Connect with us

Locafest.co.id

[Sinopsis] We All Cry Differently Part 2 Final

KBS Drama Special

[Sinopsis] We All Cry Differently Part 2 Final

—————————————————————————————————-
Sinopsis KBS Drama Special We All Cry Differently Part 2

Saat sarapan pagi, Ji Hye dengan hati-hati bertanya pada ibunya kenapa ibunya menceraikan ayahnya dulu.
Ibu cukup kaget kenapa Ji Hye tiba-tiba menanyakannya, mmebuat selera makan ibunya hilang. Ibunya menebak Ji Hye bertanya alasannya persoalan uang untuk mencar ilmu ke luar negeri lagi. Tapi Ji Hye menyampaikan bukan alasannya itu, apa ia tak boleh bertanya alasannya?
Ibu balasannya menyampaikan kalau ketika itu ayah punya banyak hutang, mereka bercerai ditengah-tengah kejaran para penagih hutang. Tapi bukan hanya itu, ayah Ji Hye pecandu alkohol. Ji Hye tumbuh setiap hari dan ayahnya makin parah, minum-minum setiap hari. Karenanya mereka memutuskan bercerai. Ibu menyampaikan Ji Hye cukup beruntung alasannya ia masih kecil ketika itu jadi tak ingat apa-apa, tapi kakaknya Ji Han ingat dengan terang saat-saat itu, makanya kakaknya jadi menyerupai kini ini.

Di sekolah, guru memanggil Ji Hye untuk memberi informasi dari dinas pendidikan bahwa mereka akan menyampaikan beasiswa bagi siswa berprestasi untuk biaya ke luar negeri itu. Mendnegar itu, Ji Hye sangat senang.

Ia dan Seung Yeon belanja di toko buku sepulang dari sekolah, Seung Yeon membelikan Ji Hye buku untuk membantunya ikut ujian. Seung Yeon bahu-membahu takut-takut kalau mau menyampaikan sesuatu pada Ji Hye, alasannya ia takut dianggap sombong hanya alasannya ia orang kaya. Ji Hye menyampaikan ia harus ikut ujian dulu yang diadakan dinas pendidikan dan kalau beliau berada di peringkat 3 besar, maka beliau akan diberi beasiswa. Dan kali ini ia mendapatkan niat baik Seung Yeon.

Saat Ji Hye dan Seung Yeon dalam perjalanan pulang ke daerah pemberhentian bus, ada sekelompok preman berkumpul, abang Ji Hye juga ada disana.
Salah satu sahabat kakaknya mengenali Ji Hye dan menyampaikan pada Ji Han kalau itu adiknya. Tapi Ji Han menyampaikan beliau bukan adiknya. Para preman mulai menganggu Ji Hye dan mereka berfikir kalau itu memang adik Ji Han. Ji Han awalnya membisu saja, tapi alasannya salah satu dari mereka mulai menyentuh Ji Hye, JI Han balasannya turun tangan. Ji Hye dan Seung Yeon segera kabur naik bis.
Teman Ji Hye resah ada apa dengan para preman itu dan Ji Hye membisu saja, ia tak menyampaikan kalau itu memang kakaknya.

Lalu, ia mendapatkan sebah telpon yang ternyata dari ayahnya dan Ji Hye bicara sembunyi-sembunyi, ia menentukan kata dengan hati-hati supaya Seung yeon tidak curiga.
Ayahnya masih  menanyakan mengenai tinggal serumah itu dan Ji Hye menyampaikan ia terlalu sibuk jadi belum menyampaikan pada ibunya.
Ia berbohong pada ayahnya kalau ia ada disekolah dan ayahnya pribadi menutup telpon. Seung Yeon bertanya siapa itu dan Ji Hye berbohong, menyampaikan itu sahabat ibunya. Seung Yeon berkata Ji Hye niscaya merasa sangat tidak nyaman hingga Ji Hye harus berbohong menyerupai tadi. Ji Hye hanya tersenyum kecut.

Ji Hye ada di rumah. Ia akan mengambil minuman di lemari es ketika ia melihat jangkrik disana dan ketakutan, ia bahkan memecahkan gelas. Ia masuk ke kamarnya menelpon ibunya untuk menyewa pembasmi serangga. Ibunya resah kenapa Ji Hye takut jangkrik tapi tidak takut pada kecoa. JI HYe tak peduli, alasannya jangkrik menciptakan bunyi tapi kecoa tidak. IBunya sedang sibuk jadi pribadi menutup telpon. Sementara ayahnya menelpon lagi dan Ji Hye sangat kesal, ia mematikan ponselnya.
Ia benar-benar tidak menyukai serangga yang mengeluarkan suara.

Dimalam yang sama, Ji Han berkumpul dengan teman-teman satu geng-nya dan ia menciptakan persoalan lagi.
Hal itu alasannya salah satu temannya yang tertarik pada Ji Hye, Ji Han menyampaikan beliau bukan adiknya, jadi temannya bertanya kenapa Ji Han marah, apakah Ji Han aib pada mereka, atau alasannya Ji Han takut ia akan melaksanakan sesuatu pada adiknya.
Temannya bilang kalau bahkan bila Ji Han menyampaikan adiknya, beliau tidak akan mau.
Ji Han jadi kesal dan memukul temannya itu. Temannya jatuh ke sungai dan terus memukulinya.

Keesokan harinya, Ji Hye di aturan di kelas alasannya ia tak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Seung Yeon berfikir JI Hye terlalu berkonsentrasi pada ujian makanya belakangan Ji Hye terlihat sangat kelelahan bahkan hingga lupa mengerjakan tugas.
Seung Yeon kemudian mengajak Ji Hye makan bersama ayahnya, alasannya ayahnya mengajak mereka. Awalnya Ji Hye menolak, tapi karean Seung Yeon menyampaikan perihal persoalan pendaftaran keluarga Ji Hye, Ji Hye balasannya ikut.

Keduanya tiba di kantor tapi ayah Ji Hye sedang ada klien.
Kaprikornus mereka menunggu. Saat klien ayahnya keluar, JI Hye terkejut, alasannya itu yakni Ibunya dan Ji Han. Seung Yeon mengenali JI Han sebagai preman yang dulu.
Ji Hye membisu saja. Ibu melihat mereka dan tentu saja ia pribadi memanggil Ji Hye, ia terkejut kenapa Ji Hye ada disana.
Ji Hye sangat kesa dan malu, ia kabur begitu saja.

Ibu dan Ji Han mengejarnya hingga di luar dan Ji HYe murka pada ibunya, kini persoalan apa lagi yang dilakukan kakaknya. Kenapa ibunya tiba ke kantor pengacara padahal Ji Hye sudah pernah menyampaikan kalau ayah Seung Yeon seorang pengacara.
Ji Han kesal melihat cara bicara Ji Hye pada ibu mereka dan Ji Hye menatap kakaknya dengan tajam, alasannya semuanya salah Ji Han. Ia menyuruh kakaknya memukulnya kalau memang mau memukul.
JI Hye menyampaikan kalau ia sangat aib dan seharusnya ia tidak di lahirkan di keluarga mereka. Ibunya tak tahan lagi dan menamparnya.
Ji Hye manangis dan kabur.

Ji Hye berjalan sendirian malam itu. Ia menangis dan bicara dalam hati.

“Cockroaches. A Family of cockroaches. A Family that even makes loud noises. And I’ve lived in that family of cockroaches, thinking that I’m human. But when my mom hit me, I realized it.  Ah… I was the cockroach in my family. Having to remain silent all the time. A cockroach.”

Ibu sangat khawatir pada Ji Hye alasannya ia belum pulang juga. Ia terus menelpon dan balasannya Ji Hye kembali ke rumah. Ibu bertanya kemana saja Ji Hye dan kenapa ia tak menjawab telponnya.
Ji Hye masih murka pada ibunya dan menyampaikan kalau ia akan tetap membisu dan tak akan menganggu jalan ibunya. IA ingin ibunya  jangan menganggunya.

Saat mencar ilmu untuk ujian, ayahnya terus menelpon. Ji Hye sangat kesal dan balasannya mengangkatnya. Ayahnya memulai pembicaraan dengan cara biasa dan masih bertanya apakah Ji Hye sudah menyampaikan pada ibunya mengenai permintaannya tapi Ji Hye menyampaikan ia sibuk dan ibu juga sibuk.
Ayahnya terus memohon alasannya ia tak mau hidup sendiri. Ji HYe menyampaikan ia ada ujian besok, jadi ia harus belajar. Ayahnya terdengar kesakitan dan menyerupai menangis, jadi Ji Hye berfikir ayahnya mabuk. Tiba-tiba ayahnya berkata pada Ji HYe biar Ji Hye jangan hidup menyerupai itu. Ji Hye bingung.
Ayahnya terus menyampaikan biar Ji Hye jangan hidup menyerupai itu dan Ji Hye menutup telponnya.

Keesokan harinya, Ji Hye mengikuti ujian, tapi ia tak sanggup berkonsentrasi alasannya bunyi ayahnya semalam-malam terngiang di telinganya, memintanya jangan hidup menyerupai ini.
Ia bahkan tak sanggup mengerjakan soal ujiannya alasannya bunyi di telinganya tidak sanggup hilang.
Selesai ujian, ia bertemu dengan Seung Yeon. Seung Yeon menyampaikan kalau Ji Hye terlalu banyak menyembunyikan sesuatu, ia ingin Ji Hye menyampaikan dengan jujur padanya kalau ada apa-apa.
Seung Yeon menyampaikan kalau ia orang yang terlalu berterus terang, bila ia suka ia akan menyampaikan suka, bila ia tak suka maka ia akan menyampaikan ia tak suka, makanya orang tidak mau berteman dengannya.

Ji Hye pulang ke rumah malam harinya dan melihat ibu dan kakaknya duduk di ruang tamu dengan mulut yang aneh.
Ji Hye bertanya ada apa. Ibu bertanya kenapa Ji Hye mematikan ponselnya dan Ji Hye menyampaikan kalau ia ada ujian jadi ia meninggalkan ponsel di rumah.
Ji Han menyampaikan kalau ayah mereka meninggal semalam, di jalanan. Mereka gres diberitahu hari itu alasannya ia dan Ji Hye ada di daftar nama keluarga ayah mereka. Ji Hye bertanya kenapa mereka tidak ke rumah sakit.
Ibu dan Ji Han masih ragu alasannya mereka belum tahu situasinya, alasannya Ji Han dan Ji Hye ada di daftar nama keluarga ayahnya, maka mereka takut hutang ayahnya masih banyak dan akan diwariskan pada Ji Han dan Ji Hye.
Ji Hye terdiam. Ia teringat ketika ia masih kecil dulu, pergi atau tidak, itu yakni pilihannya, ia bertanya-tanya apa pilihannya ketika ia masih kecil, apakah ia menentukan ibu atau ayahnya.

Saat ia masih kecil, ayahnya punya banyak hutang, ibunya bekerja hingga malam. Ia tinggal dirumah bersama abang dan ayahnya yang pemabuk. Ayahnya menjelma berbeda ketika mabuk. Di rumah ayahnya dulu ada banyak kecoa, alasannya itulah kenapa kakaknya masih takut pada kecoa, alasannya ia trauma.

Keesokan harinya, pulang dari sekolah, Seung Yeon di jemput oleh ayahnya. Ayah memperlihatkan tumpangan tapi JI Hye menolak. Ayah Seung Yeon tahu situasi Ji Hye jadi ia pikir mereka tidak mempermasalahkan pendaftaran keluarga lagi. Dan ayah Seung Yeon juga tahu kalau Seung Yeon belum pergi ke pemakaman ayahnya.

Ji Hye kembali memikirkan masa kemudian sembari pulang ke rumah. Ia ke kamar kakaknya dan mengambil surat ayahnya.
Saat kecil, ia diminta menentukan apakah ia harus ikut ayah atau ibu, ia gres ingat kalau ketika itu ia melihat wajah kakaknya tanpa ekspresi. Saat itu ayah dan ibunya bahkan tidak menanyakan kakaknya dan terus bertanya padanya ia akan ikut siapa.
JI Hye yang membaca surat dari ayahnya menyadari kalau di surat itu tidak ada membahas kakaknya, melainkan hanya dirinya dan ibunya.
Ji Hye gres menyadari ketika itu, ketika mereka masih kecil, salam wajah kakaknya tanpa mulut itu, kakaknya menangis sambil berteriak di dalam hati, ‘jangan pergi.’

Ji Hye menjemput kakaknya di daerah perkumpulan geng mereka dan bertanya kenapa kakaknya ada disana, ibu sudah menunggu di rumah.
Ji Hye menarik tangan kakaknya untuk ikut dengannya. Teman Ji Han melarangnya pergi tapi Ji Han menyampaikan ia akan segera kembali.

Ji Han, Ji Hye dan ibu duduk di ruang tamu. Ibu bertanya apakah mereka sudah menciptakan keputusan.
Ji Hye menyampaikan ia sudah bicara dengan ayah Seung Yeon, ayah Seung Yeon berkata mereka sanggup menciptakan surat menolak warisan dan alasannya hutang ayah Ji HYe bukan hanya dari bank, jadi sebaiknya mereka jangan pergi ke pemakaman (maybe ayahnya punya hutang dari lintah darat jadi takutnya ada mereka menunggu disana, kalau keluarga ada yang tiba sanggup jadi nanti ditagih ke keluarganya).
Ji Han menyampaikan mereka sanggup menulis surat itu besok dan ia akan pergi.
Ji Hye juga akan kembali ke kamarnya.

Ibu mulai menangis dan menyampaikan bila ayah mereka pergi meninggalkannya sehabis membuatnya menderita, seharusnya ayah mereka hidup dengan baik. Tapi kenapa ayahnya bahkan masih meninggalkan luka sehabis ia meninggal.
Ji Han menyampaikan kalau selama ini tanpa ayah mereka hidup dengan baik, mereka akan baik-baik saja tanpanya mulai dari sekarang. Mereka akan sanggup hidup dengan baik.
JI Han menyampaikan hal itu sambil menangis. Ji Hye juga menangis dalam diamnya. Ibu, JI Han dan Ji Hye menangis sedih.

“Dogs go woof woof, cicadas buzz. All three of us cried in different ways. My mom and my brother cried in their own ways. But I couldn’t hear them. That’s because I’d been blocking my ears. I think my dad’s final words were telling me to open my ears now. Just as the cockroaches survived because they don’t make a sound. Humans cry in order to survive. Each in their own way.”

Waktu berlalu, di rumah keluarga Ryu masih ribut menyerupai biasa di pagi hari.
Ji Han ribut alasannya nasi nggak masak-masak sementara ibu sibuk menciptakan lauk.
Ji Hye akan berangkat hari itu, ke Inggris, ia sibuk alasannya passpornya tidak ada.
Mereka sibuk mencari dimana passpor dan ternyata ada di koper Ji Hye.
Ibu menyuruh Ji Hye makan alasannya ia akan mengantar Ji Hye ke bandara tapi Ji Hye menyampaikan ia akan makan di bandara.
Ji Han mendekatinya dan memintanya makan nasi yang ia masak. Ji Hye terkejut, Oppa, kamu memasak nasi?
JI Han menyampaikan pada adiknya untuk tidak melupakan hadiah darinya.
JI Hye ragu alasannya tampaknya nasi mereka masih belum matang, ia akan pergi saja alasannya takut terlambat.
Tapi ibu menahannya, alasannya ia sanggup mematangkannya di microwife, ia tak sanggup membiarkan Ji Hye berangkat tanpa sarapan, alasannya meski Ji Hye menyampaikan akan makan di bandara, ia tak percaya.

Pada balasannya ibu dan Ji Han memaksa Ji Hye untuk tetap sarapan, bahkan tanpa nasi.
Ji Han mengambilkan daging dan meniupnya untuk Ji Hye, ibu ikut meniupnya. Ji Hye hanya makan sedikit yang menghabiskan yakni Ji Han.
Pada balasannya mereka bertiga tersenyum senang dan ketika itulah nasi matang.
Ji Hye tersenyum berkaca-kaca, untuk selanjutnya mereka akan terus melanjutkan hidup dengan bahagia.

-THE END-

Komentar:

awwwwwww.
Aku nggak nyangka kisahnya anggun juga ternyata. Sebenarnya saya sudah punya drama ini semenjak usang tapi belum saya tonton HAHAHHAHA.
Entah kenapa malah jadi bikin sinopsisnya aja, alasannya kebetulan hanya 1 episode jadi gampang, nggak perlu kepikiran bakal boring di tengah jalan.

Awalnya saya agak gimana gitu sama korelasi Ji Hye, Ji Han dan ibu mereka. Kok kayaknya garang gitu. Tapi well, saya mengerti. Meski mereka kelihatan begitu, bahu-membahu mereka saling mencintai. Mereka saling perhatian satu sama lain. Hanya alasannya mereka jarang berkumpul bersama jadinya mereka agak kaku. Tapi melihat Ji Han dan Ji Hye jadi ingat saya dan adik aku. waktu masih tinggal serumah kami juga sering bertengkar begitu, rebutan remote TV, tendang sana sini, bertengkar, menangis dan lain sebagainya, tapi alasannya saudara jadi cepat baikannya.
Tapi lucu juga ya melihat Ji Han takut sama kecoa HAHHAHAHA. Cowok lho. Tapi jangan salah sih, perjaka juga banyak yang begitu wkwkwkwkkw.

Saat Ji Hye diminta menentukan antara ayah dan ibunya, bahu-membahu saya juga bettanya-tanya sih, kenapa ayah dan ibu hanya berebut Ji Hye, kenapa mereka nggak bertanya Ji Han. Aku pikir mungkin alasan itu Ji Han jadi benci adiknya. Untung beliau nggak benci.
Dan pada akhirnya, siapa yang dipilih Ji Hye? Aku rasa JI Hye menentukan bersama kakaknya ketika itu, jadi kemana kakaknya, ia ikut. Makanya ibunya membesarkan mereka berdua. Aku duka banged ketika Ji Hye menyampaikan ketika itu kakaknya membisu saja tanpa mulut dan ia tahu kakaknya menangis dalam hati memintanya jangan pergi.

Menurutku unik banged drama ini memakai bunyi serangga sebagai sesuatu yang berbeda. Biasanya ya di drama atau movie yang saya tonton, bunyi serangga itu yummy di dengar, termasuk ada bab romantisnya. Pokoknya bunyi serangga animo panas itu eank banged didengar. Tapi di drama ini kita diperlihatkan sisi lain, dimana tokoh utamanya nggak suka bunyi serangga animo panas. Ia malah menyukai kecoa HAHAHAHHA. Alasannya alasannya nggak berbunyi.
Ia benci bunyi serangga itu alasannya teringat akan kenangan animo panasnya yang dulu ya, ketika ayah dan ibunya berpisah.

Aku suka dengan Seung Yeon. Aku pikir beliau bakalan jadi antagonis gimana gitu, ternyata beliau baik ya. IA bahkan menyadari kalau dirinya bersalah setiap kali ia berniat membantu Ji Hye, menyerupai persoalan uang atau memeblikan buku. Ia berniat baik sih dan Ji Hye juga tahu akan hal itu. Aku suka pertemanan mereka. Setidaknya Seung Yeon tidak menjauhinya ketika tahu keluarga Ji Hye menyerupai itu.
Ayah Seung yeon juga baik pada Ji Hye, tidak melarang anaknya berteman.

 

 BTW saya suka banged kalau Kim So Hyun tuh meranin huruf menyerupai ini. Bukan pure baik tapi ada sisi jahatnya. Dia memang memulai karirnya dengan banyak memerankan kiprah antagonis, jadi kesannya dapet banged. Pengen beliau lebih sering menentukan peran-peran yang ada disis jahatnya. Kelihatan banged aktingnya keren.

Continue Reading

More in KBS Drama Special

To Top