tapi Kahoko memohon semoga Hajime menyampaikan sesuatu, lantaran ia sendiri tidak baik dalam menyampaikan hal baik dalam situasi ibarat ini.
Hajime jadinya tidak punya pilihan lain dan mengatakan, Apa yang ingin Kahoko katakan yaitu mustahil dalam hidup ini terjadi hal-hal baik selamanya, jadi daripada mencurigai masa kemudian atau mengkhawatirkan masa depan, bukankah lebih baik untuk hidup menjadi orang penuh cinta hari ini dan percaya pada diri sendiri?
Semuanya terdiam.

Kahoko menatap Hajime dengan senyuman puas, sambil mengangguk-angguk.
Hajime protes, ada apa dengan wajahmu itu yang terlihat ibarat seorang istri yang memuji suaminya ‘kau melakukannya dengan baik’?!
Kahoko berkata, belakangan saya menyadari sesuatu, setiap kali kamu menyampaikan sesuatu yang baik, kamu akan memperlihatkan wajah ‘bagaimana kata-kataku tadi, hah?’  (Intinya wajah ingin dipuji? hehhehehhehe).
Tiba-tiba Hajime dan Kahoko malah larut dalam dunia mereka berdua, tak peduli kalau yang lain disana melihat mereka berdua HAHAHAA. Aku pikir bakalan ada yang protes ‘kalian berdua ngapain’ tapi ternyata nggak ada HAHAHAHA, saya sedikit kecewa.

Kahoko kemudian melanjutkan kalau Hajime pernah menyampaikan bersumpah dalam sakit maupun sehat, lantaran itu ia pikir paman dan bibinya yang mengalami problem ibarat kini ini seharusnya tidak berpisah lantaran hal itu. JIka mereka berdua masih ingin bersama, seharusnya mereka tetap bersama.
Ia mendorong paman untuk duduk disamping Tamaki-chan dan menyampaikan kalau mereka berdua kelihatan manis bersama-sama, bahkan hari ini pakaian mereka sama-sama biru. Tamaki dan Mamoru saling pandang.
Yang lain membisu saja menatap keduanya. Kahoko benar-benar berharap mereka berdua akan baikan lagi.
Mamoru tiba-tiba menangis dan Tamaki bertanya kenapa ia menangis.
Mamoru menyampaikan ia tak mengerti dirinya sama sekali, tapi semenjak ia menyerahkan surat cerai itu, ketika ia memikirkan mereka semua, ketika ia berfikir kalau mereka bukan lagi keluarga, itu membuatnya menjadi murung dan kesepian. Kau tahu, Tama-chan, kebiasaan minumku dan kebiasaanmu mencuri di toko, bukankah kamu pikir kalau kedua itu yang akan menciptakan kita selalu bertengkar, lantaran kita tak sanggup menghentikannya? Kalau memang begitu, ibarat yang Kahoko dan Hajime katakan, Bukankah kita seharusnya mencoba percaya bahwa akan ada banyak hal-hal baik yang akan tiba pada kita selama kita tetap hidup bersama? Apa yang ingin saya katakan adalah, saya ingin selalu bersamamu dan semua orang disini juga!

 

Tamaki terharu mendengarnya, ia menggenggam tangan Mamoru dan mengangguk setuju, ia menyampaikan mereka berdua akan menjadi role model untuk Hajime dan Kahoko, mereka akan pertanda kalau mereka berdua tak akan gampang dipisahkan meski keadaan sesulit apapun.
Pada akhirnya, Mamoru dan Tamaki berbaikan lagi, Kahoko dan yang lain senang sekali.
Kakek kemudian bersemangat untuk mengambil foto semuanya dan mereka bersiap, tapi tiba-tiba Kahoko menyampaikan kalau mereka belum boleh melakukannya.
Kakek bertanya kenapa?
Kahoko gres menyadari kalau Ito tidak ada disana. Ayah dan ibu Ito berterima kasih lantaran Kahoko mengingat Ito. Mereka menyampaikan apapun yang terjadi mereka akan membawa Ito kembali. Karena itu mereka meminta kakek menunda pengambilan foto keluarga.
Kakek mengerti. Semuanya juga setuju. Ibu yang biasanya keras bahkan hari ini setuju. Ia dan Kahoko saling pandang dan tersenyum.

Ito sendiri hari itu membawa cello-nya ke toko alat musik, ia akan menjualnya.
Tiba-tiba Kahoko dan Hajime tiba dan menyampaikan kalau mereka tidaka akan menjual cello itu. Kahoko bahkan mencurinya dan berlari membawa Cello yang tingginya hampir setinggi badannya itu. Pokoknya lucu banged, cello itu gede dan mitsuki kecil hehhehhehe.
Kahoko kabur, Ito mengejarnya. Pada jadinya Ito sanggup menyusulnya dan Kahoko terus berusaha mempertahankan cello itu, Ito dihentikan menjualnya. tapi Ito menyampaikan kalau cello itu yaitu miliknya, jadi terserah beliau mau menjaulnya atau tidak.
Mereka berdua rebutan cello ketika Hajime tiba dan mencoba menenangkan mereka, tapi cello itu malah mengenai dagu HAjime dan ia terjatuh ke tanah HAHAHAHA, kayaknya sakit banged.

Kahoko dan Ito masih berebut cello itu dan Kahoko menyampaikan kalau Ito memang mau menjualnya maka ia akan membelinya, 1 juta? 2 juta? 3 juta yen? beliau tak masalah, beliau punya uang sebanyak itu, kalau Ito minta lebih beliau sanggup meminjam uang.
Ito benar-benar tak mengerti kenapa Kahoko mau membelinya lantaran KAhoko sendiri tak sanggup bermain cello. Kahoko menyampaikan ia akan menyimpannya dan kalau Ito membutuhkannya nanti ia akan menjualnya lagi atau ia akan memberikannya secara percuma.
Ito jadi kesal kenapa Kahoko selalu ikut campur urusannya dan Kahoko menyampaikan itu lantaran mereka yaitu keluarga.
Ito mengingatkan ia tak pernah menganggap Ito keluarganya dan Kahoko menyampaikan ia tak peduli lantaran ia akan terus menganggap Ito keluarga, tak peduli seberapa besar Ito membencinya ia akan terus melindungi Ito. Karena ia sudah berjanji pada nenek.
Ito menyampaikan Kahoko sangat ndeso dan Kahoko mengakuinya, lantaran itu ia ingin bertengkar dengan Ito ketika mereka sedang merasa buruk, ibarat ibunya, ibu Ito dan Tamaki. Karena sama sepertinya, Ito tidak punya saudara.
Ito terdiam.

Hajime yang sakit dagunya sudah sembuh bangun dan menyampaikan sesudah ia menjadi pecahan dari keluarga mereka, ia juga akan tetap berisik ibarat Kahoko. Karena ia menyukai Ito yang bermain cello.
IA sendiri menyadari apa yang ingin ia lukis belakangan ini sesudah bertahun-tahun memikirkannya, itu lantaran Kahoko menyampaikan lukisannya menciptakan orang bahagia, ia juga ingin menciptakan lukisan yang menciptakan orang lain bahagia.
Ia yakin Ito juga sanggup menciptakan orang lain senang dengan musiknya, bahkan lebih senang dari apa yang ia lakukan. Karena itu ia juga tak sanggup membiarkan Ito melepaskan mimpinya ibarat ini. Jangan membuang apa yang ia sukai.
Ito melamun mendengarkan keduanya. Kahoko memberikan cello itu kembali pada Ito.

Kahoko dan Hajime pulang berdua, ia bertanya-tanya apakah Ito akan baik-baik saja.
Hajime menyampaikan Ito sudah berjanji tidak akan menjual cellonya, yang sanggup mereka lakukan kini yaitu percaya pada Ito.
Kahoko mengerti. Hajime menyampaikan kini saatnya mereka memikirkan problem mereka berdua. Ia pikir ia akan meminta izin sekali lagi pada orang renta Kahoko untuk meminta restu, meskipun ia sangat nervous.
Kahoko menyampaikan mereka belum sanggup melaksanakan itu. Hajime terkejut, kenapa?
Kahoko menyampaikan ada satu lagi yang harus ia lakukan.

Kahoko dan HAjime pergi ke rumah kakek dan nenek Kahoko dari pihak ayah, ia ingin tau bagaimana dengan planning bibinya untuk menciptakan kawasan penitipan anak.
Kakek dan nenek terlihat sangat kelelahan lantaran bibi terlalu bersemangat mengenai hal itu dan tidak membiarkan mereka istirahat. Ia sudah mengumpulkan banyak sekali hal dan menyampaikan pada Kahoko kalau mendapatkan izin dan akta training tampaknya tidak akan sulit.
Bibi berterimakasih pada ayah dan ibunya lantaran sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta dan itu menciptakan nenek dan kakek menangis lantaran ini pertama kalinya anak perempuannya begitu.
Kahoko kemudian bertanya apa yang akan bibi lakukan selanjutnya, mengenai pegawai dan juga tentu saja biaya, mengingat bibi juga masih punya hutang problem yang dulu. Bibi menyampaikan pada Kahoko untuk tidak mengkhawatirkan hal itu, lantaran ia akan memikirkan solusinya nanti.
Tapi Kahoko menyampaikan orang yang bilang ‘aku akan memikirkannya nanti/I’ll figure something out for that’ yaitu tanggapan orang yang tidak punya solusi.
Kakek akan menyampaikan kalau ia akan memikirkannya besok, tapi ia sadar ia tak boleh menyampaikan besok dan besok lagi.
Kahoko tersenyum lantaran kakeknya tidak kembali ibarat dahulu dan menyampaikan kalau ia punya 2 permintaan.

Permintaan pertama yaitu Kahoko ingin mereka memakai uang simpananya untuk membayar hutang. Ia mengeluarkan buku tabungannya. Bibi terkejut dan ia bersemangat tapi nenek tentu saja menolak, mereka tak sanggup memakai uang cucu mereka.
Kahoko menyampaikan tidak apa-apa, lantaran ia tidak pernah memakai uang itu. Selain itu ini berafiliasi dengan permintaannya yang kedua.
Permintaan kedua Kahoko yaitu ia ingin bekerja bersama mereka, ia akan bekerja keras untuk memperoleh akta merawat anak.
Ia bertanya pada Hajime apakah ia sanggup melakukannya, dan tentu saja Hajime setuju.
Kahoko senang mendengarnya.

Kahoko kemudian berterima kasih dan berdiri disamping Hajime, dan menyampaikan kalau ia akan menikah dengan Hajime, jadi ia ingin mereka memberi restu.
Kakek, nenek dan bibi senang mendengarnya. Mereka pribadi memberi restu pada Kahoko dan meminta Hajime menjaga Kahoko dengan baik.
Kakek kemudian menanyakan mengenai pesta pernikahan, tapi Kahoko dan Hajime saling pandang. Kahoko menyampaikan mereka belum memikirkan hal itu dan Hajime menambahkan kalau mereka hanya akan mendaftarkan pernikahan.
Kakek dan nenek menyampaikan itu tidak baik, lantaran ini yaitu event sekali seumur hidup, mereka harus mengadakan pesta.
Kahoko dan Hajime sebetulnya ingin melakukannya, tapi mereka belum mendapatkan restu ayah dan ibu. Kakek menyampaikan kalau begitu mereka harus cepat-cepat mendapatkan izin orang renta Kahoko. Selagi mereka minta izin, keluarga kakek akan melaksanakan sesuatu mengenai pesta janji nikah itu.
Tiba-tiba mereka bertiga jadi bersemangat lantaran mereka akan semakin sibuk.
Hajime dan Kahoko saling pandang, kini tinggal problem mereka berdua, mereka harus segera mendapatkan restu ayah dan ibu.

Hajime dan Kahoko menemui orang renta Kahoko.
Ibu masih memakai masker dan menatap dengan tajam. Sementara Kahoko ingin menyampaikan sesuatu tapi ia tak sanggup mengatakannya, mulutnya mangap mangap dan ayah berkomentar kalau verbal Kahoko ibarat ikan mas yang minta makan HAHHAHAHAHA.
Kahoko menatap Hajime dan keduanya sama-sama mengangguk, untuk mulai bicara. Kahoko bicara pada ayah dan ibunya mengenai ia yang akan mengambil lisensi child care untuk bekerja di penitipan anak (sebenarnya bukan penitipan anak sih, susah menjelaskannya, pada dasarnya kawasan yang akan dibangun itu merangkap sebagai panti asukan, perawatan anak, sekolah semacam Taman Kanak-kanak / PAUD gitu) milik bibinya. sebagaimana ayah dan ibunya yang melindunginya hingga sekarang, ia juga ingin melaksanakan hal yang sama untuk bawah umur lain. Ia pernah menyampaikan kalau ia ingin bekerja untuk menciptakan orang lain bahagia, dan ia sudah menemukan apa yang ingin ia lakukan. Ia meminta ayah dan ibunya memberi izin untuk mengambil pekerjaan ini.
Ayah menatap ibu tapi ibu membisu tak bereaksi, jadi ayah menjawab kalau ia mengizinkan jikalau itu yang Kahoko inginkan.

Kemudian Kahoko masuk ke topik kedua, yaitu mengenai pernikahan, ia dan Hajime berencana mendaftarkan janji nikah mereka rabu depan.
Ayah cukup kaget lantaran keduanya terkesan sangt buru-buru.
Kahoko menyampaikan kalau Hajime juga oke ketika ia menyampaikan ia ingin janji nikah di daftarkan pada hari itu. Tapi mereka tidak berencana mengadakan pesta pernikahan. Saat ia meminta restu kakek, kakek menyampaikan Kahoko harus melaksanakan pesta pernikahan. Saat ia menyampaikan mereka tidak punya waktu mempersiapkan, menyewa kawasan dan lain sebagainya, paman Mamoru menyampaikan mereka sanggup mengadakannya di gereja bersahabat panti asuhan kawasan Hajime dirawat dulu.
Tamaki-chan juga bersemangat untuk mengurus dress dan Ibu Ito bersemangat mengenai wedding cake. Semuanya bersemangat mengenai janji nikah mereka dan pada jadinya semua planning selesai dalam 1 pembicaraan.
Ayah kemudian bertanya dimana mereka akan tinggal sesudah menikah dan KAhoko menjawab kakek memberikan untuk tinggal bersamanya. Kahoko juga ingin melaksanakan itu, ia ingin menjaga kakek dan rumah itu sebagaimana nenek melakukannya.
Ibu terkejut mendengarnya. Kahoko kemudian meminta restu ayah dna ibunya untuk menikah dengan Hajime. Mereka berdua membungkuk.

Ayah menghela nafas, ia menatap ibu dan ibu masih tidak ada reaksi, jadinya ia mulai bicara, ia akan oke kalau mama juga setuju. Ia menyampaikan kalau ini mungkin terdengar kejam, tapi ia tidak ingin hubungan ibu dan anak putus hanya lantaran janji nikah mereka.
Kahoko mengerti dan bertanya pada ibu. Ayah ingin menyampaikan sesuatu pada ibu tapi tiba-tiba ibu malah menyela dan menciptakan Kahoko kaget, ternyata mama sudah sembuh dari sakitnya.
Ibu tentu saja menolak janji nikah ini. Ia terang menyampaikan jikalau Kahoko ingin menikah dengan Hajime maka hubungan mereka akan putus.
Kahoko tahu ibu pernah menyampaikan itu dan tentu saja ia tak mau melakukannya. Ibu mengerti dan ia juga tidak ingin melakukannya. Ia kemudian bertanya pada Hajime, Bagaimana denganmu? Kau yaitu seseorang yang berilmu bicara dan selalu menyampaikan hal-hal yang menarik (karena itu Hajime Attractive), meski kalian berdua menikah, bukankah kamu hanya akan menciptakan perempuan lain terpesona? Dan saya dengar kamu ingin melebihi Picasso, Apakah itu artinya kamu juga ingin memiliki banyak kekasih lebih dari Picasso?
Hajime tentu saja tidak mengerti, Kahoko sendiri juga gundah dengan arah pembicaraan ini.
Ibu melanjutkan kalau ia sudah mencari tahu kalau Picasso itu memiliki banyak wanita.

Hajime membenarkan problem picasso, tapi dalam kasusnya, meskipun ia terlihat begini, ia sama sekali tidak terkenal diantara wanita.
Kahoko membenarkan kalau Hajime tidak terkenal + tidak manis dalam hal percintaan.
Hajime sedikit tersinggung dan menyampaikan mendengar itu dari Kahoko melukai perasaannya HAHHAHAHAHAHA. (Well, Kahoko bener sih, Hajime ga manis dalam hal-hal romantis wkkwkkwkw).
Ibu kemudian melanjutkan, ia bertanya apakah Hajime yakin sanggup menciptakan Kahoko bahagia, lebih dari apa yang ia lakukan untuk Kahoko? Ibu menyampaikan sangat sulit baginya mendapatkan Kahoko, ia harus melalui banyak treatment hingga jadinya ia sanggup hamil dan melahiran Kahoko. Itu sebabnya jikalau ia melihat Kahoko diperlakukan dengan tidak baik, ia tak sanggup membisu saja. Bagi Hajime, jikalau ia dan Kahoko bercerai, Kahoko hanya akan menjadi orang ajaib baginya, tapi bagi ibu, beliau yaitu orang yang akan bertanggungjawab seumur hidup untuk Kahoko.
Ibu bertanya pada HAjime apa yang Hajime sanggup lakukan untuk Kahoko? Hal yang sanggup kamu lakukan padanya hanyalah mencintainya, bukan?

Hajime terdiam. Ia tidak sanggup menjawabnya, ia menunduk.
Kahoko terdiam, ia menatap ibunya dan Hajime.
Hajime kemudian mulai bicara, kini ini… saya sangat ketakutan hingga saya berfikir untuk kabur dari sini. Tapi, saya tidak akan melakukannya.  Karena saya tidak ingin berpisah dengan Kahoko-san. Karena saya ingin menjadi keluarga bersama Kahoko-san.
Semuanya terkejut, mereka menatap Hajime.
Hajime melanjutkan, Aku akan terus berada disisinya tak peduli hal apa yang akan datang, Aku tidak akan pernah melepaskan tangannya. Sampai saya mendapatkan restu ibu suatu hari nanti, saya akan bekerja keras.
Hajime kemudian menggenggam tangan Kahoko. Ibu menatap kesungguhan Hajime. Ia kemudian menunduk dan menghela nafas. Ia menyuruh mereka melaksanakan apa yang mereka suka.
Ibu meninggalkan kawasan itu dan masuk ke kamarnya. Ayah khawatir dan mengejarnya. Hajime dan Kahoko saling pandang.

Continue Reading

More in Dorama

To Top